Jumat, 02 Agustus 2019

"Bima & Dara" What it Means to be A Man and Woman in Our Society: Potret Konstruksi Gender dalam Dua Garis Biru


Growing up,
What are we supposed to see, to feel, to meet?
Growing up,
What are we supposed to miss, to keep, to leave?
Cause when it hurts, it hurts me.
And when it hurts, still hurts every time. One leaves, one ceases.

Biarkan penggalan lagu tersebut menjadi pengantar yang menggambarkan that we are actually growing up with no clue. We are all clueless.

Can anybody tell me?

***

Bima & Dara. Mereka adalah dua anak kelas 3 SMA yang lagi jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Disuatu siang sepulang sekolah tepat di atas tempat tidur di dalam kamar Dara, keduanya terbawa suasana dan dengan segala ketidaktahuan, mereka melakukan hubungan seks, “Kamu…. jangan bilang siapa-siapa ya, Bim”. Sejak saat itu hidup Bima dan Dara berubah. Dara is unpredictably pregnant, keduanya panik bukan main, baik Dara dan Bima nggak ada yang berani untuk cerita sama orang-orang terdekat; keluarga, bahkan aborsi sudah hampir mereka lakukan karena dianggap sebagai sebuah jalan keluar. They keep it as a secret. Sampai tiba disuatu siang waktu pelajaran olahraga berlangsung, tendangan bola dari salah satu teman Bima menghantam kepala Dara dan saat itulah semuanya terungkap. “Kamu nggak apa-apa? Apa, apa yang sakit bilang sama aku?” Kata Bima yang langsung menghampiri Dara ke pinggir lapangan. “Aku pusing banget, perutnya keram, terus ini bayinya gimana?”. Semua orang yang mengerubungi Dara tersentak, lalu pihak sekolah mulai bertindak. And all the drama begin.
Melalui cerita dengan latar belakang tersebut, bagiku pribadi film ini cukup menggambarkan sebuah definisi sosial budaya dari laki-laki dan perempuan khususnya di Indonesia. The whole story, ekspresi, dan dialog pada banyak scene menyajikan potret-potret konstruksi gender dalam kehidupan sehari-hari yaitu gimana sih masyarakat kebanyakan menentukan apa yang dianggap pantas untuk laki-laki dan perempuan, terutama dalam menanggapi masalah hubungan seks diluar pernikahan (dalam kasus ini) pada usia dini.

1.     1. Keputusan yang Tidak Berpihak Pada Perempuan
Sejak kehamilan Dara terungkap, pihak sekolah langsung memanggil kedua orangtua Bima dan Dara. Di dalam ruang UKS di sekolah (a one take long shoot scene yang bener-bener memorable dan “ngena” banget karena bisa dengan baik memperlihatkan emosi dari semua tokoh), dimana Dara sedang tertidur lemas di atas tempat tidur dan semua pihak dari kedua keluarga berdiri di depan Dara, kepala sekolah menyampaikan bahwa kasus ini menyebabkan Dara harus menerima konsekuensi untuk dikeluarkan dari sekolah sedangkan Bima nggak. Orangtua Dara marah bukan main, “Kenapa cuma anak saya yang dikeluarin? Kenapa dia (menunjuk Bima) juga nggak sekalian dikeluarin!”. Pak Kepsek kemudian bilang, “Maaf, bu, kami bisa saja tidak mengeluarkan Dara, tapi dengan kondisinya yang seperti ini, apakah Dara akan sanggup?”. Ada jeda sebentar, lalu orangtua Bima melontarkan argumennya, “Lagi pula, kalau Bima juga dikeluarkan, terus bagaimana mereka bisa mencari nafkah untuk bertahan hidup?”
Resiko dari perbuatan yang dilakukan berdua ini seperti hanya dibebankan kepada Dara. Karena Dara perempuan, dia dianggap (physically & psychologically) tidak akan mampu untuk menghadapi kegiatan pembelajaran di sekolah, kemudian karena Bima laki-laki and for the sake of “supaya bisa bertahan hidup” Bima jadi punya benefit untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Kalau mau bicara tentang keadilan, harusnya baik Dara maupun Bima dikeluarkan dua-duanya atau keduanya sama-sama diberikan kesempatan untuk tetap melanjutkan sekolah, karena sebenarnya gak ada lho hubungan antara jenis kelamin dengan alasan-alasan yang disebutkan, mereka harus dapat konsekuensi yang sama. Emangnya Bima nggak terbebani fisik dan psikisnya? Emangnya Dara nggak bisa mencari nafkah? That’s what gender construction are called.
Atau kita bisa bicara “adil” dari sisi yang lain. Dalam film ini Dara digambarkan sebagai perempuan yang unggul dalam bidang akademis. Nilai ujiannya selalu bagus bahkan sempurna. Dia juga termasuk orang yang bisa dibilang well-panned terutama soal masa depan. Dia udah punya planning untuk ngerealisasiin cita-citanya; ke Korea. Habis lulus SMA dia bakal berusaha buat cari beasiswa untuk bisa kuliah di Korea, sejak masih sekolah dia juga udah nyicil belajar bahasa Korea. Sebaliknya, tokoh Bima digambarkan sebagai laki-laki yang secara akademis nilainya pas-pasan bahkan cenderung kurang karena nilai ujiannya selalu dapat peringkat paling rendah. Dia juga bukan anak yang future oriented, dia masih nggak tau habis lulus SMA nanti akan melakukan apa; kuliah atau kerja. Bima juga nggak dijelaskan punya hobi atau bakat tertentu. Based on that illustration about the character, harusnya Dara dong yang dikasih kesempatan untuk lanjut sekolah, karena Dara yang sebenernya lebih potensial untuk punya pekerjaan yang layak sehingga bisa punya kehidupan yang lebih baik secara finansial. Tapi konstruksi gender membuat Dara nggak punya kesempatan itu.

