Sarma: Representasi Anak Perempuan Kebanyakan
Pada dasarnya film ini cerita tentang kangennya orang tua di kampung halaman ke anak-anaknya yang tinggal jauh karena merantau. Si orang tua kemudian menghalalkan segala cara untuk bikin anak-anaknya bisa pulang ke kampung halaman dengan segera and stay a lil longer. Usaha Pak Domu dan Mamak Domu ditampilkan lewat comedic scene yang bikin penonton nggak berhenti ketawa. Ada mulu idenya, heran! Menariknya, Bene sebagai sutradara menggambarkan kalo seringkali yang bikin hubungan orang tua dan anak menjadi jauh bukan sekedar jarak yang konteksnya geografis tapi juga budaya. Bagaimana konstruksi budaya terhadap jenis kelamin tertentu atau ekspektasi budaya kepada anak tertentu punya peran yang besar dalam memperkeruh jarak Sumatera - Jawa yang sejak awal udah sulit bagi kedua belah pihak.
Ngeri-ngeri Sedap bener-bener menampilkan kekayaan adat Batak. Mulai dari yang tangible kaya ulos, rumah adat, saksang, mi gomak, alat musik tradisional, dan lain-lain sampai yang intangible kaya tari tortor, pesta Sulang Sulang Pahompu untuk opung, dan value anak di masyarakat Batak. Lewat opening scene yang percakapannya aku sertakan di bawah, Bene membangun pengetahuan kita tentang value anak dari perspektif adat Batak. Kita sebagai penonton jadi punya knowledge nih tentang bagaimana adat Batak melekatkan nilai pada anak di dalam keluarga. Tapi nggak berhenti sampai disitu, kita juga diajak menyelami adat Batak lewat pengalaman orang tua dan anak yang dibagikan secara detail disepanjang film sehingga knowledge trasfernya nggak hanya di level awareness tapi sudah mulai ke interest. Atleast bagi aku ya, buktinya aku sampe bikin tulisan ini!
Ekspektasi Budaya terhadap Anak
Oke, cerita dimulai dengan menyuguhkan keindahan Danau Toba, diiringin back sound lagu bahasa Batak yang dinyanyiin sama Pak Domu dan teman-temannya di lapo. Situasi tersebut dilanjutkan dengan pemaparan value terkait ekspektasi budaya terhadap anak berdasarkan urutan lahirnya. Aku share dikit yah!
Bapak-bapak memulai percakapan di lapo sambil menonton TV yang menayangkan acara lawak, "Bang, bang, (itu) anakmu, si Gabe! Itu bakat, bang, jadi pelawak dia [..] Si Gabe sama dengan si Hotman kan jurusan hukum? Apa tidak sayang kuliahnya?"
"Iya, cuma sementara. Si Gabe itu mau jadi hakim atau jaksa, sebentar lagi juga berhenti dia." Jawab Pak Domu sambil meminta temannya yang pegang remot TV untuk ganti tayangan.
"Ngomong-ngomong si Domu masih di Bandung? Dengar-dengar dia mau kawin dengan orang Sunda?Tidak apa-apa itu, bang? Kalau bukan Batak nanti dia tidak tahu adat."
"Ah, kalian ini dengar gosip, nggak mungkin lah! Domu itu anak pertama, dia bertanggung jawab sama keluarga jadi dia pasti kawin sama Batak lah."
Terus Mamak Domu menegaskan value tersebut waktu lagi telfonan dengan Domu, "Kau itu anak pertama, Mu. Kau yang melanjutkan marga, kau yang melanjutkan adat. Bagaimana kau mau bertanggung jawab kalau istrimu nanti nggak ngerti adat, Nak? [..] Domu, ingat, kau orang Batak.
Teman Pak Domu yang lain bertanya lagi, "Kalau anakmu yang paling kecil, bagaimana dia? Sudah lulus kan dia, bang? Nggak balik ke sini dia? Kan kalau kita orang Batak biasanya anak terakhir nggak merantau, di kampung mengurus orang tuanya."
"Si Sahat sudah janji mau pulang tapi masih ada urusan di Jogja. Pulang dia nanti kalau urusannya sudah beres." Bela Pak Domu.
"Jadi cuma si Sarma yang nggak merantau ya?"
"Iya" Jawab Pak Domu semangat, memajukan badannya sambil tersenyum, "Dia yang mengurus Mamak Domu dan aku. Untung dia kerja PNS di kecamatan jadi nggak perlu dia merantau."
That was such a perfect way to tell you are Bataknese without even telling you are Bataknese. I like it!
