Rabu, 04 Januari 2012

Tentang Bintang dan Aku


"Zah, lo liburan kemana?"

Aduh, nggak cuma gue, pasti kalian juga dapet pertanyaan serupa dari temen-temen kalian. Dan nggak sedikit loh temen-temen gue yang bilang bahwa mereka bakalan holiday ke Bali, Bangka, Lombok, bahkan sampai ke negara asing sekalipun.

Tapi gue punya gaya gue sendiri. Lo mau tau? Sini, dengerin cerita gue!

***

Suatu pagi diatas mobil pengangkut domba dan sapi, gue dan beberapa teman remaja lainnya sedang diperjalanan menuju sebuah desa terpencil di kota Tasik. Gue nggak tau bagaimana rupanya tempat yang bakal gue kunjungi, yang jelas semangat gue tetap berkobar.

Nama tempat yang bakal dikunjungi adalah Cieceng. Kita menempuh beberapa bagian rute. Bagian yang pertama, gue sebut "Jalan Suci". Kenapa suci? Karena jalanannya mulus. Tanpa bebatuan karena sudah diaspal. Tantangan di jalan suci ini adalah jalanan yang meliuk-liuk, sebagaimana mestinya jalan dipegunungan, serta hembusan angin subuh yang menusuk-nusuk hingga tulang rusuk ini rapuh, serapuh hatiku (galau norak). Gue nggak tau persis seberapa panjang lintasan ini (sorry, gue nggak punya inisiatif buat ngukur sendiri, jalanan yg gue lewatin, pake penggaris atau meteran)

Sedangkan bagian yang kedua, sekaligus yang terakhir, gue sebut ini "Jalan Kekuatan" Buat gue, cuma orang-orang kuat, penuh semangat, dan berdedikasi tinggi saja yang mampu melewati lintasan ini, yaa macem gue dan temen-temen gue lah hahaha. Kenapa jalan kekuatan? Karena tantangan yang ada di jalan ini sungguh menguras energi. Jalannya kecil, diselimuti dengan genangan tanah basah, belum lagi batu-batu kali yang bertebaran sesuka hati. Belum lagi, kawasan ini jarang dikunjungi oleh orang-orang luar. Kata Om Usep, salah satu pendamping kita disana, katanya alam ini masih belum disentuh, jadi bisa gue bilang bahwa saat ini *sambil megang daun yang poke my body* gue sedang menyentuh alam yang masih perawan. Cie abizzzz deh *keprok-keprok*

Setelah mendaki dan menuruni empat bukit eksklusif sampailah kita ke tempat tujuan. Yaitu SD-SMP-SMK Darul Hikmah Cieceng. Murid-murid disana sudah antusias melihat kedatangan kita.

Disini, di tempat ini, yang bagi lo semua mungkin nggak asyik dan terdengar cupu (karena ada bagian dimana kita harus turun dan mendorong mobil yg kita naiki, supaya bisa maju kembali), gue nemuniun sebuah pelajaran berharga. Dimana kita nggak bisa lagi menyia-nyiakan hidup kita. Bertingkah laku seenaknya. Bahkan sampai patah semangat dan melenceng atas cita-cita.

Anak-anak disini penuh semangat! Tak perduli seberapa besarnya halangan dan rintangan yang ada didepan mata, meraka tetap mantap melangkahkan kakinya untuk sekolah. Gue udah pernah denger dan liat beberapa iklan di TV, tentang segerombolan anak yang harus berjalan berkilo-kilo meter, lalu harus menyebrangi sungai hanya untuk belajar dan menuntut ilmu di sekolah.

Dan.... Itulah mereka. Yaa mereka! 27 murid SMP yang sekarang lagi try out di depan gue. Gue salut sekaligus nggak ngerti sama mereka, kenapa mereka (yang minim fasilitas) bisa punya semangat yang tinggi dan sangat berapi-api seperti lagunya Roma Irama. Sedangkan gue? Nggak usah ditanya deh. Lo nggak lagi pengen dengerin curhatan gue kan?

Ini menjadi sebuah hantaman keras bagi gue yang, sampai detik ini, masih belum bisa mensyukuri apa yang ada diahapan. Gue yang katanya datang dari kota besar, yang nggak minim fasilitas, yang selalu update via twitter dan curhat di blog kayak sekarang ini, pakai baju, sepatu, tas, dan barang branded lainnya, rajin hang out di cafe, nonton film di bioskop, ngopi atau menikmati frozen yogurt hampir tiap minggu, ternyata sekarang hanya seperti tai burung yang jatuh dari ketinggian beribu-ribu meter. Gue nggak ada apa-apanya men dibandingkan mereka! Bayangin aja, lo punya harta, popularitas, kekuasaan, dan apa yang lo mau pasti terkabul, tapi lo nggak punya semangat buat belajar dan pergi ke sekolah. Lo bisa sukses? Jangan harep!

***

Hari terakhir gue disana, gue memutuskan untuk mengadakan sesi curhat UNTUK MEREKA. (tuh udah gue caps lock yaa kakak, jadi jangan ngira gue yang bakal curhat colongan). Ternyata mereka punya setumpuk masalah yang ntah kepada siapa akan mereka ceritakan. Sampai gue datang dan meyakinkan hati mereka bahwa gue adalah salah satu orang yang tepat buat dengerin curhatan mereka.

Setiap kata yang mereka ucapkan, gue resapi dan gue pikirin dalam-dalam. Apa yang selama ini gue lakuin? Buang-buang duit? Bermalas-malasan? Ini, sih, tompi abis (menghujam jantungku!).

