Selasa, 31 Maret 2020

Gerald's Game: The Actual "Monster" for the Subaltern


"His shackles were silence and his were comfort"
***


This movie is recommended by one of the most influential people in Indonesia, alias Rachel Vennya. Beberapa waktu lalu dia sempet buka highlights baru yang isinya rekomendasi film dan Gerald's Game adalah salah satunya. Jujur ngerasa tertarik buat nonton dan akhirnya buru-buru nonton setelah (hampir) semua deadline paper selesai tuh karena Rachel bilang kalau film ini jenisnya mirip-mirip Gone Girl yang plot twist gitu. Dan setelah selesai nonton, aku sepakat kalau film ini bagus. BA-NGET (ya setidaknya buat w yang emang punya interest soal perempuan dan kekerasan seksual).

Ok, tanpa basa-basi lagi, kita coba share ya kira-kira apa aja yang aku tangkep dari film ini.
Oh, iya, it would be a huge spoilers ya, jadi buat yang emang pengen nonton mending bacanya berhenti sampai sini, nonton dulu, ntar balik lagi kalo udah kelar nonton :D.

Basicnya Gerald's Game nyeritain tentang pasangan suami istri yang beberapa tahun belakangan ini hubungannya lagi nggak baik-baik aja. Mereka akhirnya mutusin buat rehat sejenak dan berusaha buat memperbaiki situasi tersebut dengan cara berlibur ke rumah peninggalan orang tua Jessie (tipikal vila orang barat ya: di tengah hutan, sepi, tetangganya jauh banget kaya muke lu :P). Salah satu upaya  perbaikan hubungan versi Gerald adalah ngelakuin hubungan seksual dengan variasi baru atau diluar kebiasaan mereka: eksekusi ala-ala BDSM gitu dimana pasangannya bakal diborgol, seolah-olah lagi ada dalam situasi yang tidak berdaya, dan momen itulah yang kemudian bakal membangkitkan desire mereka berdua. Tapi nggak lama setelah Gerald ngeborgol kedua tangan Jessie ke setiap tiang tempat tidur, Gerald mengalami serangan jantung yang akhirnya menyebabkan dia meninggal dunia tepat di atas tubuh istrinya. Waktu itu Jessie terguncang banget, awalnya dia nggak percaya kalau ini nyata, jadi dia berusaha buat menyadarkan Gerald sekuat tenaga. Tapi Gerald malah terjatuh dari atas tempat tidur, kepalanya membentur lantai, menyebabkan pendarahan hebat, dan darahnya tumpe-tumpe di lantai. Jessie sangat terpukul. Ternyata sang suami benar-benar pergi untuk selamanya. Dengan tangan yang masih terborgol, dia berusaha buat cari pertolongan dengan cara teriak "Help!!!" sekencang mungkin, while she knows that there's no one could listen the scream. Batin Jessie pun terguncang. Dia menangis sambil sesekali masih berusaha berteriak minta tolong. Beberapa jam kemudian, ada anjing hitam yang memasuki rumah dan berjalan ke kamar tempat dimana Jessie dan mayat Gerald berada. Melihat TKP, si anjing mulai mendekati mayat, mengendus mayatnya, menjilati darah yang berlumuran di lantai, kemudian mulai menggigit tangan Gerald, mencabik kulitnya, dan menyantapnya. Jessie shock bukan main, dia ngelemparin buku tebal ke arah si anjing tapi anjing tersebut tetap kembali menyantap tubuh Gerald. Borgol yang terikat pada kedua bagian tangannya membuat ia seolah-olah tidak bisa melakukan apapun. "Help!!!!" Katanya sambil berlinang air mata.

Setelah itu, penonton bakal dibawa pada proses berpikir Jessie dalam menyelesaikan masalah yang lagi dihadapi. Premis pertama yang disuguhkan adalah, will Jessie just sitting there, diam nggak berdaya, hanya menyaksikan mayat suaminya menjadi santapan anjing, menunggu pertolongan padahal dia tau banget nggak bakal ada orang yang mampir ke rumah tersebut sampai beberapa minggu ke depan. Atau Jessie bakal berupaya untuk menyelamatkan diri dari situasi tersebut soalnya dia juga tau kalo perubahan nggak bakal dateng begitu saja, dalam konteks yang lebih luas, perubahan nggak bakal bisa terjadi kalau kita cuma diam, meratapi nasib, tanpa ngelakuin usaha. Well, that's a very good point to start the story.

