Midsommar: A Cultural Practices of Making Sense of Suicide
Jujur dulu, sebenernya film ini udah lama banget aku review TAPI aku share di instagram story. Nah, karena sekarang aku lagi cukup gabut di tengah-tengah sibuknya work (thesis sih) from cafe, mari kita pindahin aja reviewnya ke sini agar supaya!
Well, who's screaming and disturbed by seeing (or maybe heard) this particular scene on Midsommar as I am????? Aku team nutupin mata pakai telapak tangan pas nonton adegan ini! Oke, singkatnya, scene ini tuh memperlihatkan Attestupa atau ritual bunuh diri di masyarakat Harga yang lagi dilakukan sama dua orang tua dengan cara loncat dari tebing yang tinggi banget (BANGET WOY). What makes it even scarier tuh, kalo setelah loncat orangnya nggak meninggal, dia akan literally dihancurkan sampai beneran hilang tanpa sisa. Salah satu tokoh ditumbuk sesaat setelah dia mendarat dan masih bernyawa. Dan proses tersebut menjadi ritual sakral yang disaksikan dengan mata telanjang sama semua orang yang ada disana. Terus mulai muncul pertanyaan, then what makes it so believable to some people?
How did social science define suicide
Selama ini yang wellknown adalah definisi bunuh diri menurut Ilmu Psikologi dan kedokteran. Katanya, bunuh diri didefinisikan sebagai tindakan individual yang berhubungan sama kerusakan fungsi sel/hormon dalam otak, gangguan afektif, dan kesehatan mental seseorang, which is absolutely true. Tapi ilmu sosial punya definisi lain nih soal bunuh diri, "Suicide can be a result not only of psychological or emotional factors but of social factors as well." Soalnya ditemukan nih, didukung oleh data dan penelitian, kalo masyarakat tertentu bisa menghasilkan tipe bunuh diri tertentu dan tingkat bunuh diri tertentu (ada keteraturan dalam angka bunuh diri pertahunnya). According to that, faktor individu jadi nggak tepat buat diseret-seret, karena berdasarkan analisis penyebabnya adalah social integration bukan faktor psikologis level individu.
Di Harga misalnya. Salah satu desa terpencil di Sweden yang didatengin sama Dany, Christian, Pelle, Mark, dan Josh dalam rangka liburan sambil ngerjain penelitian untuk tugas akhir ini punya keteraturan terhadap angka bunuh diri setiap tahunnya karena mereka punya tradisi Midsommar. Midsommar itu festival pertengahan musim panas yang dimulai dengan ritual Attestupa, a very long custom by locals, atau ritual bunuh diri untuk penduduk asli Harga yang udah berumur lebih dari 72 tahun yang detail prosesnya bisa kita lihat langsung di film.
Secara psikologis dan medis, bisa jadi nggak ditemukan adanya kerusakan sel otak, kekurangan hormon serotonin, atau gejala depresi pada masyarakat Harga yang bikin mereka punya keputusan untuk melakukan tindakan bunuh diri. What makes practice of suicide make sense for the locals is only the cultural aspect yaitu believe system yang diinterpretasikan lewat ritual dan dijadikan tradisi atau ritual turun-temurun. Balik lagi ke ritual Attestupa. Jadi bagi masyarakat Harga, Attestupa adalah sebaik-baiknya representasi dari Harga Live Cycle, "Live your life as a circle, recycle" atau konsep kehidupan yang dipercaya seperti musim. Katanya, "We think of life like a season. So if you are child until you are eight teen and thats spring. And then at some point you are grew up which is between eight teen and thirty six, thats summer. And then from thirty six to fifty four we are at the working age, which is fall. And then finally from fifty four to seventy two become a mentor." Dan di umur 72 tahun itu mereka sampai di "siklus akhir kehidupan" dan bakal ngelakuin ritual bunuh diri. Menurut kepercayaan masyarakat Harga, orang yang sampai pada ritual Attestupa bakal dapat puncak keberkahan. Believe atau value yang jadi dasar masyarakat buat ngelauin Attestupa adalah, "Instead of getting older or dying in pain, in fear, in shame, we give our life as a gesture". Soalnya bagi mereka, menunggu kematian tuh would corrupt the spirit. Jadi sebelum "rusak" mending "dikasihin" aja. Besides, sebagai aktualisasi dari living a life as a cycle tadi, nama orang-orang yang ngelakuin ritual Attestupa bakal diwariskan ke bayi-bayi yang baru lahir di desa pada waktu tersebut to preserve the souls, the lives, the presences.
Three types of suicides, according to Durkheim
Basically, tipe bunuh diri dibagi jadi tiga: egoistic, altruistic, sama anomic. Attestupa termasuk ke tipe bunuh diri altruistic, "A result of excessive regulation of individuals by social forces such that a person may be moved to kill themselves for the benefit of a cause or for society at large." Misalnya, orang-orang yang bunuh diri for the sake of religious. In such social circumstances , people are so strongly integrated into social expectation and society itself that they will kill themselves in an effort to achieve collective goals.
Jadi lewat film Midsommar, thru Attestupa scene to be more specific, kita dibantu memahami kalo faktor utama tindakan bunuh diri itu nggak tunggal atau nggak selalu merujuk ke faktor psikologis dan patologis. Kita jadi sama-sama belajar kalo pada kasus-kasus tertentu, suicide is not an individual act nor a personal action, its caused by some power which is over and above the individual or super individual, and its called social consciousness. Terus tindakan bunuh diri juga bisa terjadi karena social disorganisation, lack of social integration, atau social solidarity. Nah, secara nggak langsung, the movie is presenta sociological study of suicide. Sebenernya, selain Attestupa ada dua ritual bunuh diri lainnya yang dibahas dalam film, bahkan jadi klimaks dan epic ending dari film tersebut, tapi yang dibahas disini satu aja ya, barbie pusing. Bagi aku pribadi, Midsommar kemudian membuka wawasan aku untuk bisa nangkep atau mempertimbangkan aspek kultural dalam melihat sesuatu bahkan soal tindakan bunuh diri sekalipun, because suicide is actually can have origins in social causes rather than just being due to individual temprament.

Comments
Post a Comment