My Very First International Outing!
Aberdeen, 14 Juli 2016
01:35
Its midnight and I
miss you so bad.
Aku pernah bermimpi,
Untuk bisa menuliskan satu saja cerita tentang
negeri orang lain,
Untuk bisa melantunkan nada-nada dari sebuah
piano di tempat yang jauh sekali dari rumah,
Untuk bisa menampilkan dan menyaksikan sebuah film yang aku buat sendiri di belahan dunia yang lain,
and my parents
believe that I can reach that stars with my knowledge, and I really do, Mom,
Dad!
Mah, Pah, as you know,
menjalani hidup di tiga tahun belakangan ini tuh nggak mudah. Terutama moment-moment
dimana kakak cuma bisa nangis karena PTN-PTN itu masih aja bilang maaf bahkan
di tahun kedua kakak mencoba. But you never leave
me alone, that’s why I fight for. Sampai sebuah kesempatan besar itu tiba
dan tanpa diduga ternyata bisa mengantarkan kakak hari ini ke sini, ke
Aberdeen, Scotland, UK, bahkan di tahun kedua kakak kuliah di Undip. Its such a dream come
true! And its still hard for me to believe!
Mah, Pah, ternyata kita bisa berada sejauh ini
sekarang, beribu-ribu kali lipat dari jaraknya Bandung – Semarang. Biasanya
kita cuma beda waktu adzan, tapi sekarang sampai beda jam tidur. Biasanya kita
cuma beda tiga sampai lima derajat, sekarang kita malah beda musim. Biasanya
kakak jam segini udah tidur, tapi sekarang nggak. Sayang, lusa kakak udah gak
di Aberdeen lagi, puas-puasin ah hirup udara UK
hehe karena kakak belum tau, kapan bisa balik lagi.
Mah, Pah, kemarin kakak presentasi disebuah
konverensi internasional. Ini bener-bener pertamakalinya kakak ngomong bahasa
inggris di depan orang banyak. Rasanya deg-degan banget. Tangan kakak sampai
dingin. Kaki kakak selalu kakak goyang-goyangin karena gugup. And im breathing like
im running. Tapi ternyata kakak bisa. Alhamdulillah, berkat doa mama dan
papa, presentasi hari itu berjalan lancar. Sayang, mama sama papa gak disini
untuk lihat kakak secara langsung. Dan tau nggak, setelahnya, banyak lho orang
yang berjalan mendekat dan memberi selamat sama kakak. Katanya, “This is the good
beginning.” Kakak seneng banget bisa dapet respon positif in my first outing to
an international conference. Dan, oh, kakak selalu dikira lagi ambil S2
atau S3 hahaha kakak cuma bisa bilang amin. But, wait, am I looks
that old?
Mah, Pah, ternyata video dokumentasi yang kakak
buat diputer di IIFET18th Biennial
International Conference 2016. Tepat di hari yang sama, satu sesi
setelah kakak presentasi. Beberapa jam sebelum kakak maju, Miss Meryl bilang kalau ada satu
peserta yang nggak bisa hadir, jadi jatah waktunya akan dipakai untuk
menayangkan video berdurasi 8 menit 48 detik yang kakak buat sampai gak tidur
itu. Its beyond my
expectation. Kakak melihat muka-muka antusias penonton ketika menyaksikan
apa yang coba kakak suguhkan disetiap menitnya dalam video tersebut. Apa lagi
ketika videonya selesai diputar sambil diiringi tepuk tangan, kakak bisa
dengan jelas melihat bagaimana orang-orang menghargai karya kakak yang
sebenernya nggak ada apa-apanya. Hhhhhh, gini
ternyata rasanya jadi Hanung Brahmantyo. Terbayar sudah lelahnya begadang kakak
waktu itu.
Mah, Pah, pagi ini kakak dapet satu kejutan lagi.
Pada plenary
session, tiba-tiba kakak mendengar nama kakak disebut. Iya, Zahrah
Izzaturrahim disebut dari atas podium di sebuah ruangan besar seperti bioskop
dengan puluhan orang yang datang. Ternyata kakak dapat award! It’s a “Highly Commended in the Rosemary Firth
Competition for Presentations on the Economics of Gender in Fisheries”. Selain karena menjadi satu-satunya peserta yang paling muda kemarin, katanya ini juga merupakan bentuk penghargaan dari IIFET atas usaha dan kemauan kakak. Kakak udah sangat
bersyukur karena dikasih kesempatan untuk bisa datang ke sini, tapi Allah kasih
kakak lebih dengan award
ini. God never
fails to please me, Alhamdulillah.
