Selesai: A "Public Arena" of Marital Infidelity in Men's Perspective

 "...bagus lah, aku doain nanti suami kamu setia, gak suka selingkuh, fokus sama kamu aja
walaupun banyak banget di luar sana perempuan-perempuan kegatelan."

Sebagai kalimat penanda pertama kalo Selesai memang berangkat dari sudut pandang laki-laki. 

***


Ok. Intinya Selesai nyeritain tentang prahara rumah tangga Broto dan Ayu yang memuncak dimasa pandemi. Ayu mergokin suaminya selingkuh (lagi) makanya, "Kali ini aku mau cerai!" kata Ayu sambil bergegas mengemas baju ke dalam koper, menggotongnya menuruni tangga, dan hendak pergi dari rumah. Keadaan tersebut diperkeruh karena tiba-tiba, ibunya Broto datang, pengen menghabiskan masa-masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di rumah Broto katanya.Terus gimana itu kasus perselingkuhan dan luapan amarahnya kalo di rumah ada mertua? Kamu bisa nonton langsung filmnya yaa, masih ada kok dibioskop online, harganya Rp40.000.

Nah, beberapa hari lalu film Selesai yang disutradarai Tompi ini sempet jadi buah bibir ditwitter, rame banget diomongin sana-sini. Aku sempat baca beberapa komen dan ulasan pendek dari orang-orang (ditwitter maupun diinstagram story yang di-repost Tompi), banyak yang suka sama filmnya, karena relatability-nya tinggi. Selesai dianggap "dekat" terutama sama perempuan-perempuan yang pernah mengalami hal yang sama kaya Ayu. Tapi banyak juga yang kecewa, katanya kurang sreg sama penyelesaian yang ditawarkan dalam film karena nggak berpihak pada perempuan, soalnya cerita ini malah mengorbankan tokoh Ayu. Yaa semua orang boleh punya pendapat masing-masing karena aku juga punya dong 😃 First of all, aku nge-highlight teknik coloring dalam film yang mengontraskan scenes di dalam rumah pada saat itu dengan scenes di luar rumah dan atau scenes di dalam rumah pada masa lalu. Soalnya itu menyimbolkan adanya perbedaan kondisi, suasana, dan perasaan yang terjadi. Terus Backsound yang dipilih dalam film (terutama pada opening scene) juga mistically menyimbolkan ketragisan; manis, temponya cepat, tapi ada nada-nada minor. Lalu sejarah kita berjuang melewati pandemi Covid 19 juga diabadikan Selesai melalui setting dalam cerita; penyiaran berita terkait covid, himbauan PSBB dari pemerintah, penyegelan rumah (meskipun ini nggak relatable yakan di Indonesia nggak pakai sistem lock down apalagi sampai se-strict itu), momen stay at home, dan penggunaan masker didagu oleh Bambang yang me-represent kepatuhan orang indonesia terhadap protokol kesehatan at its best. Well, Its more about capturing an idea than about capturing a moment, good job!

Marital Infidelity

Btw, aku baru tau, kalo dalam konteks formal dan academic-related purposes, istilah yang lebih sering digunain untuk having an affair behavior dalam hubungan pernikahan adalah marital infidelityOke, back to the topic. Jadi pada dasarnya, setiap orang punya persepsi masing-masing soal selingkuh. Ada yang melihat perselingkuhan adalah ketika pasangan kita mulai punya emotional relationship sama orang lain. Ada juga yang menganggap kalo selingkuh itu ketika pasangan kita udah sampe ada sexual relationship diluar hubungan yang lagi dijalanin. Bahkan ada juga yang ngedefinisiin selingkuh sampai sedalam ini, "Cheating isn't always kissing, touching, or flirting. If you have to delete text messages so your partner doesn't see them, you're already there." in other words, selingkuh dilihat gak selalu soal sexual-related acts but lies on the context of honesty, openess, and the quality of communication between you two. Secara lebih spesifik, Blow dan Hartnett menyatakan kalo definisi selingkuh itu emang inconsistency kok. Katanya, "Infidelity is defined in a myrad of ways and can compromise a number of activities including; having an affair, extramarital relationship, cheating, sexual intercourse, oral sex, kissing, fondling, emotional connections that are beyond friendships, friendship, internet relationships, pornography use, and others". Artinya definisi selingkuh emang sangat beragam karena bergantung sama masing-masing individu yang dipengaruhi oleh; latar belakang budaya, life history, pengetahuan, kelas sosial, dan level kompromi orang. Tapi yang jelas, gimana pun bentuknya, perselingkuhan (terutama dalam hubungan pernikahan), didukung dengan banyak penelitian kualitatif, emang punya negative effects terhadap hubungan yang lagi dijalin, diantaranya depresi dan perceraian. Persis kaya apa yang Ayu alami dalam film Selesai.

