Mary Kills People: the Culture of Death

"Any human connection is hard but dying was way more harder, I promise you.
Dont be afraid, love doesn't kill, its life itself, and shines with heavenly joys." 
***


I do believe that we will always learn new things from movies! That's why I do love watching film so freaking much. And what i learned this time is Euthanasia, ada yang udah tau that unpopular weirdo word?
Ok, sedikit cerita tentang Mary Kills People. Basically, film ini nyeritain tentang proses escaping Mary dan kedua temannya; Bennet & Annie, yang diem-diem buka praktik ilegal yaitu euthanasia di Canada. Iya, based on my research, medically assissted dying memang baru legal di Canada pada tahun 2016. Let's do check their personal background! Mary adalah ER doctor (Emergency Room doctor alias dokter jaga di IGD), sedangkan Bennet adalah mantan dokter bedah plastik (yup, its because izin praktiknya dicabut karena dia pernah ketangkep basah sedang dibawah pengaruh obat-obatan ketika melakukan operasi), dan Annie adalah seorang suster. Mereka bertiga dipertemukan di Rumah Sakit Eden General dan sepakat mau bersekongkol buka praktik euthanasia dengan alasan kemanusiaan; bahwa orang-orang dengan terminal illness punya hak dan kebebasan untuk menentukan kematiannya. Diawal aku bilang kalo film ini nyeritain tentang proses escaping Mary karena along the way praktik euthanasia yang mereka geluti "kecium" sama FBI. Akhirnya FBI mengirim Ben buat nyelidikin salah satu kasus yang berkaitan sama praktik euthanasianya Mary dan kawan-kawan. Jadi apa yang dilakuim Mary emang sangat kontroversial bagi masyarakat Canada pada masa itu. Buat detail ceritanya kalian tinggal nonton sendiri yaa di mola tv. Aku sangat merekomendasikan film ini untuk kalian yang suka film bergenre psychological thriller tapi bedanya yang ini tuh vibenya nggak rumit, kerung, serius, dan nggak ngebosenin karena ada touch of dramanya. Penonton bakal disuguhin banyak konflik; Mary dan mantan suaminya dengan isu perang dingin hak asuh anak, terus Mary dan anak remajanya yang mulai penasaran sama "pekerjaan"nya, ada juga konflik Mary dan Ben yang drama banget karena pake cinlok segala, terus konflik antara Mary-Bennet-Annie sebagai rekan kerja dan teman baik, dan childhood trauma Mary yang juga nggak kalah seru.

What is euthanasia?

Mengutip dari website pemerintah Belanda, "Euthanasia is the termination of life by a physician at the patient's request. The aim is to end unbearable suffering with no prospect of improvement. Euthanasia is performed by the attending physician administering a fatal dose of a suitable drug to the patient on his or her express request."
To be more specific, "unbearable suffering with no prospect of improvement" itu mostly dialami oleh pasien-pasien yang menderita terminal illness; disease or condition which cant be cured and is likely to lead to someone's death. Salah satunya kanker (well, thats all i know 😂 since im not a physician ✌). Jadi gak semua orang eligible untuk assessing euthanasia yaa, there are two basic conditions; constant & unbearable physical suffering and incurable. Lalu bisa juga ada kondisi penyerta kaya difabel dan extreme old age. Sebenernya kriteria orang yang boleh mengajukan euthanasia selalu berkembang, di Switzerland, Netherlands, dan Belgium misalnya, people who psychologically suffering juga diperbolehkan assessing euthanasia karena penyakit itu nggak cuma penyakit fisik kan, tapi ada juga penyakit mental. Terus euthanasia juga hanya legal di beberapa negara liberal, jadi nggak semua negara sepakat dengan praktik ini yaa, chill. Tiga negara pelopor euthanasia adalah; Switzerland (Dia bahkan punya istilah "death tourist" yang merupakan pengelolaan fasilitas euthanasia oleh agency dan dilindungi hukum for people around the world who are physically and or psychologically suffering and decided to experience euthanasia), Belgia (in 2014 Belgium became the first country in the world to extends euthanasia to terminal ill children of any age), dan Belanda. Kemudian diikuti dengan Jerman, Prancis, Canada, Jepang, beberapa negara bagian AU, New Zealand, beberapa negara bagian US, dan lain-lain which I dont know.

The "why"

Kok ada sih orang yang assessing euthanasia di dunia ini?!?!!!
Ada. Banyak 😂. Mari kita bahas dari perspektif budaya!