2.     2. Perempuan dan Tanggungjawab Domestik
Basically kita bisa mengelompokkan pekerjaan (kegiatan) ke dalam tiga jenis yaitu kegiatan produktif, reproduktif (domestik), dan sosial. Kegiatan produktif meliputi berbagai kegiatan yang pada dasarnya menghasilkan uang, lalu kegiatan reproduktif meliputi kegiatan domestik yang tidak menghasilkan uang kaya memasak, membereskan rumah, mencuci pakaian, membeli bahan makanan, mengantar jemput anak sekolah, dan lain-lain, kemudian kegiatan sosial adalah kegiatan bermasyarakat. Konstruksi gender membuat masing-masing jenis kegiatan tersebut ditujukan kepada jenis kelamin tertentu; kegiatan produktif (in other words kegiatan mencari nafkah) tanggung jawab utamanya diberikan ke laki-laki (hal ini juga yang menjadi dasar keputusan pihak sekolah untuk memberikan Bima kesempatan melanjutkan sekolahnya sampai selesai) sedangkan kegiatan domestik sangat identik dengan perempuan karena umumnya tanggung jawabnya memang diberikan ke perempuan secara penuh, bahkan bekerja atau tidak perempuan tetap diwajibkan untuk mengemban tanggung jawab pada kegiatan domestik. Pembagian kerja tersebut didasari atas pengetahuan masyarakat tentang apa yang seharusnya dan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.
“Kamu pikir gampang jadi orang tua? Mama aja gagal!”
Masih pada scene UKS yang fenomenal itulah kalimat tersebut terucap dari mulut seorang ibu sambil diderai air mata. Dilanjutkan dengan, “Kamu mau tanggung jawab kan? Iya kan? Mulai hari ini!” dan kedua orang tua Dara pun meninggalkan ruang UKS.
Lalu seusai sholat berjamaah Ibu Bima bilang, “Kalau bapak tau, ibu tuh sekarang udah malu buat jualan karena ibu tau persis kalau orang satu kampung lagi ngomongin keluarga kita.”
Kemudian adegan Ibu Bima menampar wajah Bima di UKS, adegan melempar ulekan batu di dapur, dan adegan-adegan lainnya. Hal-hal tersebut adalah gambaran nyata dari hancurnya hati seorang ibu. Bukan berarti bapak tidak hancur hatinya, tapi kalau dibandingkan, film ini cenderung memperlihatkan kekecewaan dan kesedihan seorang ibu. Mungkin gak banyak orang yang sadar kalau itu semua ada kaitannya dengan tanggung jawab ibu pada kegiatan domestik. Merawat anak adalah salah satu contoh kegiatan domestik yang tanggung jawabnya diberikan penuh kepada perempuan. Jadi ketika ada masalah yang berkaitan dengan pengasuhan anak, budaya patriarki ini secara nggak langsung akan “menyalahkan” perempuan atau membuat perempuan sendiri merasa bahwa itu adalah kesalahan dia; bentuk kegagalan perempuan dalam menjalankan tanggung jawabnya. Kalau diperhatikan, selama film berlangsung, nggak ada kalimat-kalimat semacam “saya gagal jadi bapak” yang terlontar dari laki-laki. Bandingkan dengan film Keluarga Cemara yang dasar masalahnya adalah soal finansial (dimana dalam konstruksi gender, tanggung jawab mencari nafkah diberikan kepada laki-laki), Abah otomatis langsung merasa gagal sebagai kepala keluarga ketika masalah tersebut menimpanya, dan yang banyak diperlihatkan dalam film adalah kesedihan, kekecewaan, dan keputusasaan si Abah sedangkan tokoh-tokoh perempuan (walaupun sama sedih dan kecewanya) seperti Emak, Euis, dan Ara diperlihatkan lebih legowo dan bisa menerima.

