Minggu, 21 Agustus 2016

A Dreamer


Yes, I am.

Aberdeen, 14 Juli 2016
01:35
Its midnight and I miss you so bad.


Aku pernah bermimpi,

Untuk bisa menuliskan satu saja cerita tentang negeri orang lain,

Untuk bisa melantunkan nada-nada dari sebuah piano di tempat yang jauh sekali dari rumah,

Untuk bisa menampilkan dan menyaksikan sebuah tayangan pendek yang aku buat sendiri di belahan dunia yang lain,

and my parents believe that I can reach that stars with my knowledge, and I really do, Mom, Dad!


Mah, Pah, as you known, menjalani hidup di lima tahun belakangan ini tuh nggak mudah. Terutama moment-moment dimana kakak cuma bisa nangis karena PTN-PTN itu masih aja bilang maaf bahkan di tahun kedua kakak mencoba. But you never leave me alone, that’s why I fight for. Sampai sebuah kesempatan besar itu tiba dan tanpa diduga ternyata bisa mengantarkan kakak hari ini ke sini, ke Aberdeen, Scotland, UK, bahkan di tahun kedua kakak kuliah di Undip. Its such a dream come true! And its still hard for me to believe!

Mah, Pah, ternyata kita bisa berada sejauh ini sekarang, beribu-ribu kali lipat dari jaraknya Bandung – Semarang. Biasanya kita cuma beda waktu adzan, tapi sekarang sampai beda jam tidur. Biasanya kita cuma beda tiga sampai lima derajat, sekarang kita malah beda musim. Biasanya kakak jam segini udah tidur, tapi sekarang nggak. Sayang, lusa kakak udah gak di Aberdeen lagi, puas-puasin ah hirup udara UK hehe karena kakak belum tau, kapan bisa balik lagi.


Mah, Pah, kemarin kakak presentasi disebuah konverensi internasional. Ini bener-bener pertamakalinya kakak ngomong bahasa inggris di depan orang banyak. Rasanya deg-degan banget. Tangan kakak sampai dingin. Kaki kakak selalu kakak goyang-goyangin karena gugup. And im breathing like im running. Tapi ternyata kakak bisa. Alhamdulillah, berkat doa mama dan papa, presentasi hari itu berjalan lancar. Sayang, mama sama papa gak disini untuk lihat kakak secara langsung. Dan tau nggak, setelahnya, banyak lho orang yang berjalan mendekat dan memberi selamat sama kakak. Katanya, “This is the good beginning.” Kakak seneng banget bisa dapet respon positif in my first outing to an international conference. Dan, oh, kakak selalu dikira lagi ambil S2 atau S3 hahaha kakak cuma bisa bilang amin. But, wait, am I looks that old? 

Mah, Pah, ternyata video dokumentasi yang kakak buat diputer di IIFET18th Biennial International Conference 2016. Tepat di hari yang sama, satu sesi setelah kakak presentasi. Beberapa jam sebelum kakak maju, Miss Meryl bilang kalau ada satu peserta yang nggak bisa hadir, jadi jatah waktunya akan dipakai untuk menayangkan video berdurasi 8 menit 48 detik yang kakak buat sampai gak tidur itu. Its beyond my expectation. Kakak melihat muka-muka antusias penonton ketika menyaksikan apa yang coba kakak suguhkan disetiap menitnya dalam video tersebut. Apa lagi ketika videonya selesai diputar sambil diiringi tepuk tangan, kakak bisa dengan jelas melihat bagaimana orang-orang menghargai karya kakak yang sebenernya nggak ada apa-apanya. Hhhhhh, gini ternyata rasanya jadi Hanung Brahmantyo. Terbayar sudah lelahnya begadang kakak waktu itu.

Mah, Pah, pagi ini kakak dapet satu kejutan lagi. Pada plenary session, tiba-tiba kakak mendengar nama kakak disebut. Iya, Zahrah Izzaturrahim disebut dari atas podium di sebuah ruangan besar seperti bioskop dengan puluhan orang yang datang. Ternyata kakak dapat award! It’s a “Highly Commended in the Rosemary Firth Competition for Presentations on the Economics of Gender in Fisheries. Selain karena menjadi satu-satunya peserta yang paling muda kemarin, katanya ini juga merupakan bentuk penghargaan dari IIFET atas usaha dan kemauan kakak. Kakak udah sangat bersyukur karena dikasih kesempatan untuk bisa datang ke sini, tapi Allah kasih kakak lebih dengan award ini. God never fails to please me, Alhamdulillah.


