Bima & Dara: Potret Konstruksi Gender dalam Dua Garis Biru

Growing up,
What are we supposed to see, to feel, to meet?
Growing up,
What are we supposed to miss, to keep, to leave?
Cause when it hurts, it hurts me.
And when it hurts, still hurts every time. One leaves, one ceases.

Biarkan penggalan lagu tersebut menjadi pengantar yang menggambarkan that we are actually growing up with no clue. We are all clueless.

Can anybody tell me?

***

Bima & Dara. Mereka adalah dua anak kelas 3 SMA yang lagi jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Disuatu siang sepulang sekolah tepat di atas tempat tidur di dalam kamar Dara, keduanya terbawa suasana dan dengan segala ketidaktahuan, mereka melakukan hubungan seks, “Kamu…. jangan bilang siapa-siapa ya, Bim”. Sejak saat itu hidup Bima dan Dara berubah. Dara is unpredictably pregnant, keduanya panik bukan main, baik Dara dan Bima nggak ada yang berani untuk cerita sama orang-orang terdekat; keluarga, bahkan aborsi sudah hampir mereka lakukan karena dianggap sebagai sebuah jalan keluar. They keep it as a secret. Sampai tiba disuatu siang waktu pelajaran olahraga berlangsung, tendangan bola dari salah satu teman Bima menghantam kepala Dara dan saat itulah semuanya terungkap. “Kamu nggak apa-apa? Apa, apa yang sakit bilang sama aku?” Kata Bima yang langsung menghampiri Dara ke pinggir lapangan. “Aku pusing banget, perutnya keram, terus ini bayinya gimana?”. Semua orang yang mengerubungi Dara tersentak, lalu pihak sekolah mulai bertindak. And all the drama begin. 

Melalui cerita dengan latar belakang tersebut, bagiku pribadi film ini cukup menggambarkan sebuah definisi sosial budaya dari laki-laki dan perempuan khususnya di Indonesia.
The whole story, ekspresi, dan dialog pada banyak scene menyajikan potret-potret konstruksi gender dalam kehidupan sehari-hari yaitu gimana sih masyarakat kebanyakan menentukan apa yang dianggap pantas untuk laki-laki dan perempuan, terutama dalam menanggapi masalah hubungan seks diluar pernikahan (dalam kasus ini) pada usia dini.

Keputusan yang Tidak Berpihak Pada Perempuan

Sejak kehamilan Dara terungkap, pihak sekolah langsung memanggil kedua orangtua Bima dan Dara. Di dalam ruang UKS di sekolah (
a one take long shoot scene yang bener-bener memorable dan “ngena” banget karena bisa dengan baik memperlihatkan emosi dari semua tokoh), dimana Dara sedang tertidur lemas di atas tempat tidur dan semua pihak dari kedua keluarga berdiri di depan Dara, kepala sekolah menyampaikan bahwa kasus ini menyebabkan Dara harus menerima konsekuensi untuk dikeluarkan dari sekolah sedangkan Bima nggak. Orangtua Dara marah bukan main, “Kenapa cuma anak saya yang dikeluarin? Kenapa dia (menunjuk Bima) juga nggak sekalian dikeluarin!”. Pak Kepsek kemudian bilang, “Maaf, bu, kami bisa saja tidak mengeluarkan Dara, tapi dengan kondisinya yang seperti ini, apakah Dara akan sanggup?”. Ada jeda sebentar, lalu orangtua Bima melontarkan argumennya, “Lagi pula, kalau Bima juga dikeluarkan, terus bagaimana mereka bisa mencari nafkah untuk bertahan hidup?” Resiko dari perbuatan yang dilakukan berdua ini seperti hanya dibebankan kepada Dara. Karena Dara perempuan, dia dianggap (physically & psychologically) tidak akan mampu untuk menghadapi kegiatan pembelajaran di sekolah, kemudian karena Bima laki-laki and for the sake of “supaya bisa bertahan hidup” Bima jadi punya benefit untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Kalau mau bicara tentang keadilan, harusnya baik Dara maupun Bima dikeluarkan dua-duanya atau keduanya sama-sama diberikan kesempatan untuk tetap melanjutkan sekolah, karena sebenarnya gak ada lho hubungan antara jenis kelamin dengan alasan-alasan yang disebutkan, mereka harus dapat konsekuensi yang sama. Emangnya Bima nggak terbebani fisik dan psikisnya? Emangnya Dara nggak bisa mencari nafkah? That’s what gender construction are called.

