Kamis, 30 Januari 2014

Penggunaan Devisa Negara.

"... yang paling banyak menghasilkan devisa adalah para TKI. Ada yang mau jadi TKI?" Biasa, pertanyaan-pertanyaan kaya gini mulai ada kalo break time udah tiba. Sekarang giliran guru ekonomi yang ngedongenh.

"Oh iya, saya punya cerita"

Gue juga punya cerita, Pak.
***
Apa kalian tahu devisa negara itu digunakan untuk apa saja? Ada jeda, kemudian hening. Iya, ceritanya lagi mikir. Devisa negara juga digunakan untuk keperluan studi bandingnya para pemerintah.

Jadi, ditahun 2009, para pemerintah mengadakan studi banding. Mereka ingin belajar tentang parlemen, maka mereka memutuskan untuk pergi ke Yunani. Sebuah negara yang memiliki parlemen tertua di Dunia. Para pemerintahpun pergi ke sana.

Tapi apakah kita, para penduduk indonesia yang ikut berkontribusi dalam mengumpulkan devisa negara, tahu bahwa pada tahun 2009 parlemen Yunani adalah parlemen terburuk? Karena Yunani adalah negara pertama dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia.

Terus, pemerintah kita yang pergi ke sana sebenernya belajar apa?! 

Nah, dua tahun kemudian setelah "belajar" di sana, yaitu tahun 2011, Indonesia berhasil menduduki peringkat kedua sebagai negara paling korupsi di dunia. Sedangkan peringkat pertama masih diduduki oleh Yunani.

Wow! Can u emagine seberapa suksesnya pemerintah kita menerapkan ilmu yang mereka pelajari di Yunani? Karena terbukti, setelah ke Yunani, rengking kita naik! 

Gak cuma ingin belajar berparlemen, pemerintah juga ingin belajar pramuka dan negara selanjutnya yang mereka kunjungi adalah Afrika. Pulang dari Afrika mereka mempresentasikan satu hal, yaitu seragam. Katanya, seragam pramuka di Indonesia itu terlalu ribet karena banyak lencana dan aksesoris lainnya yang harus dikenakan ketika berpramuka. Mereka mengusulkan supaya kita mengikuti seragam yang ada di Afrika sana. Presentasipun berakhir.

Kita, para murid, cuma bisa bengong dan kecewa. Rakyat miskin di Indonesia itu masih menjamur, kenapa devisa negaranya digunakan untuk sesuatu yang hasilnya jauh dari kata memuaskan?

Guru ekonomi melanjutkan ceritanya.

Jadi, jauh-jauh ke Afrika mereka cuma bisa ngomentarin seragam? Padahal kalian tau gak orang-orang Afrika bajunya kaya apa? Dedaunan kan? Well, kalau cuma mau membandingkan daun dengan kain sih gak usah jauh-jauh ke Afrika, kan? Sekarang ini jaman sudah canggih, yang gituan bisa tinggal browsing di internet. Aduh, kacau ya, devisa negara malah disalahgunakan. Karena itulah, sekarang banyak proposal untuk studi banding yang ditolak.

Nah, kalian yang ada di sini, adalah anak-anak generasi muda yang harus mengubah kebiasaan buruk pemerintah Indonesia dikemudian hari.

***

Kacau ya. Memangnya mereka itu gak inget dosa? Sudah bagus dipercaya banyak orang untuk mengatur negara, eh, malah tambah semerawut.

Well, kalau mau pintar berparlemen pergi ke Yunani. Kalau mau pinter berpramuka perginya ke Afrika. Nah, kalau mau pinter move on, saya harus pergi ke mana, Pak?

Eh.

1 comment:

gendut mengatakan...

beda euy , budak ekonomi mah

Posting Komentar