Sarma: Representasi Anak Perempuan Kebanyakan
Film dengan background budaya tertentu always hit audiences at its best! Kaya film Yo Wis Ben misalnya yang fokus ngangkat kultur remaja Malang sampe bikin tembus jutaan penonton. Kalo kata Ernest Prakasa sih, suatu film akan berkesan atau dianggap bagus sama orang kalo tingkat relatability nya tinggi dan karena itu lah film dengan latar belakang daerah atau suku tertentu jadi punya chance lebih besar. Ngeri-ngeri Sedap juga gitu, latar belakang Medan dengan Suku Batak jadi daya tarik paling kuat buat penonton. Apalagi genre filmnya drama keluarga, ceritanya akan relate ke lebih banyak orang karena target jangkauan umurnya juga jadi lebih luas, dari anak sampai orang tua. But in my personal opinion what makes this movie seems different even so special is how Bene bring up the gender issue on the table . Coba, ada berapa anak perempuan yang agreed sama scene Sarma speakup? Yeay, nambah satu lagi nih koleksi film Indonesia yang bicara...