3.     3. Stereotype Maskulin dan Feminin
Waktu Dara sadar kalau sampai saat itu dia belum datang bulan, dia langsung ngajak Bima untuk beli testpack to find out, are we actually in trouble or it’s just a stupid little mistake and we can simply let it go. Merekapun melakukan pengecekan di rumah Dara, nggak lama Dara keluar dari kamar mandi sambil menyodorkan testpack bertandakan dua garis biru ke Bima. Sejak itulah mereka sadar kalau apa yang mereka lakukan sudah melewati batas. Bima pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ibu malah mencurigai Bima menggunakan narkoba, tapi lalu bapak berusaha membela, “Hmm kamu putus sama Dara? Eh, Dara kan namanya?”. Bima pun menangis, meninggalkan meja makan, dan berjalan ke kamar. Nggak lama, bapak menyusul dan berusaha menenangkan Bima (Bima’s Dad doesn’t know the truth yet). Bima yang saat itu masih sedih, merespon kalimat-kalimat bapak, “Tapi Bima salah besar, Pak." Lalu bapak bilang, “Sebesar apa sih salahnya? […] bapak malu ah kalau kamu cengeng gitu.” Kemudian seluruh scene dilanjutkan dengan derai air mata para tokoh perempuan.
Kalimat bapak malu kalau kamu cengeng adalah sebuah penegasan, kalau nangis adalah hal yang memalukan untuk laki-laki, jadi laki-laki tuh nggak boleh nangis atau laki-laki nggak akan nangis. Padahal sejak kapan perasaan atau ekspresi punya jenis kelamin? Dalam konsep gender kita akan mengenal tentang stereotype maskulin dan feminin yang adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya misalnya laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa, tangguh, pemberani, dan sifat-sifat lain yang “maskulin” sedangkan perempuan dianggap lemah lembut, sabar, penyayang, emosional, lemah, dan sifat-sifat lain yang “feminin”. Hal tersebut sebenarnya berpengaruh besar pada perkembangan masing-masing jenis kelamin (baik fisik maupun psikis) sehingga seiring berjalannya waktu baik laki-laki dan perempuan akan tumbuh seperti yang disebutkan oleh masing-masing stereotype. Stereotype adalah salah satu dampak dari konstruksi gender yg cukup detail dibahhas dalam film ini; that’s why pihak sekolah memberhentikan Dara bukan Bima (karena Dara perempuan yang dilekatkan pada sifat-sifat seperti lemah, tidak berdaya, rapuh, dan lain-lain sehingga dianggap tidak akan sangggup untuk melewati situasi yang berat), that’s why Bima yang bekerja di restoran milik Papa Dara (karena laki-laki dianggap kuat, tangguh, dan pemberani untuk melakukan kegiatan-kegiatan di luar rumah sehingga tanggung jawab mencari nafkah diberikan kepada laki-laki), that’s why dari awal sampai akhir film kita melihat hanya perempuan lah yang berurai air mata, laki-laki nggak ada yang sampai menangis, hanya Bima, itupun langsung ditegur sama bapak dan dibilang malu-maluin (karena menangis adalah salah satu contoh yang diidentikkan dengan sifat feminin lalu dilekatkan pada perempuan). Stereotype soal maskulin dan feminin ini lah yang melahirkan banyak ketidakadilan bagi perempuan. Bayangkan ada berapa banyak kesempatan hilang begitu saja hanya karena dia perempuan, lalu ada berapa banyak hal yang dilimpahkan kepada seseorang hanya karena dia perempuan? And it’s still hurts everytime. We fall and we crawl.

