Jumat, 17 Agustus 2012

Lewat Perahu Kertas

 

Lo udah baca buku perahu kertas? Baca deh. Biar lo bisa lebih tau, bagaimana rasa gue ketika ada diposisi pembaca yang kisahnya seakan diserat disana. Mirip. Nggak beda jauh sama apa yang pernah gue alami silam. Dulu. Ketika kita masih terlalu dekat untuk saling berteriak menyapa.



Kuta. Bali.
Lo inget sesuatu tentang itu? Tempat ketika lo menikmati angin sepoi-sepoi tanpa gue disamping lo. Waktu itu gue lagi mudik, sengaja ngesms lo untuk minta doa supaya perjalanan mudik gue ke surabaya lancar. Lo selalu tanpa jeda membalasnya. Lo bilang, "take care zah :)" Beringsut gue saat itu, jingkrak-jingkrak hampir kayang sambil umroh. Gue seneng banget, ketika lo masih bisa mengetik pesan berisi doa perjalanan buat gue. Gue lupa gue bales apa, yang jelas, pagi itu lo nemenin gue menuai senyum dipagi buta. Jam enam pagi, lo rela membuka kelopak mata lo, mungkin hanya demi menghibur seorang zazah yang lagi suntuk diperjalanan mudiknya. Kita sedikit banyak berbincang tentang perjalanan liburan kita masing-masing. Lo bilang lo lebaran di Jakarta terus lo caw ke bali, seinget gue lo bilang dari tanggal 13 sampai 16 lo bakal ada disana, di Bali. Siang itu, lo meminta gue untuk bisa nemenin lo menikmati hembusan angin dibibir pantai kuta. Gue cuma ketawa baca sms itu, biasa, gue anggep itu bercanda. Tapi lo mengelak, membantah respon gue yang menganggap ajakan lo itu sebagai candaan, "Ih serius zah ini mah, lo mah becanda mulu ah." Gue tertegun. Sebegitukah gue dimata lo sampai harapan itu selalu ada tiap lo mau pergi berlibur? Saat itu gue nggak berhenti tersenyum, akibat orang yang jelas-jelas menaruh pengharapan. Gue nggak tau apakah lo benar-benar menginginkan itu terjadi atau nggak, yang jelas, sampai sekarang, memori itu masih terlalu jelas gue simpan dalam ingatan. Dikesempatan lain, waktu lo ke Ausee. Gue inget betapa lo menyombongkan planning liburan lo itu, dengan gantungan kangguru yang lo tembongkan diruang osis--ketika kita sama-sama sibuk mengurus acara orientasi siswa yang tinggal beberapa hari lagi--sepulang darisana. Saat itu lo memaksa gue untuk sekedar melirik apa yang lo bawa, tapi gue terlalu gengsi untuk menatapnya. Ternata itu oleh-oleh yang lo bawa, buat gue, MUNGKIN. Dikesempatan selanjutna, waktu lo menikmati malam pergantian tahun dengan trip keliling Eropa, menikmati ricuhnya semburan kembang api dikaki menara Eiffel, something that i want to do. Mungkin sekarang, lo nggak pernah menyelipkan beberapa kegiatan liburan lo dulu ketika lo sedang santai menghirup udara di rumah, tapi gue masih suka teringat tentang beberapa perjalanan lo menjelajahi negara orang. Sebenarnya, yang menjadi part of your self itu gue atau lo sih? Well, Kemanapun lo pergi, doa gue selalu mengiringi, harapan lo juga selalu ada; lo ikut dong zah.

Novel yang sedang gue baca ini menarik gue terlalu jauh, ke hari-hari silam dimana beberapa adegan telah gue mainkan. Ketika dengan mudahnya lo menaruh harapan atas kehadiran gue disela-sela waktu berlibur. Gue suka moment itu, dimana gue akan melihat lo meminta-mekasa penuh antusianisme, walau gue selalu menolak. Gue inget godaan lo, "ntar kita bisa menikmati hembusan angin pantai, whusssss. Ntar lo bisa berdua gue. Mau nggak? Temenin gue dong." Gue masih menyimpan beberapa adegan rayuan lo yang dikirim lewat sms. Gue masih enggan menghapusnya. Ya, gue bodoh. Bagaimana mungkin gue mengawetkan sesuatu yang sudah tidak lagi lo ingat dan lo inginkan keberadaannya. Bagi lo, masa lalu yaa lapur. Tapi bagi gue, climax kebahagiaan gue ada disana, waktu gue masih bisa merasakan rengekan seseorang yang selalu tidak ingin berada jauh-jauh dari gue.

Walau sampai sekarangpun, lo belum pernah menjadi siapa-siapa gue, gue tetap menyisihkan sepersekian waktu gue hanya untuk menyerat semua ini. Merefresh kembali ingatan gue yang lama-lama memudar. Sebenernya gue nggak pernah mau ada warna abu-abu kalau semuanya bisa jelas, hitam atau putih, gue nggak suka yang samar-samar. Well, ketidakpernahan kita menyatu, membuat gue takut. Gue takut kehilangan seseorang yang tidak pernah gue miliki. Walau keduanya telah terjadi. Kehilangan, dan ketidak pernahan gue memiliki lo, sekarang jalan beriringan.

Sebelumnya, gue minta maaf karena lagi-lagi dengan sengaja mengumbar apa yang sudah sejak lama ingin lo lupakan. Gue nggak maksud membuat lo marah atau terganggu dengan keberadaan huruf-huruf mungil tak berdosa ini. Gue hanya ingin berekspresi, sebatas raungan hati ketika tak seorangpun bisa terduduk disini mendengarkan apa yang harusnya gue katakan sejak lama. Maaf, gue hanya perempuan biasa, seperti Kugy, yang suka menulis.

0 comment:

Posting Komentar