I was just highlighting these sentences from the journal called, "Physician-Assisted Suicide: An Anthropological Perspective". Melalui tulisannya, Mwaria berusaha menjelaskan hidden dimensions of culture dari praktik euthanasia, kaya kenapa sih euthanasia dianggep gak make sense bagi banyak orang? Its simply because every human being has their own cultural background. Menurut Mwaria, "Each of us is socialized from birth to particular sets of behavioral expectations (roles) governing specific statuses (positions in patterns of reciprocal relationships, for example, 'husband' vs. 'wife'). This is what makes it difficult for us to accept cultural differences on the part of others or even nonconforming behavior in our own society. Changes in one set of behavioral expectations may effect changes in many others in a rippling effect, though these often occur without our conscious awareness [..] Cultural expectations play a considerable role." Yaa bisa jadi pengantar lah buat kita yang bingung, kok ada orang yang sepakat dan melakukan euthanasia.

Secara lebih lanjut, setelah baca artikel-artikel online, jurnal ilmiah, nonton film, dan hasil analisis sotoy aku aja sih WKWKWK aku nyoba melakukan pemetaan terhadap faktor-faktor apa aja sih yang biasanya mendukung seseorang untuk assesing euthanasia.

Philosophical reason
"Death gives life meaning. Lets agree that life is precious because it ends." --Mary (S2 eps. 6). Mereka yang melakukan euthanasia melihat kalo hidup justru jadi bermakna dan bernilai karena ada yang namanya kematian. Jadi secara filosofis, mereka sudah memberikan value pada kematian itu sendiri.
Kalo dihubungkan sama kebudayaan, euthanasia tentu kontroversial karena keputusannya dianggap gak biasa. Meskipun punya latar belakang budaya yang sama, orang-orang tanpa terminal illness pasti tetep kebingungan ngelihat ada orang yang yakin banget mau meninggal kapan, dimana, sama siapa, dan dengan cara yang kaya gimana. Itu karena kita nggak hidup dalam dunia yang sama dengan mereka dan karena hidup yang kita jalani berbeda, cara pandang kita terhadap kehidupan dan kematian pun jadi berbeda. Kita cenderung memberi value pada kehidupan sedangkan pasien terminal illness yang assessing euthanasia justru memberi value pada kematian. Sesimpel karena kita tidak menjalani hidup seperti mereka menjalaninya. Makanya euthanasia jadi punya makna dan nilai yang berbeda juga.

The value of the act of euthanasia
Pada dasarnya sih, masyarakat ternyata punya pandangan lain terhadap orang-orang dengan terminal illness apalagi mereka difabel dan lansia pula. Menurut Mwari, "Particularly in our culture, where independence and self-reliance are valued while dependence is stigmatized as undignified and shameful, old age, disability, dependence, and deprivation pose serious challanges to the formation of social policy." Ini somehow memosisikan mereka sebagai minoritas karena pandangan dunia terhadap mereka itu basically tidak sama sehingga ada gap dan inequality between them and others. Jadi akhirnya the act of euthanasia dilekatkan pada value "death with dignity", "peacefully death", "a good death", dan lain-lain. Pengalaman mereka yang kemudian membentuk value tersebut. Kenapa disebut "death with dignity"? Karena bagi mereka, euthanasia adalah bentuk kebebasan yang bisa diachieve seseorang untuk keluar dari belenggu konstruksi sosial; stigma terhadap pasien terminal illnes, framing, inequality, humiliation, access, dan lain-lain.

Physiological reason
Emang seberapa suffer sih mereka tuh?
"From what i hear, Betty Leisko died like everybody else who ever lived ever but she choose to take her own life [..] She wanted to die & she tried her best to do it. She suffered catastrophic injuries and the rest of her live wud have been a physiological & psychological nightmare [..] almost everyone dies hooked up to machines designed to prolong their lives when there's no life left to live." --Mary (S2, eps. 6). Semenderita apa? Yaa bahkan mereka udah nggak punya harapan hidup. Bisa karena penyakit yang diderita emang belum ada obatnya sehingga nggak bisa sembuh dan satu-satunya hal yang bisa mereka lakuin adalah menunggu kematian. Bisa juga karena nggak ada atau sangat sulit dapet organ pengganti untuk transplantasi (jantung salah satunya). Atau bisa juga karena kondisi fisik mereka yang nggak memungkinkan untuk dilakukan operasi besar (dalam film ada salah satu pasien yang secara medis difonis mustahil bisa selamat kalo ngejalanin operasi karena memang keadaan fisiknya sangat nggak memungkinkan). Dari sini aku ngerti kenapa euthanasia seems make any sense to them, bahkan euthanasia menjadi pilihan paling "mending" diantara kehidupan penuh derita yang udah mereka jalanin bertahun-tahun; both mentally and phisically.

