Hujan

Soreku manis sekali, Bandungku diguyur hujan.
Dingin sih, tapi siapa yang nggak suka hujan?

Setiap satu tetes hujan mewakili satu rindu baru, satu harapan baru, dan satu keputusan baru: pergi atau tetap tinggal.

Aku suka hujan.
Hujan menghapus senduku,
basahnya melebihi air mataku, sehingga kalau jatuh diatas wajah, sedihku terhapus sudah.

Aku suka hujan.
Hujan menambah nikmat coklat hangatku disetiap tegukannya.
Hangat dari asap yang mengepul dari ujung gelas menyembur wajahku.
Lalu manisnya coklat mengguyur kerongkonganku, ke lambung, lalu kebagian-bagian tubuh lainnya.
Hmmm, nikmat.

Aku suka hujan.
Karena dia akan tetap datang meskipun aku tidak sedang membutuhkannya.

Aku suka hujan.
karena dia tidak sepertimu.
Yang pergi, lalu ntah kapan akan datang lagi.

Uploaded on this web.

Comments

Popular posts from this blog

Sarma: Representasi Anak Perempuan Kebanyakan

Midsommar: A Cultural Practices of Making Sense of Suicide

Selesai: A "Public Arena" of Marital Infidelity in Men's Perspective