One crucial point for all the women out there, yang sekaligus menekankan kalau seks diluar nikah (terutama pada usia dini) emang sebaiknya nggak usah dilakukan, its not only our whole life are changing but so is the body. Dara adalah anak 17 tahun yang hamil karena sebuah keteledoran. Sejak janin itu ada di dalam perut, tubuh Dara berubah; ukuran perutnya nggak lagi rata, pinggulnya membesar, payudaranya pun demikian,  lalu mulai keluar air susu (jujur ini adalah salah satu scene yang bikin aku berlinang air mata; waktu Dara berdiri di pojokan bilik fitting room sambil nangis karena ngelihat ada air susu yang membasahi bagian depan bajunya. Mungkin ini adalah scene yang menggambarkan moment dimana Dara menyadari bahwa all these things are actually happens). Lalu badannya menjadi rentan; gampang lelah, gampang pusing, perut sering kontraksi yang mengakibatkan rasa sakit. Mood Dara juga jadi nggak karuan yang dipengaruhi oleh hormon dan beban psikis “hamil diluar nikah”. Nggak berhenti sampai disitu, selama masa kehamilan, dokter sudah menyampaikan kalau rahim di dalam tubuh Dara sudah beresiko terkena berbagai macam penyakit (gak cuma rahimnya, I guess?). Kemudian ketika bayinya lahir, ternyata rahim Dara mengalami kerusakan yang mengharuskan dokter melakukan proses operasi. Resiko yang dihadapi Dara saat itu adalah pengangkatan rahim bahkan kemungkinan terburuknya adalah meninggal dunia. It’s simply because her body is not ready yet. Sedihnya, laki-laki nggak harus menghadapi resiko-resiko kehamilan itu. Mereka kaya pergi tanpa jejak. Hidupnya seakan-akan nggak berubah; kesempatan pendidikannya tidak hilang, kesempatan mencari pekerjaan juga tidak hilang, tubuhnya tidak mengalami perubahan yang kentara, dan dia tidak dihadapkan dengan resiko-resiko yang berujung kematian. Saat tau Dara harus dioperasi dan beresiko meninggal dunia, Bima sedih bukan main, sambil menandatangani surat operasi, Bima nggak henti menitihkan air mata. Menyesal?
Well, some of you are saying that you are really truly love your partner so freaking much, and why the hell that stupid idea just came into your head and you stupidly try to ask your girlfriend to do that with you? Are you guys realize the damage that you create upon your unhealthy relationship? Please, just think about it before it’s too late.

Kemudian pada dasaranya, film ini dibuat dengan harapan bisa menjadi jembatan pembuka diskusi antara ibu dan anak soal edukasi seks karena sampai saat ini kita tumbuh dengan ketidaktahuan itu. Pada sebuah scene diperlihatkan, waktu Bima & Dara konsultasi, dokter sempat tanya, "Kalian belajar biologi di sekolah?" Keduanya menjawab, "Iya". "Kalo resiko-resiko kehamilan?" Dara & Bima kompak menjawab, "Nggak.......". Ketika ngelakuin hubungan seks, Dara & Bima nggak tau kalau konsekuensi yg mereka hadapi bisa sesulit ini. Lalu dokterpun mulai memberikan penjelasan. Artinya kita gak bisa lagi menghindari edukasi seks atau beranggapan kalau edukasi seks adalah hal tabu, sebagian orang mungkin berpendapat, nggak usah dibahas aja deh sekalian biar nggak punya bayangan dan nggak bakal terjerumus, padahal kenyataannya, ada lebih banyak orang yang terjerumus justru karena mereka nggak tahu.