Atau kita bisa bicara “adil” dari sisi yang lain. Dalam film ini Dara digambarkan sebagai perempuan yang unggul dalam bidang akademis. Nilai ujiannya selalu bagus bahkan sempurna. Dia juga termasuk orang yang bisa dibilang
well-panned terutama soal masa depan. Dia udah punya planning untuk ngerealisasiin cita-citanya; ke Korea. Habis lulus SMA dia bakal berusaha buat cari beasiswa untuk bisa kuliah di Korea, sejak masih sekolah dia juga udah nyicil belajar bahasa Korea. Sebaliknya, tokoh Bima digambarkan sebagai laki-laki yang secara akademis nilainya pas-pasan bahkan cenderung kurang karena nilai ujiannya selalu dapat peringkat paling rendah. Dia juga bukan anak yang future oriented, dia masih nggak tau habis lulus SMA nanti akan melakukan apa; kuliah atau kerja. Bima juga nggak dijelaskan punya hobi atau bakat tertentu. Based on that illustration about the character, harusnya Dara dong yang dikasih kesempatan untuk lanjut sekolah, karena Dara yang sebenernya lebih potensial untuk punya pekerjaan yang layak sehingga bisa punya kehidupan yang lebih baik secara finansial. Tapi konstruksi gender membuat Dara nggak punya kesempatan itu.

Perempuan dan Tanggung jawab Domestik

Basically,
kita bisa mengelompokkan pekerjaan (kegiatan) ke dalam tiga jenis yaitu kegiatan produktif, reproduktif (domestik), dan sosial. Kegiatan produktif meliputi berbagai kegiatan yang pada dasarnya menghasilkan uang, lalu kegiatan reproduktif meliputi kegiatan domestik yang tidak menghasilkan uang kaya memasak, membereskan rumah, mencuci pakaian, membeli bahan makanan, mengantar jemput anak sekolah, dan lain-lain, kemudian kegiatan sosial adalah kegiatan bermasyarakat. Konstruksi gender membuat masing-masing jenis kegiatan tersebut ditujukan kepada jenis kelamin tertentu; kegiatan produktif (in other words kegiatan mencari nafkah) tanggung jawab utamanya diberikan ke laki-laki (hal ini juga yang menjadi dasar keputusan pihak sekolah untuk memberikan Bima kesempatan melanjutkan sekolahnya sampai selesai) sedangkan kegiatan domestik sangat identik dengan perempuan karena umumnya tanggung jawabnya memang diberikan ke perempuan secara penuh, bahkan bekerja atau tidak perempuan tetap diwajibkan untuk mengemban tanggung jawab pada kegiatan domestik. Pembagian kerja tersebut didasari atas pengetahuan masyarakat tentang apa yang seharusnya dan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. 

"Kamu pikir gampang jadi orang tua? Mama aja gagal!”

Masih pada
scene UKS yang fenomenal itulah kalimat tersebut terucap dari mulut seorang ibu sambil diderai air mata. Dilanjutkan dengan, “Kamu mau tanggung jawab kan? Iya kan? Mulai hari ini!” dan kedua orang tua Dara pun meninggalkan ruang UKS.

Lalu seusai sholat berjamaah Ibu Bima bilang, “Kalau bapak tau, ibu tuh sekarang udah malu buat jualan karena ibu tau persis kalau orang satu kampung lagi ngomongin keluarga kita.”