Well, sebenarnya isu perselingkuhan udah banyak menghiasi cerita-cerita picisan diperfilman Indonesia. Mulai dari perselingkuhan tipis-tipis pada hubungan romantis remaja sampai yang epic dalam hubungan pernikahan. Menurut para ahli, marital infidelity emang ada jenis-jenisnya loh. Merujuk ke Pittman dalam buku Private Lies, ada empat tipe marital infidelityaccidental infidelity (incidents that were outside the usual patterns of behavior, happening in extraordinary situations, or off handedly and without consideration of the consequences --kaya cerita difilm Surga yang Tak Dirindukan, Supernova, & Testpack)romantic infidelity (the most dangerous and destructive to the marital relationship because the betrayin spouse actually falls in love with the affair partner. When affairs begin, neither partner typically plans on falling in love --Lets assume that this type was happened to Ayu & Broto)marital arrangements (atau lebih dikenal dengan sebutan "swingers", where the marital arrangement allows for each spouse to obtain sexual gratification outside of their marriage), dan philandering (its when the sexual activity outside of the marriage becomes "a hobby", typically by one spouse, and the affair partner is seen as inferior to them).

Lalu apa yang bikin film ini jadi berbeda? Aku pribadi sih suka yaa the basic idea of this film, bagaimana Selesai mengangkat sisi lain dari having an affair behavior yaitu terkait  dampak yang dialamin sama korban perselingkuhan yang emang masih belum banyak dibahas deh kayanya? Kalo merujuk ke film yang udah-udah, biasanya berhenti pada meng-expose rasa sedih, tanpa meninjau kembali sebenernya apa yang selanjutnya terjadi terhadap istri-istri korban perselingkuhan. Kemudian Selesai hadir untuk meng-capture situasi itu, situasi pasca perselingkuhan yang dialami korban dan bagaimana mereka dealing dengan "kepergian" pasangannya. Disini, keadaan psikologis Ayu sebagai korban perselingkuhan dieksplor berdasarkan teori Kubler-Ross. Dimulai dari luapan amarah ketika Ayu nemuin celana dalam Anya di dalam mobil Broto, "Tuh! Kamu balikin ke yang punya. Bilang sama dia, lain kali kalo mau ngewe sama laki orang modal hotel jangan di mobil. Murahan!". Kemudian Ayu menaiki tangga dan berjalan menuju kamar, diikuti Broto, lalu Ayu bilang, "Kali ini aku mau cerai! [..] Apa lagi sih, alasan kamu tuh mau apa lagi, Broto?!" yang menjelaskan bahwa ini bukan perselingkuhan yang pertama. Artinya sebelum insiden celana dalam itu, Ayu sudah melewati tahap denial, ya buktinya sampe terulang lagi dan lagi kan? Terus mendapati suaminya berselingkuh, tahap depresi Ayu juga ditunjukkan dalam film; nggak cuma sedih mendalam tapi Ayu bahkan sampai melakukan perilaku-perilaku tertentu yang cukup mengkhawatirkan. Tapi sayang banget, eksplorasi keadaan psikologis korban perselingkuhan saat kehilangan pasangannya ini berhenti pada tahap depression. Padahal kalo merujuk teori Kubler-Ross, there are 5 stages of griefing; denial, anger, depression, bargaining, dan acceptance. Menurutku, kalo memang Selesai mau fokus terhadap isu kesehatan mental, to be more specific: post marital infedility phase atau negative effects of marital infidelity, harusnya setiap tahap dibahas tuntas supaya menyeluruh. Dan itu akan jadi sangat menarik bagi penonton perempuan karena tahap bargaining dan acceptance akan punya peran penting dalam menumbuhkan keberdayaan di dalam diri penonton perempuan yang merupakan korban marital infidelity. Dua tahap terakhir itu mungkin bisa digali lebih lanjut didukung dengan teori agency, dimana perempuan dilihat sebagai pihak yang punya daya untuk berpikir dan mampu melakukan perubahan atas dirinya, hidupnya, dan sekitarnya.