Any other additional conditions
Pertama karena mereka sebenarnya nggak tega ngelihat pasangan, keluarga, atau teman deket yang harus stuck on him or her for 24/7, its causing they are seems have no life at all. Katanya, "The people you love feeding you and wiping your ass cus you cant move and cant work. And they are feeling sorry for you." (from BBC Stories).  Kedua adalah social burdens; financial issues, loneliness, dan lain-lain. Mengutip Mwaria, "The social-burdens argument is particularly problematic in the circumstances associated with physician-assisted suicide--terminal illness, and perhaps even severe chronic illness, severe disability, and extreme old age. Since the costs of medical treatment, hospitalization, palliation, rehabilitative treatment, domestic assistance, and other terminal and chronic care can be enomous."

Moral of the action
"The beauty of how I lived my life [..] I made my own choice all the way through. I did whatever I wated. And im getting to do 'this' my way too. Dont worry, it was the fullest life." --Martha (S3, eps. 4).
Jadi hak yang coba diperjuangkan pada praktik euthanasia adalah liberalisasi atau kebebasan. Ada pandangan bahwa hidup itu hak semua orang jadi mati pun hak semua orang. Kalo dalam film, kira-kira perspektif para pasien yang bisa ku tangkep tuh kaya gini, "Eh, gue udah hidup menderita bertahun-tahun ya menghadapi prolong-life-designed medications (all the treatment, obat-obatan, mesin, konseling, dll) yang mana sembuh kaga, makin menderita iya. Itu semua jatohnya cuma memperlambat kematian tanpa mengurangi rasa sakit so whats the point? Masa gue buat meninggal aja masih harus ngerasa kesakitan sih, gila kali? I deserve to die peacefully ya tolong." Begitu. Mati dengan cara euthanasia dianggap painless, pergi seperti lagi tertidur, dan itu yang "dikejar" sama orang-orang.

And so we know that we all are basically have no idea about the suffer that someone have been thru.

Well, in my personal opinion, yang kemudian  membedakan kita sama mereka yang memilih buat ngeduluin takdir tuhan lewat assessing euthanasia adalah agama. Soalnya meskipun kita punya hak atas kematian kita sendiri, agama disini akhirnya memberikan kita perspektif lain tentang kehidupan melalui: pelekatan makna pada ritual-ritual keagamaan (berdoa; ngaji, sholat, dan jenis-jenis ibadah lain dalam agama lain), konsep bersyukur, konsep ikhlas, kepercayaan terhadap dosa, surga, neraka, pahala, value dari suffering, makna sakit, ujian, dan lain sebagainya.

***
Well, the act of suicide-related pernah aku bahas waktu ngereview film Midsomar melalui instagram story (mungkin akan aku upload juga disini nanti) bahwa ada banyak ritual jaman dulu (kaya Attestupa) yang kalo dilihat dalam konteks hari ini rasanya udah nggak make sense. Itu terjadi karena kognisi manusia mengalami perkembangan. Tapi setelah nonton film Mary Kills People ini, I do believe that what we seen on Midsomar is actually still relevant nowdays but comes with a lil different "touch". Soalnya root dari ritual Attestupa dan Euthanasia tuh ternyata sama aja kan death with dignity? Bedanya, kalo Attestupa mah dianggep painful karena eksekusinya harmful yaa loncat dari tebing dan kalo nggak mati bakal ditumbuk sampai gone. Nah, kalo euthanasia mah justru dianggep painless karena eksekusinya lethal injection. But still, they both were rooted to the concept of death with dignity. Kalo kata Maroon 5 sih, wear different clothes but played the same games.

And... Thats all 😂
Oh iya, berikut adalah beberapa film yang ada praktik euthanasianya (selain Mary Kills People) yang udah pernah ku tonton:
Me Before You (Jadi si cowok kecelakaan sampai cacat dan akhirnya decided untuk ke Switzerland to experience the death tourist)
2 Hearts (Kalo yang ini, si cowok terminal illness, not sure penyakitnya apa, lalu koma sampai batang otaknya udah nggak berfungsi lagi, jadi secara medis atau keilmuan sudah dinyatakan meninggal. Dalam kondisi kaya gitu, dokternya yang kemudian memutuskan buat approaching the assisted suicide ke keluarga si cowok, its called voluntary euthanasia).

Comments

Popular posts from this blog

Sarma: Representasi Anak Perempuan Kebanyakan

Midsommar: A Cultural Practices of Making Sense of Suicide

Selesai: A "Public Arena" of Marital Infidelity in Men's Perspective