Kemudian adegan Ibu Bima menampar wajah Bima di UKS, adegan melempar ulekan batu di dapur, dan adegan-adegan lainnya. Hal-hal tersebut adalah gambaran nyata dari hancurnya hati seorang ibu. Bukan berarti bapak tidak hancur hatinya, tapi kalau dibandingkan, film ini cenderung memperlihatkan kekecewaan dan kesedihan seorang ibu. Mungkin gak banyak orang yang sadar kalau itu semua ada kaitannya dengan tanggung jawab ibu pada kegiatan domestik. Merawat anak adalah salah satu contoh kegiatan domestik yang tanggung jawabnya diberikan penuh kepada perempuan. Jadi ketika ada masalah yang berkaitan dengan pengasuhan anak, budaya patriarki ini secara nggak langsung akan “menyalahkan” perempuan atau membuat perempuan sendiri merasa bahwa itu adalah kesalahan dia; bentuk kegagalan perempuan dalam menjalankan tanggung jawabnya. Kalau diperhatikan, selama film berlangsung, nggak ada kalimat-kalimat semacam “saya gagal jadi bapak” yang terlontar dari laki-laki. Bandingkan dengan film Keluarga Cemara yang dasar masalahnya adalah soal finansial (dimana dalam konstruksi gender, tanggung jawab mencari nafkah diberikan kepada laki-laki), Abah otomatis langsung merasa gagal sebagai kepala keluarga ketika masalah tersebut menimpanya, dan yang banyak diperlihatkan dalam film adalah kesedihan, kekecewaan, dan keputusasaan si Abah sedangkan tokoh-tokoh perempuan (walaupun sama sedih dan kecewanya) seperti Emak, Euis, dan Ara diperlihatkan lebih legowo dan bisa menerima.

Stereotype
Maskulin dan Feminin 

Waktu Dara sadar kalau sampai saat itu dia belum datang bulan, dia langsung ngajak Bima untuk beli
testpack to find out, are we actually in trouble or it’s just a stupid little mistake and we can simply let it go. Merekapun melakukan pengecekan di rumah Dara, nggak lama Dara keluar dari kamar mandi sambil menyodorkan testpack bertandakan dua garis biru ke Bima. Sejak itulah mereka sadar kalau apa yang mereka lakukan sudah melewati batas. Bima pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ibu malah mencurigai Bima menggunakan narkoba, tapi lalu bapak berusaha membela, “Hmm kamu putus sama Dara? Eh, Dara kan namanya?”. Bima pun menangis, meninggalkan meja makan, dan berjalan ke kamar. Nggak lama, bapak menyusul dan berusaha menenangkan Bima (Bima’s Dad doesn’t know the truth yet). Bima yang saat itu masih sedih, merespon kalimat-kalimat bapak, “Tapi Bima salah besar, Pak." Lalu bapak bilang, “Sebesar apa sih salahnya? […] bapak malu ah kalau kamu cengeng gitu.” Kemudian seluruh scene dilanjutkan dengan derai air mata para tokoh perempuan.

Kalimat
bapak malu kalau kamu cengeng adalah sebuah penegasan, kalau nangis adalah hal yang memalukan untuk laki-laki, jadi laki-laki tuh nggak boleh nangis atau laki-laki nggak akan nangis. Padahal sejak kapan perasaan atau ekspresi punya jenis kelamin? Dalam konsep gender kita akan mengenal tentang stereotype maskulin dan feminin yang adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya misalnya laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa, tangguh, pemberani, dan sifat-sifat lain yang “maskulin” sedangkan perempuan dianggap lemah lembut, sabar, penyayang, emosional, lemah, dan sifat-sifat lain yang “feminin”. Hal tersebut sebenarnya berpengaruh besar pada perkembangan masing-masing jenis kelamin (baik fisik maupun psikis) sehingga seiring berjalannya waktu baik laki-laki dan perempuan akan tumbuh seperti yang disebutkan oleh masing-masing stereotype. Stereotype adalah salah satu dampak dari konstruksi gender yg cukup detail dibahhas dalam film ini; that’s why pihak sekolah memberhentikan Dara bukan Bima (karena Dara perempuan yang dilekatkan pada sifat-sifat seperti lemah, tidak berdaya, rapuh, dan lain-lain sehingga dianggap tidak akan sangggup untuk melewati situasi yang berat), that’s why Bima yang bekerja di restoran milik Papa Dara (karena laki-laki dianggap kuat, tangguh, dan pemberani untuk melakukan kegiatan-kegiatan di luar rumah sehingga tanggung jawab mencari nafkah diberikan kepada laki-laki), that’s why dari awal sampai akhir film kita melihat hanya perempuan lah yang berurai air mata, laki-laki nggak ada yang sampai menangis, hanya Bima, itupun langsung ditegur sama bapak dan dibilang malu-maluin (karena menangis adalah salah satu contoh yang diidentikkan dengan sifat feminin lalu dilekatkan pada perempuan). Stereotype soal maskulin dan feminin ini lah yang melahirkan banyak ketidakadilan bagi perempuan. Bayangkan ada berapa banyak kesempatan hilang begitu saja hanya karena dia perempuan, lalu ada berapa banyak hal yang dilimpahkan kepada seseorang hanya karena dia perempuan? And it’s still hurts everytime. We fall and we crawl.