Cerita escaping Jessie ini sebenarnya adalah ilustrasi tentang kasus kekerasan seksual terhadap perempuan, to be more specific, subaltern dalam konteks ini adalah anak-anak perempuan korban kekerasan seksual oleh ayah kandungnya, kaya yang dialamin sama Jessie. Long story short, dalam proses mengurai pikiran untuk menyelamatkan diri, Jessie membawa kembali memori kelam waktu usianya masih 12 tahun: sang ayah meminta Jessie duduk dipangkuannya and something bad (even worst) just happened in a sec. Sejak saat itu, makna kehidupan bagi Jessie tak lagi sama. Situasi tersebut diilustrasiin secara simbolik (jadi secara implisit gitu, diandaikan) melalui adegan dan karakter dalam film yang berkaitan dengan apa yang terjadi pada korban kekerasan seksual; situasi kaya gimana yang dihadapi, proses perubahan apa yang terjadi, gimana dampak psikologisnya, dan mencoba membagikan perasaan dari sudut pandang korban (kesedihan, kebingungan, ketakutan, dan keputusasaan).

Pertama, Borgol (as a material) dan diborgol (as an act) bisa dilihat sebagai simbol "terbelenggu" (terjebak sampai tidak bisa melakukan apapun) yang kemudian menggambarkan gimana sih para korban yang terperangkap dalam pengalaman kekerasan seksual yang pernah dihadapin: rasa sakit yang diderita, sulitnya menerima kenyataan, memilih untuk diam karena dia merasa gak bakal ada orang yang bisa nolongin dia, memilih untuk diam dan meratapi nasib dan cerita kelamnya. Tapi kemudian seiring berjalannya waktu Jessie menyadari kalau diam sebenarnya nggak bakal menyelesaikan masalah, diam nggak membantu dia untuk keluar dari belenggu, diam nggak bakal mendatangkan perubahan dalam hidupnya, dan justru kesunyian (silence) semakin lama akan semakin menggerogoti dirinya (jiwa dan raganya) sampai habis, sampai jadi debu. Membunuhnya secara perlahan. Lewat sini kita bisa liat bahwa untuk akhirnya berani memilih speak up adalah sebuah proses yang sangat panjang.

Kedua, when she finally can remove the handcuff, dengan menguliti pergelangan tangannya pakai pecahan gelas, diikuti dengan darah yang mengalir, serta teriakan rasa sakit, Jessie menggambarkan bahwa keputusan buat speak up itu bukan sesuatu yang mudah. Keputusan untuk speak up tuh bahkan dilihat sebagai pertaruhan antara hidup dan mati karena dalam prosesnya dia nggak boleh sampai salah langkah. Speak up nggak semudah kedengarannya, kenapa, karena pilihan itu sebenarnya justru membawa korban kembali ke masa-masa kelam tersebut yang dipenuhi penderitaan, bahkan bisa bikin traumanya muncul lagi karena pilihan tersebut bakal membawa korban pada stage yang bisa jadi lebih menyakitkan dari pengalaman kekerasannya dulu. Ya bayangin aja deh, sekedar menerima sebuah kenyataan (bahwa semuanya memang benar terjadi) tentang peristiwa itu tuh udah pasti menjadi kesulitan buat korban, luka yang lama belum tentu benar-benar pulih, barangkali korban hanya lupa dalam waktu yang lama, eh tau-tau disuruh mengingat dan menceritakan kembali kepahitan tersebut. But at the same time, dia tau persis once she did it dia bakal ketemu sama sebuah titik cerah, bahwa keputusan tersebut bisa menjadi langkah baik yang mengubah dirinya dan kehidupannya.