Symbolic Representation of Men's Eyes

Men and women view every single things differently.
Menurutku ada banyak scene dalam Selesai yang memperkuat anggapan penggunaan perspektif laki-laki dalam membangun ide cerita. Dimulai dari karakter Bambang yang menghiasi berbagai sexual-related comedic scenes dalam film. Melalui tingkah lakunya, pola pikirnya, gesture-nya, Bambang me-represent kebanyakan laki-laki ketika melihat perempuan; mimik mupeng (alias muka pengen) ketika pertama kali Bambang melihat Ayu, didukung dengan 1001 usaha Bambang dalam membujuk Yani buat berhubungan badan, dan adegan ena yang dilakuin Bambang dari balik jendela sambil menatap ke arah Ayu. When it comes to women, isi pikiran laki-laki biasanya emang nggak pernah jauh dari ketubuhan & hasrat seksual. Data speaks and sadly many male friends of mine are living with a similar gestures.

Lalu karakter Broto yang digambarkan superior (alias masculine stereotype oriented banget: Merujuk Morawskithe prototype for masculinity was a man who was physically active, rational rather than emotional, physically and emotionally strong, and community-oriented) melalui beberapa adegan krusial. Superior disini merujuk pada arti secara harfiah; atasan, pemimpin, unggul, tinggi, lebih, angkuh, utama, dan lain-lain. Kemudian secara kontekstual dimana pada banyak kesempatan laki-laki seringkali memosisikan dirinya sebagai pihak yang tidak pernah salah atau nggak mau disalahin.

Pertama, sejak awal, kita semua tau kalo kesalahan ada pada Broto. Yaa orang dia yang selingkuh. Tapi kemudian term laki-laki nggak pernah salah ditampilkan melalui dialog dalam scene Broto menelfon Anya setelah video call, "Kamu ini rese, udah ninggalin celana dalem sembarangan [..] celana dalem kamu ketinggalan di mobil aku, Ayu pake mobil aku, dan dia nemuin, sekarang berantem!". Broto was start to pointing his finger to others. Ayu jadi tau gara-gara Anya. Secara nggak langsung ini nunjukin kalo Broto nggak mau disalahin, dia justru melimpahkan kesalahannya pada kecerobohan Anya.

Kedua, main topic dari Selesai adalah suami yang ketangkep basah selingkuh oleh istrinya. Tapi ditengah film, terutama sejak Anya kasih penegasan, "...aku nggak pernah loh ninggalin celana dalem [..] mana pernah aku namain celana dalem aku [..] lagian kan kamu tau, aku jarang pake celana dalem", cerita nggak lagi fokus soal itu, kita justru dikasih lihat "perjuangan" Broto mencari pembenaran dan pembelaan atas kesalahannya. Broto curiga balik terhadap Ayu, "Yu! Lagi ngapain? Nelfon selingkuhan? Ngaku aja [..] disitu tuh semua rahasianya" (sambil menunjuk ke arah handphone milik Ayu). Broto menganggap Ayu manipulatif dan sengaja menjebaknya supaya bisa bercerai. Sikap tersebut menjadi representasi yang pas dari sifat superior yang secara budaya sering diidentikan dengan laki-laki. Lalu adegan adu argumen setiap tokoh di meja makan, anggapan Ayu delusional, halusinasi, dan gila terkait insiden celana dalam, dan rencana Broto dengan selingkuhannya menunjukkan bahwa pernikahan yang dilandasi nilai patriarki memang mampu mengonstruksi laki-laki sebagai pihak yang nggak pernah salah even if he is dan perempuan sebagai pihak yang inferior.

Terakhir, perspektif khas laki-laki ditampilkan melalui ending scene. Selain pada mengorbankan tokoh Ayu (ini yang jadi polemik bagi banyak orang, kok Ayunya digituin sih, nggak berpihak pada perempuan banget), keputusan Broto terhadap hubungan pernikahannya yang kontras banget sama penegasan kondisi psikologis Ayu juga jadi pertanda, karena kalo kita kembali ke judul film, yaitu "Selesai", kita jadi punya pertanyaan besar, ini tuh selesai menurut siapa, sih? Karena adegan Ayu terduduk sambil menatap nanar dari balik jendela justru menggambarkan bahwa bagi Ayu semuanya baru saja dimulai, sama sekali belum selesai. Ini menjadi penguat bahwa Selesai memang tidak bicara untuk perempuan. Seperti yang tertera dijudul, ini cerita dari kacamata laki-laki.