One crucial point for all the women out there, 
yang sekaligus menekankan kalau seks diluar nikah (terutama pada usia dini) emang sebaiknya nggak usah dilakukan, its not only our whole life are changing but so is the body. Dara adalah anak 17 tahun yang hamil karena sebuah keteledoran. Sejak janin itu ada di dalam perut, tubuh Dara berubah; ukuran perutnya nggak lagi rata, pinggulnya membesar, payudaranya pun demikian,  lalu mulai keluar air susu (jujur ini adalah salah satu scene yang bikin aku berlinang air mata; waktu Dara berdiri di pojokan bilik fitting room sambil nangis karena ngelihat ada air susu yang membasahi bagian depan bajunya. Mungkin ini adalah scene yang menggambarkan moment dimana Dara menyadari bahwa all these things are actually happens). Lalu badannya menjadi rentan; gampang lelah, gampang pusing, perut sering kontraksi yang mengakibatkan rasa sakit. Mood Dara juga jadi nggak karuan yang dipengaruhi oleh hormon dan beban psikis “hamil diluar nikah”. Nggak berhenti sampai disitu, selama masa kehamilan, dokter sudah menyampaikan kalau rahim di dalam tubuh Dara sudah beresiko terkena berbagai macam penyakit (gak cuma rahimnya, I guess?). Kemudian ketika bayinya lahir, ternyata rahim Dara mengalami kerusakan yang mengharuskan dokter melakukan proses operasi. Resiko yang dihadapi Dara saat itu adalah pengangkatan rahim bahkan kemungkinan terburuknya adalah meninggal dunia. It’s simply because her body is not ready yet. Sedihnya, laki-laki nggak harus menghadapi resiko-resiko kehamilan itu. Mereka kaya pergi tanpa jejak. Hidupnya seakan-akan nggak berubah; kesempatan pendidikannya tidak hilang, kesempatan mencari pekerjaan juga tidak hilang, tubuhnya tidak mengalami perubahan yang kentara, dan dia tidak dihadapkan dengan resiko-resiko yang berujung kematian. Saat tau Dara harus dioperasi dan beresiko meninggal dunia, Bima sedih bukan main, sambil menandatangani surat operasi, Bima nggak henti menitihkan air mata. Menyesal?

Well, some of you are saying that you are really truly love your partner so freaking much, and why the hell that stupid idea just came into your head and you stupidly try to ask your girlfriend to do that with you? Are you guys realize the damage that you create upon your unhealthy relationship
? Please, just think about it before it’s too late.

Kemudian pada dasaranya, film ini dibuat dengan harapan bisa menjadi jembatan pembuka diskusi antara ibu dan anak soal edukasi seks karena sampai saat ini kita tumbuh dengan ketidaktahuan itu. Pada sebuah scene diperlihatkan, waktu Bima & Dara konsultasi, dokter sempat tanya, "Kalian belajar biologi di sekolah?" Keduanya menjawab, "Iya". "Kalo resiko-resiko kehamilan?" Dara & Bima kompak menjawab, "Nggak.......". Ketika ngelakuin hubungan seks, Dara & Bima nggak tau kalau konsekuensi yg mereka hadapi bisa sesulit ini. Lalu dokterpun mulai memberikan penjelasan. Artinya kita gak bisa lagi menghindari edukasi seks atau beranggapan kalau edukasi seks adalah hal tabu, sebagian orang mungkin berpendapat, nggak usah dibahas aja deh sekalian biar nggak punya bayangan dan nggak bakal terjerumus, padahal kenyataannya, ada lebih banyak orang yang terjerumus justru karena mereka nggak tahu.