Mah, Pah, ternyata kakak nggak cuma ke Aberdeen aja. Pak Dedi ajak kakak mampir ke Amsterdam, AMSTERDAM, mah! Kota yang juga pernah mama kunjungi di tahun 2003. Dulu kakak sampai nangis karena mama pergi, kakak pengen ikut. Akhirnya, sekarang kakak bisa kesini dan melihat apa yang pernah mama lihat. Seru ya ternyata. Coba aja kita bisa pergi ke sini sama-sama. Jalan-jalan di tengah kota, makan ice cream, foto-foto, belanja, dan hunting pernak-pernik lucu untuk melengkapi art journal atau scrapbook kita! Eh iya, disini juga banyak makanan dan rempah-rempah indonesianya, pah. Jadi kalau ke sini, papa nggak usah khawatir soal makanan. Dan, dek, asal kamu tau, setiap kakak makan sesuatu di sini, setelah gigitan pertama, kakak selalu bilang, “Naufal, kamu pasti suka ini” dalam hati. Ternyata setiap sudut di kota ini selalu mengingatkan kakak sama kalian semua, so I feel that we never far apart.

Mah, Pah, satu lagi. Dulu kakak ogah-ogahan les piano. Sampai pernah minta berhenti karena udah bosen dan males baca-baca not balok setiap hari. Tapi mama pernah bilang, setiap kakak main piano klasik mama selalu merem, you always try to feel it with your heart, dan ngebayangin kalo itu dilantunkan pada konser internasional di negara lain. Dan itu kesampean, mah! Walaupun bukan di konser internasional bahkan bukan di acara apa pun. Jadi, dihari terakhir kakak di Amserdam, kakak terbangun pagi-pagi karena mendengar suara piano. Kakak kira kakak cuma salah denger. Ternyata nggak salah, Tante Ratih memang punya piano di rumah. Dan beberapa jam sebelum kakak pergi ke airport untuk pulang ke tanah air, kakak coba mainin lagu Canon in D dan Sonata No. 16 in C Major K 545-1(Allegro) di rumah Tante Ratih. Hahaha akhirnya kesampean juga main piano di luar negri. Mission accomplished! :D

Oh, iya…

Mah, Pah, mahasiswa-mahasiswa yang lagi kuliah di Aberdeen mendoakan kakak supaya bisa kuliah di sini or at least bisa balik lagi ke sini. Nggak cuma itu, orang-orang yang kakak temui di Belanda juga berulang kali bilang ke kakak kalau kakak harus balik lagi ke Belanda, supaya bisa ketemu mereka lagi. Apa lagi waktu ke Wageningen University, kakak dikira lagi lihat-lihat kampus karena mau kuliah di sana. Bahkan orang yang baru kakak kenal pun ikut berdoa supaya impian kakak jadi kenyataan. Semesta mendukung, mah, pah. Amin yaa. Semoga Allah belum tidur jam segini :-).
***
Mah, Pah, honestly, kakak pernah sedih banget waktu kakek malah seneng karena kakak nggak keterima di UGM. "Yaudahlah bagus. Kuliah mah di Bandung aja." katanya, dengan muka yang sumringah. Tapi belakangan kakak baru tahu, ternyata kakek cuma belum siap berada jauh dengan cucuk pertamanya ini. Kakek bilang sama kakak kalau kakek takut kakak jadi nakal, lupa sholat, nggak ngaji, dan melakukan hal-hal aneh. Makanya kakek pengen kakak ada di Bandung aja, sama kakek, biar dekat. Tapi ternyata kakak keterima di Undip. Dan kakek bener-bener was-was kakak kuliah di luar kota. Kakek juga sempat ragu sama jurusan yang kakak ambil. Nggak berhenti sampe situ, kakak juga pernah menahan air mata waktu kakek bilang, “Mama papa kamu pinter. Satunya S2, satunya lagi insinyur. Masa kamu nggak!”. Rasanya sedih banget, karena waktu itu posisinya kakak belum kuliah dimanapun, kakak masih dalam proses berjuang. Tapi memang nggak mudah menjadi anak kalian, because you two are soooo adorable. Then there’s no choice, kakak hanya harus membuktikan sesuatu sama kakek. Dan kemarin kakak seneng banget waktu tau kalau kakek sama nenek bangga karena cucuknya bakal presentasi di international conference di Eropa. Bahkan lucunya mereka sampai sengaja menyisihkan uang untuk jajan kakak di sini, katanya. Nenek juga sampai maksa untuk ikut anter ke bandara padahal kondisi badannya suka nggak fit kalau bepergian. Selain mama dan papa, kakek adalah satu-satunya orang yang kakak sms setiap kakak transit atau pas sampai di Aberdeen atau di Amsterdam. Karena kakak tau, kalau kakak balik ke Semarang pun, kakek suka ikutan khawatir nunggu kabar dari kakak, udah sampai atau belum. Dan sepulang dari perjalanan kemarin, terlihat dari raut wajahnya bahwa sudah tidak ada hal yang perlu ia khawatirkan lagi pada cucuknya. Kakak sudah besar, sudah bisa jadi contoh buat cucuk-cucuk kakek yang lain.