Sampai akhirnya temen gue dateng dan membawa berita, "Zah, dipercepat yaa acaranya, langitnya udah mendung, kalau hujan kita nggak bisa pulang sekarang."

Eh iya gue lupa cerita. Ditengah jalan menuju Cieceng, ada sebuah jembatan yang kondisinya sangat tidak memungkinkan. Jembatannya rapuh dan hanya berjarak sepersekian meter dari permukaan air sungai. Makanya, kalau hujan, air sungai akan naik dan jembatanpun terendam air. Tidak terlihat dan tidak dapat digunakan. Makanya kita semua mengantisipasi (lebih baik pulang lebih awal daripada terjebak hujan disini).

Okay, kembali ke topik.

Gue mengangguk dan masuk kelas untuk melanjutkan kegiatan yang, mau nggak mau, harus buru-buru selesai.Diakhir acara, gue minta mereka bikin narasi tentang opini mereka selama berkegiatan, selama dua hari bersama gue, Rhisya, dan Faika. Gue minta mereka kasih kesan dan pesan mereka buat kita-kita.

Saat itulah gue ngerasa nggak mau pulang. Gue masih pengen ada disini! Ngajarin mereka bahasa inggris, main games sama mereka, curhat-curhatan, main ke curug. Gue pengen ngelakuin segala hal bareng mereka! Gue nggak mau pulang! Mata gue berkaca-kaca. Plis zah, supaya tetep kece dan cool, jangan nangis okay?

"Udah semuanya?" Gue bertanya pada mereka.

"Udah kaaaaak!" Mereka semua menjawab dengan senyuman yang tersungging dimulut mereka. Bersemangat. Hanya itu yang tergambar disana.

Semua anak sudah mengumpulkan narasinya. Disana tertulis bahwa mereka semua merasa amat sangat senang atas kehadiran kita. Mereka berharap kita akan kembali kesana.

Dengan ketidak tegaan yang ada, gue pamit undur diri sama mereka. Gue minta maaf kalau selama dua hari ini ada kata dan berbuatan, yang sengaja atau tidak atau malah pura-pura tidak sengaja, dilakuin sama gue dan temen-temen yang lain.

Kitapun foto-foto bareng. Untuk dokumentasi dan sebagai alat penyombong pada dunia, bahwa ada orang-orang muda disini punya semangat yang jauh lebih

gaya daripada bapak petinggi negri yang bisanya menyedot habis hak-hak mereka.

"Okay, kita pamit yaa. Kalian belajar yang rajin. Hati-hati di jalan yaa kalau ntar pulang." Gue basa-basi sedikit sambil beres-beres.

"Iya kaaaaaak! Kakak juga hati-hati yaa dijalan."

Jujur, gue makin berat hati meninggalkan mereka dan desanya. "Nanti, suatu hari, kita bakal main lagi kesini." tanpa sadar, mulut gue berkata begitu. Yaaaaa nggak apa-apa juga sih.

"JANJI YAAAAAA!" Mereka menyakui omongan gue. Okay. Bukan masalah besar, kan? Gue bakal balik lagi kesini!!

***

Diperjalanan pulang menuju Bandung, gue dapet sms dari nomor-nomor tak dikenal. Ternyata itu mereka, anak-anak dari SMP Darul Hikmah. Gue lupa, tadikan kita tuker-tukeran nomor.

Alhamdulillah, mereka menerapkan apa yang gue ajarin. Mereka menggunakan sedikit kalimat bahasa inggris, yang memang nggak mereka pahami artinya. Tapi nggak apa-apa, namanya juga belajarkan?

Ada satu sms dari salah satu murid yang sukses bikin hati gue bergetar,

"Coba kalau aku ketemu kakak dari dulu. Aku yakin,

aku bakal jadi anak yang pinter dan rajin!"

Haaaaa, ingin rasanya menelan bulat-bulat paus yang sedang bergaul di laut. Ternyata-gue-bisa-berguna-bagi-orang-lain. Hanya dengan dua hari saja gue bisa jadi motivator bagi mereka.

Gue. Seneng. Banget. Ntah dengan kata apa gue harus mendeskripsikannya. Ya Tuhan, ini semua adalah jalan-Mu. Jalan yang sudah Kau siapkan untukku dan untuk masa depanku. Terimakasih atas secuil hikmah yang kudapat sekarang ini. Beri aku nikmat-Mu. Hapuskanlah segala kesalahanku selama ini. Tuhan, aku pada-Mu ƪ(♥-̮♥)ʃ

***

Ini pengalaman berharga (soundtrack: Laskar Pelagi by Nidji) dimana lo bisa tau kehidupan yang sebenarnya. Melihat rerumputan yang bergoyang, menari, bahkan mungkin shuffle dance dibawah shower. Ngaco. Skip! Mendengar bisikan air sungai yang beriak-riak tanda tak dalam. Serta melihat burung-burung yang berkicau bebas dan terbang tinggi, setinggi harapan kita.

(Q.S: Ar-Rahman, 13)

Ini adalah salah satu anugerah Tuhan yang diberikan kepada setiap orang yang beruntung. Apa yang ada didepan mata sekarang ini menyadarkan gue bahwa hidup memang terlalu berharga untuk sekedar dibilang kehidupan. Dan satu hal lagi, semangat dan keinginan yang kuat akan mengantarkan kita pada satu bintang diujung jalan. Sukses! (ˇ▼ˇ)9

2 comment:

diekrana mengatakan...

hmmm.... semoga pengalaman ke Cieceng menjadi inspirasi dan penyemangat ketika sejuta alasan menyerbumu untuk menghalangimu melakukan pencapaian terhebatmu

Dwiluki mengatakan...

(y)aku envy zah gak ikut -_- hahhaaha

Posting Komentar