And, oh! About the ending, I just like it a lot, like for real
. Pada awalnya keputusan Mama Dara tetap bulat, bayi yang dikandung Dara harus diberikan ke Tante Lia dan Om Adi (besides orangtua Dara nggak yakin kalau Dara bisa mengurus bayi) supaya Dara bisa tetap fokus melanjutkan pendidikannya ke Korea tanpa dibebani soal anak. Dara tidak punya pilihan lain, dia juga masih ingin ke Korea. Kemudian Dara berusaha meyakinkan Bima kalau ini adalah jalan keluar yang paling baik, Bima tetap nggak setuju bahkan pada detik-detik terakhir ketika mereka bertemu dengan keluarga Om Adi. Proses persalinanpun berlangsung, Dara ditemani Bima dan Mama selama meregang nyawa untuk melahirkan Adam. Beberapa detik setelah bayinya lahir, akhirnya Dara berbisik kalau jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Dara ingin bayinya dirawat oleh keluarga Bima, nggak hanya karena Bima adalah ayah dari bayi tersebut, tapi Dara ingin ada sedikit “Dara” yang menemani Adam selama growing up dan Bima adalah separuh Dara. Kemudian film ditutup dengan adegan Dara memberikan bayinya ke Bima tepat di depan pintu rumah sakit sambil berpamitan. Dara dan mama memasuki mobil dan pergi meninggalkan Bima, Adam, dan segala kenangan itu.

Menarik, cerita ini menawarkan pilihan jalan keluar yang out of the box sekaligus menyadarkan kita kalau hey, ini tuh cuma cerita fiksi ya, karena kenyataannya nggak banyak keluarga yang memilih jalan tersebut. While the others give the responsible of raising a baby to the woman, Dara decides to give it to Bima. Dan Dara memilih untuk melanjutkan hidupnya, menggapai apa yang sudah dia cita-citakan sejak lama. Keputusan itu adalah cara yang dipilih film Dua Garis Biru untuk menjelaskan what it’s called “feminism”, karena perempuan juga berhak dapat kesempatan yang sama dengan laki-laki bagaimanapun keadaannya. Disamping itu, ending tersebut juga punya nilai support system yang baik terutama untuk perempuan yang mungkin pernah atau sedang mengalami hal seperti Dara; 
dunia kamu emang berubah tapi nggak berakhir lho, you still have a chance to be the better version of yourself. Disisi lain, scene ending Dua Garis Biru juga mengingatkan kita kalau semua yang udah terjadi adalah kesalah berdua dan harus ditanggung berdua. Kita nggak bisa menyalahkan dan membebani perempuan terus-menerus. Berhenti untuk bilang karena dia perempuan dia harus merawat anak, because it’s not only her job but us (both man and woman).

Jadi itu guys pentingnya sex education, untuk menghighlight hal-hal yang missed out karena ketidaktahuan kita, jadi kita bisa mengantisipasiThe last thing, semoga tulisan ini bisa memperlihatkan kalau pandangan atau pengetahuan gender juga penting untuk dipelajari karena dapat membantu perempuan untuk bisa melihat secara sadar dampak-dampak apa saja yang akan kita hadapi (culturally & socially) sebagai perempuan.

Nonton film Dua Garis Biru rasanya kaya ditampar. Harusnya kita lebih banyak saling bicara, ya?

***

Terakhir! 
For the very personal reason, here’s one of the scene, especially the dialogue, that make the tears falls upon my skin (again).

Sesaat setelah Dara menuruni tangga dan meluapkan kekesalannya kepada Mama atas sebuah keputusan secara sepihak soal penyerahan bayi yang dikandung Dara kepada Tante Lia dan Om Adi.

“Jadi orang tua itu bukan cuma hamil 9 bulan 10 hari, itu pekerjaan seumur hidup!”
“Oh ya? Terus kenapa Mama kemarin ninggalin Dara?”

Aduh, perasaan ditinggalinnya itu lho beb yang nyata.

Comments

Popular posts from this blog

Sarma: Representasi Anak Perempuan Kebanyakan

Midsommar: A Cultural Practices of Making Sense of Suicide

Selesai: A "Public Arena" of Marital Infidelity in Men's Perspective