Mah, Pah, waktu lagi di Cianjur kakak cerita banyak hal sama ABG yang lagi galau pilih jurusan dan universitas. Pas makan siang, kakek bilang sama Alya dan Ica, “Tuh, lihat, kakak aja yang kuliah di Undip bisa pergi ke Eropa. Hebat. Kuliah mah dimana saja, yang penting harus sungguh-sungguh!” Kakek bangga, mah, sama kakak. Kakak bahkan pengen nangis waktu denger kakek ngomong gitu.

Perasaan nangis terus…..

Iya, emang cengeng.
***
Mah, Pah, sampai sekarang pun kakak masih nggak percaya kalau ada beberapa mimpi kakak yang udah kakak capai. Dari mulai mimpi-mimpi kecil di birthday wishes list sampai mimpi-mimpi yang ketika ditulis pun kakak nggak tau itu bisa jadi kenyataan atau nggak. Walaupun dulu juga rasanya nggak mungkin kakak bisa pergi ke luar negri, bahkan ke negara-negera yang dekat sekali pun. Eh, taunya pertama kali pergi langsung ke Eropa. Ternyata bener yaa, Allah tuh nggak pernah tidur, Allah selalu denger doa-doa kakak, bahkan untuk mimpi-mimpi yang kakak sendiri aja ragu bisa tercapai atau nggak.

Mah, Pah, sekarang kakak udah punya banyak mimpi-mimpi baru. Kali ini kakak yakin pada diri sendiri bahwa dalam beberapa tahun ke depan, mimpi yang baru ini akan jadi kenyataan juga. Ternyata bermimpi itu seru, yaa. Karena lewat mimpi kakak belajar bahwa with hard work, there’s no wall between you and your dreams. Iya, kerja keras (dan sholat) adalah satu-satunya cara yang menurut kakak bisa mendekatkan kakak sama mimpi-mimpi besar kakak. 

Mah, Pah, pada sebuah postingan berjudul Malaikat Tanpa Sayap kakak pernah bilang kalau, “...kakak bakal buktiin sama kalian, gak ada yang sia-sia episode dua”. Then here you go! Memang nggak akan pernah ada yang sia-sia, everything happened for a reason. Dan pengalaman-pengalaman pahit kemarin itu, ternyata bukan kegagalan, tapi Allah yang selalu punya renacana lain. Dan ini adalah rencana paling indah yang pernah kakak alami, so far. Then I'll remember, if Allah is making me wait, I have to be prepared to receive more than what I asked for.

Mah, Pah, kakak nggak tau,

am I make you proud?

Kakak melakukan ini semua untuk kakak, bukan untuk kalian (seperti yang selalu kalian bilang, raih mimpi-mimpimu untuk dirimu sendiri, bukan untuk mama dan papa, kami hanya akan mendukung). Tapi kalian adalah satu-satunya alasan kenapa kakak akan terus berusaha untuk meraih impian-impian besar kakak. Karena kakak tau, ada dua orang di dunia ini yang akan sangat bahagia ketika melihat kakak bahagia.

Mah, Pah, kakak bersyukur karena Allah telah menitipkan kakak sama orang tua seperti kalian.

Malaikat-malaikatku yang tanpa sayap.

Kakak sayang mama, mama, mama, dan papa :-).














P.S: Nggak ada yang salah sama mimpi. Ketika kita benar-benar bisa mewujudkannya, orang yang mencemooh bisa apa?

2 comment:

Ghana mengatakan...

Seneng bacanya, Teh Zazaaah! Sukses terus yaaaa ;)

Zahrah Izzaturrahim mengatakan...

Thank you, Ghana. Kamu puuun yaa. Btw kuliah dimana skr?

Posting Komentar