Kemana Hari Pergi?
Hi,
Lalu aku bertanya pada hari Selasa, "Apakah kamu berlari-lari ketika Rabu tiba?" Selasa agak berbeda, mungkin dia adalah hari yang paling riang, hingga hanya menyunggingkan senyum disudut bibirnya.
Lalu aku bertanya pada hari Rabu, "Apakah kamu pernah berharap supaya hari Kamis tidak pernah tiba?" Rabu pura-pura tidak mendengar.
Lalu aku bertanya pada hari Kamis, "Kamu sedih ketika Jumat datang untuk menggantikanmu?" Ternyata Kamis mudah tersinggung, makanya ketika malam, kamis terlihat sangat menyeramkan.
Lalu Jumat datang diiringi teriknya matahari, "Apa yang kamu lakukan ketika Sabtu bertugas?" Jumat menatapku. Tanpa suara. Namun tak pernah lepas memandangku. Ada yang salah?
Lalu aku mendapat pertanyaan dari Sabtu, "Sebelum kamu yang bertanya, Kenapa selalu ada rentetan pertanyaan darimu untuk hari?" Ternyata Sabtu itu kritis. "Memangnya nggak boleh?" Aku balik bertanya. Sabtu yang easy going tak enggan menjawab, "Tanyakan saja pada Minggu yang bergoyang, mungkin dia bisa menjawab tanyamu."
Kepadamu, si Minggu yang maha santai membingkai waktuku, "Kemana kamu pergi ketika hari lain menggantikanmu? Apakah kamu sedih ketika harus digantikan oleh yang lain?"
Kepadamu, si perempuan kritis, paling banyak ingin tau, "Kami punya cara sendiri untuk menghadapi siklus seperti ini; datang, dilalui, lalu ditinggalkan. Cuma ada satu cara supaya bisa tetap kuat ketika ditinggalkan."
"Apa?" Kataku, sambil menikmati detik-detik terakhir bersama Minggu.
"Biarkan dia melewati aku bersama yang lain. Hidupnya nggak harus selalu sama kamu kan?" Seketika Senin datang ditirai hujan.
Minggu telah pergi dengan rentetan penjelasannya tentang siklus hari. Aku menarik selimut sambil membenamkan kepalaku di bawah bantal, berusaha meresapi setiap kata yang Minggu ucapkan.
Duh,
Waktu kamu pergi sambil sama yang lain, ternyata aku cuma harus rela. Ya susah, tapi biar aku temukan caraku sendiri. Kamu hati-hati yaa :_)
Comments
Post a Comment