Mah, Pah, ternyata kakak nggak cuma ke Aberdeen
aja. Pak Dedi ajak kakak mampir ke
Amsterdam, AMSTERDAM, mah! Kota yang juga pernah mama kunjungi di tahun 2003.
Dulu kakak sampai nangis karena mama pergi, kakak pengen ikut. Akhirnya,
sekarang kakak bisa kesini dan melihat apa yang pernah mama lihat. Seru ya ternyata. Coba
aja kita bisa pergi ke sini sama-sama. Jalan-jalan di tengah kota, makan ice cream,
foto-foto, belanja, dan hunting
pernak-pernik lucu untuk melengkapi art journal atau scrapbook kita!
Eh iya, disini juga banyak makanan dan rempah-rempah indonesianya, pah. Jadi
kalau ke sini, papa nggak usah khawatir soal makanan. Dan, dek, asal kamu tau,
setiap kakak makan sesuatu di sini, setelah gigitan pertama, kakak selalu
bilang, “Naufal, kamu pasti suka ini” dalam hati. Ternyata setiap sudut di kota
ini selalu mengingatkan kakak sama kalian semua, so I feel that we
never far apart.
Mah, Pah, satu lagi. Dulu kakak ogah-ogahan les
piano. Sampai pernah minta berhenti karena udah bosen dan males baca-baca not
balok setiap hari. Tapi mama pernah bilang, setiap kakak main piano klasik mama
selalu merem, you
always try to feel it with your heart, dan ngebayangin kalo itu dilantunkan
pada konser internasional di negara lain. Dan itu kesampean, mah! Walaupun
bukan di konser internasional bahkan bukan di acara apa pun. Jadi, dihari
terakhir kakak di Amserdam, kakak terbangun pagi-pagi karena mendengar suara
piano. Kakak kira kakak cuma salah denger. Ternyata nggak salah, Tante Ratih
memang punya piano di rumah. Dan beberapa jam sebelum kakak pergi ke airport
untuk pulang ke tanah air, kakak coba mainin lagu Canon in D dan Sonata No. 16 in C Major K 545-1(Allegro)
di rumah Tante Ratih. Hahaha akhirnya kesampean juga main piano di luar negri. Mission accomplished!
:D
Oh, iya…
Mah, Pah, mahasiswa-mahasiswa yang lagi kuliah di
Aberdeen mendoakan kakak supaya bisa kuliah di sini or at least bisa
balik lagi ke sini. Nggak cuma itu, orang-orang yang kakak temui di Belanda
juga berulang kali bilang ke kakak kalau kakak harus balik lagi ke Belanda, supaya
bisa ketemu mereka lagi. Apa lagi waktu ke Wageningen University, kakak
dikira lagi lihat-lihat kampus karena mau kuliah di sana. Bahkan orang yang baru kakak kenal pun ikut berdoa supaya impian kakak jadi kenyataan. Semesta mendukung, mah, pah. Amin yaa. Semoga Allah belum tidur jam segini :-).
***
Mah, Pah, honestly, kakak
pernah sedih banget waktu kakek malah seneng karena kakak nggak keterima di
UGM. "Yaudahlah bagus. Kuliah mah di Bandung aja." katanya, dengan muka yang sumringah. Tapi belakangan kakak baru tahu, ternyata kakek cuma belum siap berada jauh dengan
cucuk pertamanya ini. Kakek bilang sama kakak kalau kakek takut kakak jadi
nakal, lupa sholat, nggak ngaji, dan melakukan hal-hal aneh. Makanya kakek
pengen kakak ada di Bandung aja, sama kakek, biar dekat. Tapi ternyata kakak
keterima di Undip. Dan kakek bener-bener was-was kakak kuliah di luar kota.
Kakek juga sempat ragu sama jurusan yang kakak ambil. Nggak berhenti sampe
situ, kakak juga pernah menahan air mata
waktu kakek bilang, “Mama papa kamu pinter. Satunya S2, satunya lagi insinyur.