Well, di banyak masyarakat, gak cuma adat Batak, setiap anak tuh memang punya peran budaya yang berbeda. Perbedaan bisa berdasarkan jenis kelamin (perempuan dan laki-laki) atau urutan lahirnya (anak sulung, bungsu, dan lain-lain). Dan keduanya saling berkaitan sih. Peran budaya ini merujuk pada ekspektasi masyarakat terhadap anak di dalam keluarga. Nah, kita curhat sedikit, tahun lalu aku sempat ambil mata kuliah Antropologi Psikologi, waktu bahan bacaan sedang mepet-mepet ke tentang anak dan keluarga, dosenku sempat bahas kalo ekspektasi budaya terhadap anak memengaruhi orang tua dalam menentukan pola asuh yang bakal diterapkan ke setiap anak, dan itu bakal memengaruhi sifat si anak. Makanya kita mengenal pelekatan kaya gini: anak pertama pasti tough, mandiri, dan bertanggung jawab. Kalo anak terakhir biasanya manja, penurut, dan bergantung. Atau anak perempuan biasanya otomatis dianggap manja dan cengeng sedangkan anak laki-laki dianggap pemberani dan kuat.
Pelekatan-pelekatan tersebut disampaikan dengan sangat jelas dalam film ini. Pertama, terkait perbedaan pola asuh berdasarkan urutan lahir, yang kemudian dipengaruhi sama nilai-nilai adat, sebetulnya bisa kita lihat throughout the movie, tapi specifically ada pada scene ini, pas Pak Domu mulai ngebahas "kesalahan" anaknya satu persatu di ruang tamu, waktu Mamak sakit. Dimulai dari Domu,
"Domu, jadi kau harus kawin dengan boru Sunda itu? [..] Nggak bisa! Kau harus kawin sama boru batak [..] tetep aja dia bukan batak! Dia tidak akan ngerti adat batak!"
Katanya, anak laki-laki pertama di dalam keluarga Batak akan bertanggung jawab meneruskan marga. Secara nggak langsung itu mengharuskan dia buat menikah dengan sesama Batak for the sake of preserving the tradition. Dalam usaha mempertahankan eksistensi dan melestarikan tradisi, perkawinan endogami menjadi lumrah dilakukan sama masyarakat Batak, kaya yang ditulis dalam jurnal milik Sianturi, "..dalam masyarakat Batak, perkawinan dianggap ideal kalo perkawinan itu terjadi diantara orang-orang rimpal atau marpariban, yaitu perkawinan yang terjadi antara laki-laki dengan anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya." Dan correct me if im wrong, adat bahkan punya ketentuan sendiri marga A itu garisnya dipasangkan dengan marga B, sedangkan marga C dengan marga D, dan seterusnya. Secara lebih spesifik, kenapa anak laki-laki pertama? Soalnya sistem yang dianut sama masyarakat Batak itu patrilineal (dimana garis keturunan diperhitungkan melalui garis keturunan ayah) makanya hubungan Domu sama Neny nggak disetujuin Pak Domu.
Pak Domu melanjutkan ke Gabe, "Kapan kau mau melamar jadi hakim atau jaksa? Jangan kau bikin lawak-lawak semua! Kau sia-siakan kuliah hukummu, kau sia-siakan perjuanganku."
Aku nggak tau, sejak kapan dan berdasarkan apa ilmu hukum jadi lekat banget sama orang Batak secara spesifik. Aku juga belom sempet nemu jurnal penunjangnya 😅Tapi based on my research by reading articles on google, its more like stigmatized reasons yang merujuk ke ciri-ciri kultural orang Batak: tegas, lantang kalo bicara, punya budaya koyo atau kebiasaan berargumen atau bersilat lidah, berani, terbiasa menerapkan hukum adat dalam kehidupan, dan terkait prinsip hidup hamoraon (sukses materi). Jadi kebanyakan orang Batak akan memilih jenis pekerjaan atau ilmu pengetahuan yang konkret karena dianggap lebih cepat achieve hamoraon dan pengacara tuh salah satunya.
Yang terakhir Sahat, "Sahat, kau tau kan orang Batak selalu mewariskan rumahnya kepada anak laki-lakinya yang terakhir. Rumah ini akan diwariskan pada kau tapi kalau kau tidak mengurus orang tuamu disini, kau tidak layak dapat warisan."