Images of Women in the Story

Melihat konstruksi simbol-simbol budaya dalam kehidupan sehari-hari yang dipertukarkan sama media massa, melalui cerita dalam film misalnya, is something that im always excited about everytime i watched movies. Makanya kalo nge-review film, tulisannya jadi panjang karena aku selalu ingin ngebongkar dari perspektif budaya. Namanya juga mahasiswa antropologi 🙏

Jadi representasi atau proses pembentukan persepsi tentang perempuan diindustri media (meliputi iklan, sinetron, talkshow, acara kuis, film, dan lain-lain) jadi topik menarik buat dibahas lebih lanjut. Soalnya perkembangan sinematografi juga nggak pernah lepas dari perkembangan penggambaran perempuan melalui kehadiran tokoh perempuan dalam film; perannya,  background storynya, jenis profesinya, adegannya, dialognya, ide ceritanya, dan lain-lain. Kalo merujuk ke laman online New York Film Academy, keterlibatan perempuan dalam film masih berkonotasi negatif seperti cenderung mengumbar penampilan (kecantikan dan tubuh) dan atau pelekatan berbagai aktivitas domestik serta sifat-sifat feminine terhadap tokoh-tokoh perempuan. Nah, based on the data, stereotypic portayals and the lack of complex women roles remain common in Hollywood and the media as a whole. Soalnya menurut Simonton, pada umumnya film memang mencerminkan atau meng-capture suatu sikap budaya yang berlaku, diantaranya ada peran gender, norma (meaning dan value), dan harapan. Dengan kata lain, film punya kekuatan untuk menangkap dan mengolah konstruksi sosial yang real terjadi sehari-hari di suatu masyarakat. Tapi dalam konteks yang sama, penggambaran sesuatu di dalam film (kelompok minoritas atau jenis kelamin tertentu misalnya--dalam konteks ini perempuan), menurut Bazzini dkk punya pengaruh dalam membentuk dan menyebarkan stereotype kepada penonton. Menurutku, penggambaran tokoh perempuan dalam Selesai masih merujuk pada konstruksi gender; Ayu yang emosional, penyabar (meskipun diselingkuhi berkali-kali), dan bertanggung jawab atas kegiatan domestik. Kemudian peletakkan Ayu di belakang Broto pada poster film juga sebenarnya menyimbolkan Ayu sebagai pihak yang lemah, inferior, tidak berdaya, dan dikorbankan.

Kemudian disuatu waktu Tompi pernah nge-tweet, "Emangnya film harus berpihak?"

Well, gini, menurutku film ini sejak awal memang memilih untuk menyajikan pandangan laki-laki terkait having an affair behavior. No wonder, orang sutradara dan penulis naskahnya aja laki-laki. Dengan kata lain, Selesai memang nggak hadir sebagai perantara bagi perempuan korban perselingkuhan. Selesai justru hadir buat me-represent laki-laki. Kita diajak untuk melihat dari kacamata laki-laki: gimana sih biasanya laki-laki melihat sebuah hubungan yang lagi dia jalani dan gimana sih laki-laki melihat perempuan dan keberadaan perempuan di dalam hubungan itu sendiri. Ya sebenarnya, to be fair, emang nggak semua film harus mengandung ideologi feminisme kok. Soalnya nggak semua orang mempelajari gender, nggak semua orang juga tertarik dan concern terhadap isu gender. Terlebih nggak semua orang ingin hadir untuk perempuan kan? Jadi kayanya, konteksnya itu bukan siapa berpihak pada siapa deh? Tapi yang mungkin luput adalah, dengan menambah satu lagi cerita khas perspektif laki-laki, karyanya sudah berkontribusi untuk melanggengkan kultur patriarki yang selama ini lebih banyak merugikan perempuan. Dan perjuangan melawan konstruksi sosial yang patriarki ini masih berlangsung sampai sekarang. Itu lah kenapa banyak yang gerah kalo penggambaran tokoh perempuan dalam film hari ini masih aja berdasarkan konstruksi gender. Karena pada dasarnya perempuan itu ingin diwakili; perasaannya, pemikirannya, keresehannya, dan kesehariannya sehingga membuat karya yang berangkat dari perspektif perempuan dan hadir memang untuk me-represent perempuan akan berkontribusi dalam membentuk dan menyebarkan stereotype baru kepada penonton. In a long run, representasi perempuan dalam media yang menerobos konstruksi gender patriarki akan punya pengaruh besar terhadap pembentukan persepsi penonton tentang identitas perempuan yang kemudian memengaruhi sikap, prasangka, dan keyakinan masyarakat tentang peran gender yang sesuai untuk perempuan (dan laki-laki). Lagian, its 2021 already bruh, we expected something more rather than just a typical-masculine-and-men's-based point of view in the story 😂

Comments

Popular posts from this blog

Sarma: Representasi Anak Perempuan Kebanyakan

Midsommar: A Cultural Practices of Making Sense of Suicide