Sabtu, 26 Januari 2013

Waktu Kamu Sebut Namaku

Sengaja aku menjeda surat-surat cintaku yang biasanya rilis per 24 jam. Aku ingin menghirup nafas sejenak, mengosongkan fikiran, mengistirahatkan hati, biar raga ini tenang sebentar, untuk tidak berlama-lama diam dihadapan laptop hanya untuk merangkai kata demi kata yang pas untuk menulis ungkapan cinta yang aku toreh dalam surat. Untukmu.

Boleh aku absen dulu menulis surat cinta yang secara berkala aku kirim hanya untuk kamu? Kamu bilang, aku lebay dan berlebihankan? Sekarang, anggap saja ini sebagai usahaku yang paling besar, untuk tidak dengan mudah mengungkap setiap perasaan pada siapapun. Terutama sama kamu. Biar aku gak lebay lagi.

Sekarang aku merebah sejenak, terbaring sambil otak ini terasa ringan, mungkin sudah ada beban yang sedikit demi sedikit menghilang, kamu-kah? Okay, malam ini sengaja tak aku sentuh buku harian itu, biarkanlah semua tentangmu mampir sejenak diotak, lalu hilang ketika aku tertidur. Sekarang aku lebih banyak diam, menyesap teh hangat, sambil lalu menghirau keberadaanmu.
***
"Zah, Baik-baik aja?" Aku biarkan suaramu menyebar dalam ruangan ini.
"Kamu kok diem terus? Ada yang salah?" Aku menoleh sejenak, sambil memastikan bahwa kamu tak lagi bisa menilik perasaan teramat itu dari balik manik mataku.
"Zah, ada yang ingin kamu sampaikan?" Sambil memegang pundakku, kamu duduk disampingku, kita sedekat ini lagi. Tapi kemana perasaan menggebu-gebu itu?
Kalau besok bukan kamu lagi, jangan salahkan aku. Masih tanpa suara, aku beranjak sambil meninggalkan senyum dihadapanmu.

Aku hanya berusaha untuk menjadi apa yang kamu mau. Diam. Bukan hati yang salah jika dalam diam aku bisa dengan cepat berpindah. Sesekali menyalahkanmu boleh, kan?

0 comment:

Posting Komentar