Jumat, 19 April 2013

Ujian Nasional 2013

Hi!
Pasti pada muak da liat judulnya? Iya sama, aku juga males sih sebenernya kalau harus nginget-nginget empat hari paling kampret sealaihim kemarin. Tapi yaa gimana, bagi aku ini penting, mengaspirasikan apa yang aku rasain selama menjadi peserta ujian nasional ditahun 2013 ini bersama teman-teman seperjuangan yang lain. Eksekusinya kacau yaa? Ayo kita keluarkan unek-unek kita.

Ini mah udah pasti, gak usah pake basa-basi lagi, aku gak setuju sama yang namanya UJIAN NASIONAL. Ada banyak lapisan alasan kenapa aku gak setuju sama yang namanya ujian nasional. Dari mulai alasan paling standart, "Masa sekolah tiga tahun dengan segala macam upayanya sampai banting tulang rusuk hingga tengah malam, cuma ditentuin sama dua jam selama empat hari berturut-turut?" sampai alasan yang gak ngerti lagi itu munculnya darimana. Well, UN itu whattheffff bangeeeeeet!!!

Sebenernya apasih tujuan UN itu sendiri? Coba pemerintah kasih aku satu aja alasan kenapa ujian nasional harus dipertahankan sampai sekarang?

Untuk mengukur kemampuan siswa-siswi se Indonesia, dengan standart yang sudah ditentukan pemerintah. Memangnya gak ada cara lain yang lebih efektif dan akurat untuk mengukur kemampuan siswa-siswi se tanah air? Memangnya pemerintah sudah bisa memastikan bahwa siswa-siswi telah dengan murni mengerjakan ujian nasionalnya sendiri? Apakah pemerintah bisa memastikan bahwa benar-benar tidak akan ada kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional baik murid maupun pemerintahnya sendiri? Think again.

Jujur da, aku mah tertekan dengan adanya ujian nasional. Belum lagi tahun ini banyak sekali perombakannya. Pertama, dari mulai tipe soal, disediakan dua puluh paket dengan soal-soal yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kalau soalnya samapun, angkanya pasti beda, atau optionnya yang ditukar-tukar. Belum lagi adanya barcode, yang katanya satu tipe barcode untuk satu nama saja. Hhhh mumet banget aseli. Untuk apasih digitu-gituin segala? Untuk meminimalisir kecurangan? Coba deh refleksi diri, ngaca, apakah pemerintah sendiri udah jujur sampai berani menuntut siswa-siswi untuk berlaku jujur? Gak cuma siswa yang giat mencari kuncu jawaban, tapi juga penyelenggara yang memanfaatkan momen ini untuk menjual kunci & soal ujian dengan harga yang relatif tinggi. Terus dimana sisi pentingnya ujian nasional, kalau eksekusinya saja begini? Malu dong sama negara lain. Mau ditaruh dimana harga diri bangsa ini jika masih mempertahankan tradisi ujian nasional yang eksekusinya amburadul seperti ini.

Kedua, syarat kelulusan nilai UN dinaikkan, terus tingkat kesulitan soalnya juga dinaikkan, semuanya dinaikkan tanpa meningkatkan kualitas pengajar. Padahal yaa kalau dipikirin baik-baik, salah satu faktor bersahil atau tidaknya siswa adalah guru. Bayangin deh, gimana siswanya mau mendapat nilai dan ilmu yang cukup kalau pengajarnya sendiri belum cukup baik menyampaikannya? Kalau standarnya mau dinaikkan, kualitas pengajarnya juga harus dinaikkan dong. Pemerintah harus bisa memastikan apakah guru-guru sudah mengajar sesuai aturan yang ditentukan? Soalnya menurut pengalaman aku, banyak guru-guru yang kayanya gak taat peraturan deh. Misalnya nih, gak masuk kelas tanpa alasan yang jelas. Murid kok gak boleh alfa, tapi gurunya sendiri sering banget alfa. Belum lagi guru yang masuk kelas tapi kebanyakan curhat. Parah bangetlah, dua jam pelajaran habis dipakai untuk curhat dan bahas pengalaman-pengalaman pribadi si doi. Pffff! Ada juga guru yang main kasih tugas seabrek seenak jidat. Udah dikerjain nih tugasnya dengan susah payah sama murid, eeeeh cuma ditanda tangan doang, dan tanpa dibaca men, TANPA DIBACA! Gak pernah dibaca malah. Yaudah, murid juga seenak jidat negrjainnya, soal-soal yang dikasih dijawab seenaknya, pake lagu balonku ada limalah, pake lagunya paramorelah, atau balik curhat sama siibu. And you know what? Nilainya A meeeen! Asoy gak sih?! Itu gimana tuh pertimbangan pemerintah? Kalau pengajarnya aja begitu, pantes gak sih syarat kelulusannya dinaikkan?

