Jumat, 28 Februari 2014

Terakhir

"Jangan sengaja pergi agar dicari. Jangan sengaja lari agar dikejar. Berjuang tidak sebercanda itu." --Sudjiwo Tedjo.

Kalau terlalu banyak kata jangan diantara kita, mungkin memang bukan kamu orangnya.
Kalau nyatanya sampai detik ini aku hanya menambah satu harapan baru setiap hari, mungkin memang bukan kamu yang terbaik.

Sebenarnya aku sadar, dari pertamakali mata kita bertabrakanpun, kamu memang bukan orang yang tepat untuk menggenapkan aku yang sampai detik ini masih sendirian. Aku hanya tidak mau mengakuinya.
Aku sudah lama sadar bahwa kita berdua memang diciptakan untuk berjalan pada lintasan yang berbeda atau mungkin berlawanan. Kita hanya dipertemukan pada sebuah persimpangan. Kamu berhasil melaluinya lalu pergi lagi melanjutkan perjalanan, tapi aku tidak. Aku malah menunggu. Mungkin kamu akan balik lagi, menyadari bahwa ada yang tertinggal di sana. Aku.

Tapi sekarang aku sudah benar-benar sadar.
Aku juga harus pergi.

Ini suratku yang terakhir, tahun depan suratnya sudah bukan untukmu lagi.
Jangan pernah cari aku, apalagi meminta untuk mengulang semuanya dari awal.
Kamu memang harus menyesali semua ini, biar tidak pernah ada aku yang lain dalam hidupmu, biar kamu tak pernah lagi berjuang sebercanda ini.

Kita memang pernah dekat, tapi sekarang sudah tidak.
Jangan beralasan ingin dekat lagi untuk mengamankanku, bilang saja pada semesta supaya menjaga setiap langkahku.
Aku lebih percaya alam daripada kamu.

Terimakasih telah menjadi sumber inspirasiku untuk menulis surat ditahun ini.
Akuilah pada semua orang, kamu memang pernah menyakitiku.
Lalu akan aku akui juga pada semua orang, aku memang pernah mencintaimu.

P.S:
Terimakasih untuk Pos cinta yang sudah memeberi ruang utuk rindu-rinduku bernafas lebih lama. Cintaku terkirim sudah, jawabannya masih sama: memang bukan dia orangnya. Sampai bertemu tahun depan, dengan tiga puluh surat cinta tanpa bolos setiap hari.

0 comment:

Posting Komentar