Jadi nggak cuma soal tanggung jawab budaya anak laki-laki sebagai penerus marga, most of their cultural values are very stereotyped, merujuk ke pandangan-pandangan patriarkis juga stereotype maskulin dan feminin. Terkait warisan misalnya, sistem patrilineal yang dianut nggak cuma berkaitan dengan garis keturunan tapi juga memengaruhi hukum waris adat, kaya yang ditulis dalam jurnal milik Oktaberliani bahwa, "..ahli warisnya jatuh hanya kepada anak laki-laki. Dalam hukum waris adat Batak juga terdapat kekhususan yang diberikan kepada anak laki-laki bungsu yaitu mendapatkan hak waris atas rumah peninggalan orangtuanya, dalam istilah masyarakat Batak dikenal dengan jabu parsantian." Nah, balik ke cerita Pak Domu, Sarma memang melalukan perannya sebagai anak yaitu mengurus orang tua tapi warisan rumah Pak Domu belum tentu menjadi hak Sarma karena secara adat warisan rumah diberikan ke parsantian, walaupun akhirnya Pak Domu bilang sendiri kalo Sahat nggak layak dapat warisan.
Dari situ kita bisa lihat kalo konstruksi budaya tersebut melahirkan bentuk ketidakadilan atau ketimpangan antara anak perempuan dan anak laki-laki. Soalnya laki-laki banyak diuntungkan lewat penerapan nilai-nilai adat dikehidupan sehari-hari sedangkan perempuan nggak punya kemewahan itu. Dengan situasi kaya gini, posisi anak perempuan di dalam keluarga menjadi bergeser. Valuenya nggak sama dengan anak laki-laki.
Structural value of daughter in the family
Terus yang kedua, perbedaan pola asuh berdasarkan jenis kelamin. Secara keseluruhan, Ngeri-ngeri Sedap menyelipkan banyak scene yang merepresent situasi anak perempuan kebanyakan khususnya di keluarga Batak. Lewat scene Domu sama Sarma lagi ngobrol di belakang rumah malam-malam misalnya, percakapan mereka secara langsung menegaskan adanya perbedaan pola asuh antara anak laki-laki dan anak perempuan di dalam keluarga.
Sarma tanya, "Eh, bang, abang udah bicara sama Sahat sama Gabe? Mereka kan adikmu juga, bang. Kenapa sih kalian kalo sama aku akrab tapi sesama kalian kaku sekali?"
"Gimana bilangnya ya, dek. Bapak itu nggak pernah nunjukkan rasa sayangnya ke kami yang laki-laki ini, jadi kami yang laki-laki ini nggak tau gimana caranya bersikap sesama laki-laki. Tapi kalo bapak ke kau, kami sering lihat, jadi kami tau kek mana caranya bersikap ke kau, dek." Kata Domu.
See? Value itu dipreserve melalui berbagai macam cara, salah satunyaewat pola asuh yang kemudian memengaruhi sifat, pola pikir, tindakan, dan kepercayaan masing-masing anak. Pada tayangan di awal film misalnya, di pagi hari Sarma yang sudah rapih pakai seragam PNS lagi masak ikan goreng bumbu balado yang kemudian disajikan ke Pak Domu dan Mamak yang udah menunggu di meja makan. Dari scene itu kita bisa highlight dua hal. Pertama, tanggung jawab anak perempuan di dalam keluarga nggak pernah jauh dari aktivitas domestik yang feminine stereotyped banget; masak, mengurus anak/orang tua, bebersih rumah, dan lain-lain. Ada scene lain yang bisa jadi penguat, waktu Mamak Domu demam. Begitu tau, Domu & Gabe langsung masuk ke kamar Mamak sedangkan Sarma langsung ke dapur, dia masuk ke kamar belakangan sambil bawakan piring kecil berisi obat, "Mak, minum obat ya [..] Mak, ku masakkan bubur ya." Katanya. Kedua, siapin sarapan dengan seragam kerja secara nggak langsung menegaskan kalo bagi anak perempuan the family always comes first. Dalam kasus Sarma, mengurus orang tua adalah rutinitas wajib yang dia dahulukan. Nggak cuma terkait siapin sarapan dan aktivitas domestik lain sebetulnya, tapi juga termasuk tanggung jawab psikologis kaya menemani, menjaga, mengajak ngobrol, mensupport, dan lain-lain.
Lalu scene klimaks film ini juga nggak jauh dari isu gender. Tangisan Sarma di belakang rumah yang sambil memeluk Mamak itu seolah mewakili isi hati anak perempuan kebanyakan. Scene ini bahkan jadi puncak emosi penonton, siapa sih yang nggak tiba-tiba nangis sesenggukan? Well, menerapkan perbedaan pola asuh ke anak laki-laki dan perempuan punya dampak yang panjang. Salah satunya, pada banyak keluarga, dengan latar belakang budaya yang beragam, anak perempuan sering dipaksa berkorban oleh keadaan: cita-citanya, karirnya, percintaannya, hidupnya, to put her family first. Bukan tanpa dasar, konstruksi tersebut dipreserve oleh berbagai nilai budaya yang feminine stereotyped. Selain pola asuh, wacana perempuan-harus-nurut juga berperan besar. Kata Foucault, itu namanya biopower, bagaimana pengetahuan seseorang digunakan untuk menganalisis, mengontrol, dan meregulasi tindakan manusia. Padahal sejak kapan kepatuhan punya jenis kelamin 😅 Anak laki-laki juga harus nurut kan?
