Selasa, 29 Januari 2013

Kepada Kamu, Ribuan Petak Kenanganku


Untukmu, tempat aku dan dia berpijak, duduk, dan menangis.

Hi,
ternyata pagimu tak selalu cerah. Belakangan ini lebih sering dipayungi awan mendung atau butiran air hujan. Tidak ada kehangatan yang menyelimuti kota ini lagi, yang ada hanya dingin yang menusuk tulang rusuk. Sakit. Menurutmu, baik-kah mengawali hari dengan amukan? Kau boleh saja kecewa, mungkin lelah menampung ribuan masa yang tak mengindahkanmu selama menungpang diatas perutmu, tapi bisakah kau menahan senyum sejenak? Biarkanlah matahari menyelesaikan tugasnya, biarkanlah hujan beristirahat sejenak, supaya aku tak letih berlari ketika kau tak mau lagi menjadi tempatku berpijak. 

Kepada Kotaku, tempat aku tumbuh dan bersarang, ini suratku, juga kisahku, kamu, dan dia.

Pagi ini, dengan siluet oranye didinding bumi, aku menelusurimu. Mengikuti jalan utama yang menghiasi permukaanmu. Kini, Cimahi tak diguyur hujan, selaras dengan hatiku yang tak lagi mendung. Mungkin. Aku mengamati setiap pinggiran kota yang banyak berubah, dijalan utamamu, sudah tak lagi dijamuri para pedagang kaki-lima. Mereka sudah ditertibkan dan dipindahkan ke tempat yang lebih layak, supaya jalanan dipagi hari tak lagi macet. Kau banyak berubah, tapi aku?
Ada yang membedakan perjalananku yang ini dengan yang sebelumnya, sekarang aku sendirian. Ada satu nama yang hilang, seperti asam nukleosida yang kehilangan satu gugus fungsi, dia. Kita memang masih tinggal disatu kota yang sama, tapi sudah tidak pada sudut yang sama dengan persimpangan yang tak pernah berpapasan. Lalu apa lagi yang bisa aku harapkan?

Biasanya, dengan kamu yang menjadi saksi, aku dan dia menikmati sore di jantung Kota, sambil menyesap coklat hangat kesukaan kami berdua. Kadang sambil membuat daftar sepuluh hal yang bisa kami syukuri dihari itu, lalu akan kucuri kertasnya untuk aku tempel didinding kamar. Seperti biasa, aku suka sekali mengumpulkan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Suatu saat akan ku ceritakan dia, seseorang yang telah membuatku berterimakasih kepada gravitasi, karenanya aku bisa jatuh... jatuh cinta kepadanya, pada anak-anakku. Lalu, akan kubiarkan anak-anakku menceritakanmu kepada anak-anaknya, terus begitu hingga seisi dunia tau bahwa kau adalah sejarah dalam hidupku. Setelah secangkir coklat hangatnya habis, ketika langit mulai ditudung bintang, dia mengajakku ke sisi kota yang lain. Disana, diatas bukit, dia menyajikan pemandanganmu dimalam hari dengan bulan disudut langit, lalu taburan bintang mengitari bulan, hingga ribuan lampu mencerahkanmu. Aku bahagia, karena bisa hidup diatas kota sepertimu, bersamanya.

Tapi cepat atau lambat, sesuatu yang dimulai harus diakhiri. Aku dan dia. Semakin hari semakin terlihat saja, bahwa kita kini bercabang, sudah tidak satu lagi. Apa yang sudah dituai berlama-lama kemarin, tak lagi ada artinya ketika aku dan dia sama-sama berargumen. Akhirnya kita terlihat sangat berbeda, aku ke kanan dan dia ke kiri, hingga kita tak pernah lagi bertemu. Kini, air mataku bergulir deras, ketika aku melakukan rutinitas-rutinitas itu sendirian; menelusurimu, menyesap coklat hangat, menulis hal-hal penuh pensyukuran, pemandangan kota dimalam hari. Kenapa hidup terasa sulit ketika ada satu partikel yang hilang?

Sekarang, yang tersisa hanyalah aku dan kotaku, kamu. Semoga dia menyisihkan sepersekian otaknya untuk menyimpan kenangan tentang aku, kamu, dan dia. Bersama kamu, kini hidupku ku arungi. Bersama kamu, sepinya pagiku ku telusuri. Dan bersama kamu, aku ditinggalkan.

Kota ini terlalu sulit untuk aku tinggalkan, walau hanya bersisa dengan ke-dia-an disetiap sudutnya. Sejenak, aku ingin berjauh-jauhan denganmu, aku hanya ingin sedikit menghapus jejak-jejak silam. Tapi seperti ada yang menahan perjalananku. Jangan pergi.

Padamu, kotaku yang menimbun ribuan kenangan dimasa lampau, sudikah kamu untuk tetap menampung aku yang terlalu larut dalam air mata? Tak perlu ikut menangis dan murung, aku hanya ingin kau mendengarkan.


Ini aku, yang tak bisa pergi kemana-mana, menghindar, lalu melupakan. Aku ingin kau tetap menjadi kota yang apa adanya, yang terus sudi menaruh aku dan dia dalam telapak tangamu, dua pasang manusia yang harusnya sudah tidak saling mengingat lagi.Tapi izinkan aku untuk sesekali mengirim impuls rinduku padanya, ketika cinta ini tak tahu harus duduk dihati yang mana lagi. Sampaikanlah....

0 comment:

Posting Komentar