Masa kamu nggak!”. Rasanya sedih banget, karena waktu itu posisinya kakak belum kuliah dimanapun, kakak masih dalam proses berjuang. Tapi memang nggak mudah menjadi anak kalian, because you two are
soooo adorable. Then
there’s no choice, kakak hanya harus membuktikan sesuatu sama kakek. Dan kemarin
kakak seneng banget waktu tau kalau kakek sama nenek bangga karena cucuknya
bakal presentasi di international
conference di Eropa. Bahkan lucunya mereka sampai sengaja menyisihkan uang
untuk jajan kakak di sini, katanya. Nenek juga sampai maksa untuk ikut anter ke
bandara padahal kondisi badannya suka nggak fit kalau bepergian. Selain mama
dan papa, kakek adalah satu-satunya orang yang kakak sms setiap kakak transit
atau pas sampai di Aberdeen atau di Amsterdam. Karena kakak tau, kalau kakak
balik ke Semarang pun, kakek suka ikutan khawatir nunggu kabar dari kakak, udah
sampai atau belum. Dan sepulang dari perjalanan kemarin, terlihat dari raut
wajahnya bahwa sudah tidak ada hal yang perlu ia khawatirkan lagi pada
cucuknya. Kakak sudah besar, sudah bisa jadi contoh buat cucuk-cucuk kakek yang
lain.
Mah, Pah, waktu lagi di Cianjur kakak cerita
banyak hal sama ABG yang lagi galau pilih jurusan dan universitas. Pas makan
siang, kakek bilang sama Alya dan Ica, “Tuh, lihat, kakak
aja yang kuliah di Undip bisa pergi ke Eropa. Hebat. Kuliah mah dimana saja,
yang penting harus sungguh-sungguh!” Kakek bangga, mah, sama kakak. Kakak
bahkan pengen nangis waktu denger kakek ngomong gitu.
Perasaan nangis
terus…..
Iya, emang cengeng.
***
Mah, Pah, sampai sekarang pun kakak masih nggak
percaya kalau ada beberapa mimpi kakak yang udah kakak capai. Dari mulai
mimpi-mimpi kecil di birthday wishes list sampai
mimpi-mimpi yang ketika ditulis pun kakak nggak tau itu bisa jadi kenyataan
atau nggak. Walaupun dulu juga rasanya nggak mungkin kakak bisa pergi ke luar
negri, bahkan ke negara-negera yang dekat sekali pun. Eh, taunya pertama kali
pergi langsung ke Eropa. Ternyata bener yaa, Allah tuh nggak pernah tidur,
Allah selalu denger doa-doa kakak, bahkan untuk mimpi-mimpi yang kakak sendiri
aja ragu bisa tercapai atau nggak.
Mah, Pah, sekarang kakak udah punya banyak
mimpi-mimpi baru. Kali ini kakak yakin pada diri sendiri bahwa dalam
beberapa tahun ke depan kerja keras kakak bakal bikin mimpi yang baru ini jadi kenyataan because i do believe that with all the hard work,
there’s no wall between you and your dreams.
Mah, Pah, pada sebuah postingan berjudul Malaikat Tanpa Sayap kakak pernah
bilang kalau, “...kakak bakal buktiin sama kalian, gak ada yang sia-sia episode
dua”. Then here
you go! Memang nggak akan pernah ada yang sia-sia, everything happened for a reason. Dan pengalaman-pengalaman pahit kemarin itu, ternyata bukan kegagalan, tapi
Allah yang selalu punya renacana lain. Dan ini adalah rencana paling indah yang pernah kakak alami, so far. Then I'll remember,
if Allah is making me wait, I have to be prepared to receive more than what I
asked for.
Mah, Pah, kakak nggak tau,
am I make you proud?
Kakak melakukan ini semua untuk kakak, bukan
untuk kalian (seperti yang selalu kalian bilang, raih mimpi-mimpimu
untuk dirimu sendiri, bukan untuk mama dan papa, kami hanya akan mendukung).
Tapi kalian adalah satu-satunya alasan kenapa kakak akan terus berusaha untuk
meraih impian-impian besar kakak. Karena kakak tau, ada dua orang di dunia ini
yang akan sangat bahagia ketika melihat kakak bahagia.
Mah, Pah, kakak bersyukur karena Allah telah
menitipkan kakak sama orang tua seperti kalian.
Malaikat-malaikatku yang tanpa sayap.
Kakak sayang mama, mama, mama, dan papa :-).
P.S: Nggak ada yang salah sama mimpi. Kalo kita
bener-beber bisa mewujudkannya, yang nyinyir bisa apa?


Seneng bacanya, Teh Zazaaah! Sukses terus yaaaa ;)
ReplyDeleteThank you, Ghana. Kamu puuun yaa. Btw kuliah dimana skr?
Delete