Saat itu Sarma bicara sambil berderai air mata, "Mamak selalu bilang, perempuan nggak boleh melawan, perempuan harus nurut ya, mak. Tapi karena tadi ku tengok mamak melawan, aku nggak akan diam, mak. Kalian nggak tau ya rasanya jadi anak perempuan di keluarga ini. Serba salah! Kalian melawan sama bapak aku nggak pernah ribut, nggak pernah protes, aku nggak ngelawan bapak, aku milih nurut. Kalian yang ribut, kalian yang protes [..] Abang pernah bilang ke aku, jangan lupa kau pikirin dirimu sendiri, gitu kan, bang? Sekarang aku tanya, kalau aku mikirin diriku sendiri, yang mikirin bapak sama mamak siapa hah? Siapa?"
Scene tersebut secara khusus menampilkan masalah sosial budaya anak perempuan ke permukaan. Tangis Sarma mewakili jeritan anak perempuan kebanyakan tentang peran kulturalnya yang belum ada komprominya. Secara nggak langsung kita senbagai penonton diajak buat menerapkan keadilan tanpa pandang jenis kelamin. Soalnya, sama kaya anak laki-laki, anak perempuan juga punya mimpi yang ingin dicapai. Sampai kapan perempuan harus berkorban terus? Dipaksa diam cus the culture said so. Dipaksa mengenyampingkan keinginan dan kebutuhan dirinya karena harus mendahulukan orang lain, mendahulukan laki-laki.
Perbedaan value anak laki-laki dan anak perempuan masih erat nih kaitannya sama sistem yang dianut dalam adat Batak yaitu patriarkhat, dimana ayah (laki-laki) menjadi kepala keluarga dan berkuasa atas akses dan kontrol di dalam rumah tangga. Ini memengaruhi banyak hal, kaya apa yang kita lihat dalam film. Salah satunya bisa dilihat lewat lewat scene yang katanya one take only, pas keluarga Pak Domu beradu pendapat di ruang tengah. Waktu itu Mamak yang lagi bicara, "Kau pikir kau nggak merasa benar sendiri? [..] Sekarang aku nggak akan diam. Selama ini aku sudah diam. Kuturuti maumu. Apa-apa kau putuskan sendiri, aku diam. Kau jauhkan aku dari anak-anakku, aku diam [..] Kuturuti kau. Sekarang kau yang diam!"
Padahal berkuasa bukan artinya nggak ngedengerin omongan orang kan? Dan saat itu Mamak (dilanjutkan dengan Sarma) menampilkan bentuk perlawanan terhadap wacana perempuan-harus-nurut yg selama ini membuat mereka sebagai perempuan di dalam keluarga lebih banyak diam.
***
Well, film ini menurutku udah dengan sangat baik kasih pengetahuan ke penonton tentang representasi perempuan dalam masyarakat Batak. Apalagi gagasan tersebut jadi highlight atau klimaks dari film Ngeri-ngeri Sedap. Tangisan penonton pecah pada satu scene spesifik yang emosional. Pengalaman hidup Sarma menjadi data yang kuat untuk menampilkan beban budaya yang selama ini dipikul anak perempuan di berbagai suku atau wilayah. Rasanya perempuan nggak pernah jauh dari beban-beban domestik, perawatan, dan jenis kegiatan lain yang gender constructive banget. Hal lain yang aku suka dari film ini tuh the ending scene, the way out. Bene mengkritik cara pandang patriarki, bahwa laki-laki nggak selalu benar, laki-laki nggak harus angkat dagu terus, laki-laki bisa salah, dan laki-laki harus mau minta maaf. Wuy, minta maaf tuh bukan hal yang memalukan buat dilakukan, apalagi sama laki-laki, jangan gengsi??!!!! Liat Pak Domu, ketika dia minta maaf, hal besar apa yang kemudian dia perbaikin? And the whole story tell us kalo cara pandang patriarki nggak cuma merugikan perempuan tapi juga bikin banyak pihak nggak happy, termasuk laki-lakinya sendiri. Is that hit men best? Idk 🤷♀️

Comments
Post a Comment