Ketiga, karakter Joubert yang dibangun di dalam film menjadi imaji pelaku kekerasan seksual dimata para korban. Raymond Andrew Joubert adalah seseorang yang "menghantui" Jessie, dia digambarkan sebagai orang yang menderita Akromegali (proses pembesaran progresif pada tangan, kaki, dan wajah karena kelebihan hormon kelenjar hipofisis) sehingga Joubert punya dahi yang super lebar, ukuran tangan yang nggak normal; panjang sampai ke lutut. Bentuk rupanya bener-bener menakutkan. Ini simbol bahwa sejak kekerasan seksual terjadi pada korban, imaji korban terhadap pelaku tidak lagi sama. Gambaran ayah dalam benak Jessie berubah, bagi Jessie ayah bukan lagi sosok yang hangat dan penuh cinta, menyayanginya dengan tulus, dan menjadi tempat dia berlindung tetapi sosok ayah berubah menjadi sosok paling menyeramkan yang pernah dia temui; menghantuinya setiap malam, membuatnya takut, dan nggak bisa tidur. Selain rupa, perilaku Joubert juga sangat tidak bermoral (nggak ada akhlaknye kalau kata Keanu), dia punya kebiasaan membongkar makam untuk ngambil perhiasan di dalam peti tersebut, melakukan mutilasi, dan suka menyetubuhi mayat dan laki-laki. Simbol dari kebiadaban para pelaku kekerasan seksual, dalam konteks ini ayah kandung, dimana sih akal sehat dan hatinya?

Keempat, kemunculan "monster" dalam film ini juga menjadi abstraksi jelas dari potret traumatik  yang mendalam bagi para korban kekerasan; situasi menakutkan seperti apa yang dialami korban, imaji pelaku menurut korban, arti dari perbuatan yang dilakukan pelaku menurut korban, sampai ke dampak apa yang dialami korban. Jessie bahkan sampai mengalami gangguan ingatan, yes it possibly happened to people who undergo serious trauma often block out memories. Nggak hanya soal psikis, peristiwa tersebut juga memengaruhi cara Jessie dalam membuat keputusan misalnya dalam menentukan pasangan hidup. Secara nggak sadar, Jessie memilih pasangan yang usianya jauh lebih tua dan berprofesi sebagai Lawyer. Alam bawah sadarnya menuntut Jessie untuk memilih orang yang kriterianya beririsan dengan sang ayah. Merujuk ke teori Freud tentang repetition complusion, anak dari orang tua yang abusive akan memilih pasangan yang abusive juga. Jadi secara nggak sadar, pada dasarnya, seseorang selalu ingin mengulangi masa kecilnya yang terluka itu, mengulanginya dalam konteks upaya menyembuhkan luka tersebut. Tapi yang luput di dalam pikirannya adalah bahwa dengan melakukan pola serupa, luka yang muncul juga serupa sehingga rantai tersebut terulang kembali. Terlihat melalui bagaimana hubungan Jessie dan Gerald, sebenarnya sosok Gerald yang abusive disampaikan secara implisit melalui adegan adegan di atas tempat tidur sebelum Gerald mendapatkan serangan jantung sama diadegan ending, waktu Jessie berjalan mendekati Joubert kemudian wajah Joubert berubah menjadi wajah ayahnya, lalu berubah lagi menjadi wajah Gerald. Scene ini cukup ngejelasin kalau ketiga tokoh tersebut punya kesamaan: abusive.

At the end of the film, kita semua tau kalau Jessie bisa keluar dari situasi tersebut; speak up for her justice. Terus dia mutusin buat mencairkan asuransi pribadinya dan bikin yayasan khusus buat anak-anak perempuan dan laki-laki yang seperti dia. Jessie rutin datang ke sana untuk mendengarkan cerita kekerasan seksual dari korban para korban. Dikesempatan itu, Jessie juga membagikan ceritanya. Dia berhasil merubah sebuah cerita kelam menjadi pengalaman berharga yang bisa membantu anak-anak bernasib sama untuk bangkit dan menyadari bahwa, even when it comes the moment, when you have to face the ugly truth, when you are the victim of the story, it actually doesn't mean that your world is suddenly end, you have to belive that there's always a way out. Jessie jadi contoh kalau siapapun kamu dan hal apapun yang pernah kamu hadapi, kamu selalu punya kesempatan buat tetap menjalani hidup dengan lebih baik. Like, tenang, karena sebenarnya, kamu nggak sendirian. Secara keseluruhan (diperkuat dengan the ending scene) kita tuh sebenernya lagi belajar teori agency yang sesungguhnya, geng! :D Bahwa setiap orang punya daya untuk berpikir, saya harus melakukan apa, dan akhirnya mampu melakukan perubahan atas dirinya, kehidupannya, sekitarnya, dan bahkan untuk orang-orang lain diluar sana yang bernasib sama seperti dirinya.

***
"And so I know, that you are much smaller than I remember"