Ketiga, Akukan beli kumpulan soal-soal UN gitu yaa, aku perhatiin dari tahun ketahun sih soal-soalnya selalu gak jauh beda. Malah kadang soalnya memang diulang, option dan pertanyaannya juga sama. Makanya banyak murid yang belajar dari soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Tapi apa? Soal ujian kemarin itu gak ada yang sama kaya soal-soal tahun sebelumnya. Bahkan yaa, kalau kata aku, soal-soal ujian kemarin itu tidak sesuai pancasila, (read: soal-soalnya tidak berperikemanusiaan yang adil dan beradab). Adasih yang sama, paling banyak juga cuma tiga soal, itu juga untung-untungan. Tau gak? Itu tuh nyusahin bangeeeet kakak, karena murid sudah terlanjur belajar dari soal-soal ujian ditahun sebelumnya. Bahkan, soal ujian kemarin itu jauh berbeda dengan soal try out dari pemerintah yang diadakan beberapa minggu sebelum ujian. Padahal, menurut survey, soal ujian nasional itu gak akan jauh beda (bahkan lebih mudah) dari soal try out yang dari pemerintah. Kan katanya, try out dari pemerintah itu sebagai simulasi UN dan sebagai gambaran untuk peserta mengenai soal-soal UN nanti. Tapi kenyataannya? Tahun ini hoax bangetlaaah, aku udah lancar ngerjain soal-soal try out dari pemerintah dan soal-soal ujian tahun kemarin, tapi masih setengahnya bisa ngerjain soal UN. Hari pertama ujian nasional aku masih pede, masih semangatlah ngerjain soal. Tapi begitu hari kedua, ketemu fisika, liat soal aja cuma bisa nangis. Don't know what to do. Aku kira yang gitu cuma aku doang, tapi ternyata hampir satu sekolah galau ngeliat soal fisika. Gak cuma satu sekolah men, bahkan temen-temen aku di sekolah lain juga sama galaunya. Ini acara ujian nasional apa acara galau masal sih?

Keempat, sekaligus yang terakhir deh, watir pemerintahnya bisi nangis diprotes wae. Aku berusaha tenang yaa untuk menghadapi ujian nasional. Aku cuma panik pas beberapa bulan sebelum, jadi masih banyak waktu buat aku untuk mempersiapkan diri. Aku belajar belajar belajar (walau kadang masih males-malesan) sampai akhirnya ngerasa pede, gak panik lagi, tenang, dan insya Allah siap menghadapi ujian. Tapi beberapa hari sebelum ujian, beredar kabar katanya sekarang pengawasnya gak cuma dua orang, tapi tiga orang. Dua orang guru dari sekolah lain, satu lagi polisi. Terus ada tim independent yang akan  mondar-mandir sekolah untuk memastikan lancarnya ujian. Belum lagi katanya disebar seribu intel dimana-mana untuk memata-matai murid yang mungkin menggunakan kunci jawaban yang dibeli dari DIKNAS. Langsung nge-downlah denger kabar itu. Tiba-tiba ada beban psikologis gitu didalam diri aku, aduh takut nih diawasin polisi, atau aduh gimana kalau nanti polisinya galak, dan kalau gak lulus gimanaaaAAA?! Sebenernya yaa bro, kita itu peserta UN atau koruptor sih? Ujian Nasional aja dibuat sebegini mungkin, tapi kenapa "penjahat-penjahat" gak diginiin juga? Bahkan penjahat dikita mah sampe olab makanin uang rakyat. Haduuuuuuh. Tutup muka dulu ah, malu sama bangsa lain Hihihi (ʃƪ)

Kalau kata aku, UN tuh penting gak penting yang penting penting banget. Jadi, kalau mau tetap diadain yaa adain aja, tapi jangan  dijadikan syarat kelulusan. Masalahnya pemerintah gak tahu kan gimana keseharian murid itu, sekolah yang lebih tahu, jadi sekolah yang berhak memutuskan lulus atau tidaknya seorang murid. Yaa gak adil dong, masa sekolah lama-lama penentunya cuma empat hari?
UN itu harus dibikin enjoy dan tanpa beban biar hasil dan pelaksanaannya juga baik. Seperti tauhn-tahun dulu ketika orang tua kita yang menjadi peserta UN, UN diadakan tapi tidak menjadi penentu kelulusan, toh orang tua kita sekarang bisa berhasilkan? Tanpa dijadikannya UN sebagai penentu kelulusan. Orang tua kita juga tetep bisa masuk perguruan tinggi favorit bahkan mungkin cum laude. Pak, sorry-sorry to say nih yaa, semakin kesini UN itu semakin menambah beban anak-anak sekolah saja, kasihan gak sih? Mending, UN tetap diadakan tapi untuk merefleksi pemerintah sendiri, sudah sejauh mana membuat kurikulum, sudah berhasilkah kurikulum yang dibuat, dan sudah baik kah kualitas pengajar di Indonesia.

Yaudah sih, aku cuma mau mengutarakan perasaan aku aja selama ditabok soal-soal UN. Gak ada sedikitpun niat dihati aku yang rapuh ini karena sebuah penantian pajang yang.... *eh* untuk menjelek-jelekkan pihak manapun. Aku cuma cerita seadanya aja, menurut pengalaman aku sendiri. Jadi kalau ada salah-salah kata yaa maaf, namanya juga manusia yang tidak luput dari kesalahan *cailah*.

Well, sekarang aku dan peserta lain cuma bisa menuntut keadilan pemerintah aja. Dengan eksekusi yang seperti ini, apakah ujian nasional masih pantas dijadikan syarat kelulusan siswa? Aku cuma minta pemerintah memutuskan dengan seadil-adilnya. Kita, peserta UN, doanya gak muluk-muluk kok, kita hanya ingin lulus dan bisa melanjutkan cita-cita kita untuk menjadi generasi penerus yang bisa merubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Ganbatte! Semoga Pak Presiden gak cuma dengerin rentetan penjelasan dari ketua KEMDIKBUD aja yaa, tapi juga bisa dengerin aspirasi peserta UN yang ngerasain sendiri pahit-asemnya ujian kemarin. Semoga peserta Ujian Nasional tahun 2013 ini lulus 100% dengan nilai yang pantas. Amin!

0 comment:

Posting Komentar