Selasa, 10 Juli 2012

Kediskriminatifan Orang. Sadis

Sesaat ketika gue melewati malam-malam datar tanpa koneksi internet disetiap detiknya waktu berjalan. Gara-gara itu gue jadi tv series holic yang dari bangun tidur nyampe tidur lagi nggak beranjak sedikitpun dari depan layar kaca.

Terus, disuatu malam, sambil menatap serius kearah tipi yang sedang menayangkan sinetron anak-muda-gawl-maksimal-dimasa-kini, gue menemukan sebuah klasifikasi gender antara perempuan dan laki-laki, sebuah kediskriminatifan masyarakat seantero langit dan bumi, sebuah ketidak adilan kaum pria yang tanpa batas menunjukannya, tapi tidak dengan kaum hawa. Mengapa?!

Well, gue ceritain sedikit cuplikan yang melahirkan sebuah pemikiran baru dari otak gue ini.
Dalam sebuah adegan gue menemukannya, ketika beberapa orang tokoh laki-laki sedang sibuk mengikuti seleksi pemilihan kapten basket di sekolahnya (Ntah ujian paktek olahraga, gue nggak paham). Si tokoh utama, yang juga seorang adik dari kapten basket sebelumnya, sedang sibuk mendrible bola dengan harapan dapat menggantikan posisi kakaknya kelak. Kelihatannya dia amat-sangat serius banget-banget-banget sampe idiot mantengin tuh ring basket, si target utama. Setelah mantap dengan segala pertimbangan dan perhitungannya (kecepatan, laju bola, tekanan udara, sin, cos, tan, gaya gravitasi, gerak melingkar, GLBB, dan perhitungan sarap lainnya) Wussshhhh! Bolapun meluncur mantap dengan tangannya yang terangkat keatas. And jleb! Bola masuk ke ring dengan sempurna. *keprok-keprok*


But i found somethin' diffrent and maybe it's wrong. Sebenernya agak kurang enak dilihat oleh bola mata, mata hati, dan mata batin. Warnanya pekat kehitaman, kalau gawlnya maksimal banget, mungkin bisa ikut diwarnai supaya serasi dengan warna rambut yang pirang. Belum lagi ada air yang menetes-netes ke jalan sampe becek nggak ada ojeg. Dan ketika lo mendekat mendekat lalu semakin mendekat, lo bakal mencium sesuatu, sebuah bebauan yang oh-so-please BAU PARAH!

Do-you-know-what? Yap! Lo bener. We talk about ketek dan segala bulunya yang melambai-lambai. Lebat, semerawut, dan tidak mempesona. Tapi, sejijik-jijiknya tuh bulu ketek, anak-anak cowok bisa bahkan boleh (pake banget) melihara tuh bulu nyampe panjangannya dari sabang sampe merauke. Terserah mau keriting, lurus, botak, atau kribo sekalipun. Terserah mau harum parfume, harum baby, harum kentut, atau harum bangke. Dan terserah mau gimana juga mereka tetep boleh show it to the world. Sedangkan para cewek? ................................................... (Lo bisa isi sendiri titik-titik disamping). Dan satu lagi pertanyaan gue, kenapa cowok-cowok bisa aja mabur kenceng banget nyampe bablas ke Afrika kalau seandainya mereka ketemu sama cewek yang bulu keteknya lebat nggak karuan, padahal bulu keteknya dikepang loh, kan lebih unyu dibanding ketek mereka yang acak-acakan kaga pernah disisir. Iwh.

Disini gue merasakan ketidakadilan. Dimana hal setidak penting ini bisa menjadi perkara besar di muka bumi. Ketika mungkin kehidupan dan karier manusia berjenis kelamin perempuan ditentukan oleh sihitam yang nyelip diketek ini. Poor you girl. Kita dituntut menjaga penampilan ini itu supaya terlihat ntah bagaimana dihadapan orang lain. Terus? Menurut lo? ADILKAH INI?! Tapi jujur, jijik juga sih emang kalo ngeliat cewek yang bulu keteknya kribo hahahah :p

0 comment:

Posting Komentar