Posts

Sarma: Representasi Anak Perempuan Kebanyakan

Image
Film dengan  background  budaya tertentu always hit audiences at its best!  Kaya film Yo Wis Ben misalnya yang fokus ngangkat kultur remaja Malang sampe bikin tembus jutaan penonton. Kalo kata Ernest Prakasa sih, suatu film akan berkesan atau dianggap bagus sama orang kalo tingkat  relatability nya tinggi dan karena itu lah film dengan latar belakang daerah atau suku tertentu jadi punya chance lebih besar.   Ngeri-ngeri Sedap juga gitu, latar belakang Medan dengan Suku Batak jadi daya tarik paling kuat buat penonton. Apalagi genre filmnya drama keluarga, ceritanya akan relate  ke lebih banyak orang karena target jangkauan umurnya juga jadi lebih luas, dari anak sampai orang tua.  But in my personal opinion what makes this movie seems different even so special is how Bene bring up the gender issue on the table . Coba, ada berapa anak perempuan yang agreed  sama scene Sarma speakup?  Yeay, nambah satu lagi nih koleksi film Indonesia yang bicara...

Midsommar: A Cultural Practices of Making Sense of Suicide

Image
Jujur dulu, sebenernya film ini udah lama banget aku review TAPI aku share di instagram story . Nah, karena sekarang aku lagi cukup gabut di tengah-tengah sibuknya  work   (thesis sih) from cafe,  mari kita pindahin aja reviewnya ke sini agar supaya! Well, who's screaming and disturbed by seeing (or maybe heard) this particular scene on Midsommar as I am?????  Aku team  nutupin mata pakai telapak tangan pas nonton adegan ini!   Oke, singkatnya, scene  ini tuh memperlihatkan Attestupa atau ritual bunuh diri di masyarakat Harga yang lagi dilakukan sama dua orang tua dengan cara loncat dari tebing yang tinggi banget (BANGET WOY). What makes it even scarier  tuh, kalo setelah loncat orangnya nggak meninggal, dia akan literally  dihancurkan sampai beneran hilang tanpa sisa. Salah satu tokoh ditumbuk sesaat setelah dia mendarat dan masih bernyawa. Dan proses tersebut menjadi ritual sakral yang disaksikan dengan mata telanjang sama semua orang ...

Selesai: A "Public Arena" of Marital Infidelity in Men's Perspective

Image
  "...bagus lah, aku doain nanti suami kamu setia, gak suka selingkuh, fokus sama kamu aja walaupun banyak banget di luar sana perempuan-perempuan kegatelan." Sebagai kalimat penanda pertama kalo Selesai memang berangkat dari sudut pandang laki-laki.  *** Ok. Intinya Selesai nyeritain tentang prahara rumah tangga Broto dan Ayu yang memuncak dimasa pandemi. Ayu mergokin suaminya selingkuh (lagi) makanya, "Kali ini aku mau cerai!" kata Ayu sambil bergegas mengemas baju ke dalam koper, menggotongnya menuruni tangga, dan hendak pergi dari rumah. Keadaan tersebut diperkeruh karena tiba-tiba, ibunya Broto datang, pengen menghabiskan masa-masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di rumah Broto katanya. Terus gimana itu kasus perselingkuhan dan luapan amarahnya kalo di rumah ada mertua?  Kamu bisa nonton langsung filmnya yaa, masih ada  kok  dibioskop online, harganya Rp40.000. Nah, beberapa hari lalu film Selesai yang disutradarai Tompi ini sempet jadi buah bi...

Mary Kills People: the Culture of Death

Image
"Any human connection is hard but dying was way more harder, I promise you. Dont be afraid, love doesn't kill, its life itself, and shines with heavenly joys."   *** I do believe that we will always learn new things from movies! That's why I do love watching film so freaking much. And what i learned this time is Euthanasia, ada yang udah tau that unpopular weirdo word? Ok, sedikit cerita tentang Mary Kills People. Basically , film ini nyeritain tentang proses escaping  Mary dan kedua temannya; Bennet & Annie, yang diem-diem buka praktik ilegal yaitu euthanasia di Canada. Iya, based on my research, medically assissted dying  memang baru legal di Canada pada tahun 2016. Let's do check their personal background!  Mary adalah ER doctor ( Emergency Room doctor  alias dokter jaga di IGD), sedangkan Bennet adalah mantan dokter bedah plastik (yup, its because  izin praktiknya dicabut karena dia pernah ketangkep basah sedang dibawah pengaruh obat-obatan ketika...

Gerald's Game: The Actual "Monster" for the Subaltern

Image
" His shackles were silence and his were comfort" *** This movie is recommended by one of the most influential people in Indonesia , alias Rachel Vennya. Beberapa waktu lalu dia sempet buka highlights  baru yang isinya rekomendasi film dan Gerald's Game adalah salah satunya. Jujur ngerasa tertarik buat nonton dan akhirnya buru-buru nonton setelah (hampir) semua deadline paper  selesai tuh  karena Rachel bilang kalau film ini jenisnya mirip-mirip Gone Girl  yang plot twist  gitu. Dan setelah selesai nonton, aku sepakat kalau film ini bagus. BA-NGET   (ya setidaknya buat w yang emang punya interest  soal perempuan dan kekerasan seksual). Ok, tanpa basa-basi lagi, kita coba share  ya kira-kira apa aja yang aku tangkep dari film ini. Oh, iya, it would be a huge spoilers  ya, jadi buat yang emang pengen nonton mending bacanya berhenti sampai sini, nonton dulu, ntar balik lagi kalo udah kelar nonton :D. Basic nya Gerald's Game n...

Bima & Dara: Potret Konstruksi Gender dalam Dua Garis Biru

Image
Growing up, What are we supposed to see, to feel, to meet? Growing up, What are we supposed to miss, to keep, to leave? Cause when it hurts, it hurts me. And when it hurts, still hurts every time. One leaves, one ceases. Biarkan penggalan lagu tersebut menjadi pengantar yang menggambarkan that we are actually growing up with no clue. We are all clueless. Can anybody tell me? *** Bima & Dara. Mereka adalah dua anak kelas 3 SMA yang lagi jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Disuatu siang sepulang sekolah tepat di atas tempat tidur di dalam kamar Dara, keduanya terbawa suasana dan dengan segala ketidaktahuan, mereka melakukan hubungan seks, “Kamu…. jangan bilang siapa-siapa ya, Bim”. Sejak saat itu hidup Bima dan Dara berubah. Dara is unpredictably pregnant , keduanya panik bukan main, baik Dara dan Bima nggak ada yang berani untuk cerita sama orang-orang terdekat; keluarga, bahkan aborsi sudah hampir mereka lakukan karena dianggap sebagai sebuah jalan keluar. They ...