Sabtu, 28 Juli 2012

Wth I think about the facts life, their career, and people who success in da world

Ternyata, televisi nggak cuma menuai negative fact aja, tapi juga ada sisi positif dimana pemikiran-pemirikan itu mengalir begitu saja.

Berawal dari sebuah tayangan hiburan diberbagai televisi, hilir mudik meramaikan setiap waktunya berjalan. Jutaan tawa tercipta lewat lawakannya, dari mulai ketawa standar sampai ketawa guling-guling nggak tahan lihat kelakuan pemainnya. Sometimes, it could be funny, but sometimes....

Bagi gue, tertawa menikmati keadaan itu nggak mudah, maka membuat orang lain tertawa juga nggak mudah. Tapi, setelah melihat bermacam-macam tayangan hiburan di televisi, gue agak miris, kenapa segini aja yang bisa dilakukan orang-orang untuk menghibur masyarakat? Cuma modal menghina orang dengan berbagai kekurangannya, seisi indonesia bisa aja ketawa lepas. Sebelah mana sisi bagusnya? Belum lagi pemain-pemainnya yang (sorry) pendidikannya rendah. Ada yang cuma lulus SMA, SMP, bahkan mungkin SD. Tapi mereka semua seliweran loh didunia hiburan, hartanya berlimpah, rumahnya gedongan semua, belum lagi mobilnya yang bisa setiap saat gunta-ganti. Gue merasa nggak diadili. Kenapa? Kenapa orang yang berpendidikan rendah seperti itu bisa dengan mudah meraup keuntungan, sedangkan kedua orang tua gue? Yang minimalnya lulusan sarjana S1 dengan pengalaman kerja hingga ke luar negeri, masih aja harus menjalani hidup dengan satu kaki sekarang. Well, masih bisakah disebut adil?! Gue masih belum paham.
***
Dulu, gue berfikir bahwa tingkat kesuksesan orang dinilai dari pendidikannya. Kalau memang sudah berpendidikan rendah, gue pikir hal tabu buat dia untuk menjadi miliarder suatu saatnya. Istilah kasarnya, sih, sekali jadi tukang gorengan, ya tukang gorengan aja. So, gue pikir bahwa kesuksesan hanya datang pada orang-orang yang berpendidikan.

Gue hidup dengan belasan tahun dengan statement seperti itu, bahwa sukses ditentukan lewat seberapa jauhnya lo mengayuh pedal pendidikan lo. Berarti, gue hanya punya dua pilihan, sekolah setinggi-tingginya, atau sekolah semaunya dengan presentasi sukses yang gitu-gitu aja, nothin' special.

Tapi, keputusan sepihak gue itu berhenti ketika tayangan hiburan itu melanglang buana disetiap waktunya. Gue minilik keseharian selebriti yang menurut gue biasa-biasa aja. Begitu membaca berbagai biografinya, ternyata cuma lulusan sekolah menengah pertama. Tapi tingkat kesuksesan mereka bisa menandingi orang-orang lulusan sarjana yang belum tentu gaji perbulannya bisa sama dengan mereka sekali tayang ditelevisi.

Gue nggak ngerti siapa yang salah. Karena bagi gue, masuk akal aja, sih, kalo orang sukses karena berpendidikan. Yang nggak masuk akal tuh, orang bisa sukses, dengan pendidikan minim, dan pengetahuan yang seadanya. Terus kalo gitu ngapain dong kita jauh-jauh sekolah tinggi, buang-buang uang buat sekolah, kalau endingnya tukang bakso gerobak aja bisa jadi selebriti.

Well, gue mencari jawaban atas pertanyaan gue sendiri. Kaya dipertemukan dengan misteri hidup yang nggak pernah bisa dijawab orang. Guepun mulai searching on google, baca buku, nonton film-film, dan nggak lupa menonton beberapa acara talk show ditelevisi yang mengundang selebriti yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang pendidikannya rendah, yang asalnya tukang dagang, bahkan yang asalnya pengangguran sekalipun. Mereka memulai kariernya dari nol; merintis apa yang mereka inginkan, mengasah kemampuannya menghibur orang, mencari apa yang kurang dan apa yang belum mereka kuasai. Berbekal bakat yang bagi mereka cukup, merekapun pergi ke ibu kota, melewati berbagai halang-merintang, mengikuti berbagai audisi untuk mewujudkan mimpinya. Jika gagal? Dunia tidak mau tanggung jawab. Yang mereka butuhkan hanyalah ketidak putus asaan, karena sekalinya mereka mundur, maka sirnalah sudah impian itu. Mereka terus menekuni hal yang mereka idamkan, terus berusaha, terus bekerja keras, terus bersusah payah, hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang ini, orang sukses yang tidak lagi dibayang-bayingi kehidupan sosial dimasa lalu. Untuk cekakak-cekikik ditelevisi saja mereka dibayar sepersekian juta setiap tampilnya.

Gue masih nggak bisa terima, kenapa bisa begitu? Bagi gue, tetap aja mereka enak. Nggak ribet-ribet sekolah tinggi, nggak pusing mikirin mau kuliah dimana, nggak bingung mau cari kerja dengan modal ijazah smp. Nggak ribet belajar trigonometri, limit, fungsi, turunan, integral. Mereka juga nggak harus tau bagaimana bola bisa mendarat diseberang, berapa kecepatannya, gayanya, tekanannya. Mereka nggak perlu ribet dengan semua itu, tapi sekarang suksesnya mana tahan. Gue masih nggak paham. Apa sukses harus miskin dulu? Apa semua orang yang sukses itu harus gagal dulu sampai makan aja harus mikir dua kali karena nggak punya uang. Apa gimana, sih?!

Tapi lama kelamaan gue sadar, gue tau, dan gue paham atas semua pertanyaan gue selama ini. Well, apa mau dikata, statement gue salah. Ternyata...

"Kesuksesan itu bukan dikadarkan dari pendidikan. Yang namanya sukses, tidak hanya bermodalkan pendidikan. Tapi sukses adalah sebuah final, sebuah akhir, sebuah tujuan, bagi orang-orang yang mau berusaha."

Dengan begitu, gue nggak perlu lagi merasa rugi belajar dengan tekun, sekolah setinggi-tingginya, dan menuai kesuksesan diakhir cerita. Gue paham bahwa hidup tidak dengan mudah bisa ditaklukan. Semua ada jalannya, dengan usaha, kerja keras, dan kegigihan disetiap titiknya 

Keep spirit anyone! Do the best, don't give up easily, and conquer da world. Yeah (ˇ▼ˇ)

0 comment:

Posting Komentar