And, oh! About the ending, I just like it a lot, like for real. Pada awalnya keputusan Mama Dara tetap bulat, bayi yang dikandung Dara harus diberikan ke Tante Lia dan Om Adi (besides orangtua Dara nggak yakin kalau Dara bisa mengurus bayi) supaya Dara bisa tetap fokus melanjutkan pendidikannya ke Korea tanpa dibebani soal anak. Dara tidak punya pilihan lain, dia juga masih ingin ke Korea. Kemudian Dara berusaha meyakinkan Bima kalau ini adalah jalan keluar yang paling baik, Bima tetap nggak setuju bahkan pada detik-detik terakhir ketika mereka bertemu dengan keluarga Om Adi. Proses persalinanpun berlangsung, Dara ditemani Bima dan Mama selama meregang nyawa untuk melahirkan Adam. Beberapa detik setelah bayinya lahir, akhirnya Dara berbisik kalau jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Dara ingin bayinya dirawat oleh keluarga Bima, nggak hanya karena Bima adalah ayah dari bayi tersebut, tapi Dara ingin ada sedikit “Dara” yang menemani Adam selama growing up dan Bima adalah separuh Dara. Kemudian film ditutup dengan adegan Dara memberikan bayinya ke Bima tepat di depan pintu rumah sakit sambil berpamitan. Dara dan mama memasuki mobil dan pergi meninggalkan Bima, Adam, dan segala kenangan itu.
Menarik, cerita ini menawarkan pilihan jalan keluar yang out of the box sekaligus menyadarkan kita kalau hey, ini tuh cuma cerita fiksi ya, karena kenyataannya nggak banyak keluarga yang memilih jalan tersebut. While the others give the responsible of raising a baby to the woman, Dara decides to give it to Bima. Dan Dara memilih untuk melanjutkan hidupnya, menggapai apa yang sudah dia cita-citakan sejak lama. Keputusan itu adalah cara yang dipilih film Dua Garis Biru untuk menjelaskan what it’s called “feminism”, karena perempuan juga berhak dapat kesempatan yang sama dengan laki-laki bagaimanapun keadaannya. Disamping itu, ending tersebut juga punya nilai support system yang baik terutama untuk perempuan yang mungkin pernah atau sedang mengalami hal seperti Dara; dunia kamu emang berubah tapi nggak berakhir lho, you still have a chance to be the better version of yourself. Disisi lain, scene ending Dua Garis Biru juga mengingatkan kita kalau semua yang udah terjadi adalah kesalah berdua dan harus ditanggung berdua. Kita nggak bisa menyalahkan dan membebani perempuan terus-menerus. Berhenti untuk bilang karena dia perempuan dia harus merawat anak, because it’s not only her job but us (both man and woman).

Jadi itu guys pentingnya sex education, untuk menghighlight hal-hal yang missed out karena ketidaktahuan kita, jadi kita bisa mengantisipasiThe last thing, semoga tulisan ini bisa memperlihatkan kalau pandangan atau pengetahuan gender juga penting untuk dipelajari karena dapat membantu perempuan untuk bisa melihat secara sadar dampak-dampak apa saja yang akan kita hadapi (culturally & socially) sebagai perempuan.



Nonton film Dua Garis Biru rasanya kaya ditampar. Harusnya kita lebih banyak saling bicara, ya?
***
Terakhir! For the very personal reason, here’s one of the scene, especially the dialogue, that make the tears falls upon my skin (again).
Sesaat setelah Dara menuruni tangga dan meluapkan kekesalannya kepada Mama atas sebuah keputusan secara sepihak soal penyerahan bayi yang dikandung Dara kepada Tante Lia dan Om Adi.
“Jadi orang tua itu bukan cuma hamil 9 bulan 10 hari, itu pekerjaan seumur hidup!”
“Oh ya? Terus kenapa Mama kemarin ninggalin Dara?”

Aduh, perasaan ditinggalinnya itu lho beb yang nyata.

Minggu, 11 Juni 2017

Mark My Words






SAHUR.... SAHUR....

Sejak kuliah (which is sejak tinggal jauh dengan orang tua) aku ngerasa jadi orang yang lebih sensitive. Segala hal bakal terlihat sedih kl ada hubungannya sama keluarga, specifically, orang tua.

Dan waktu ngeliat video ini.....

Nggak tau ya, is it happen to you or not, but I literally dropped my tears tepat di menit ke 1.51 waktu moderatornya bilang “Lepaskan satu balon jika kamu ingin ajak orangtua melakukan perjalanan rohani.”

Kemellowan pun dimulai.

Guys, have you ever think bahwa selama hidup ini ternyata kita sering banget mendahulukan sesuatu yang nggak penting (terutama buat anak-anak seumuran aku misalnya. I mean, ME, MYSELF). Tanpa sadar kita suka lebih milih buat jalan-jalan sama temen di banding kumpul bareng keluarga, soalnya suka dibilang "yailah, kaya anak kecil aja nggak boleh keluar-keluar" atau disebut "anak mami", "anak papi" LAH PADAHAL MAH EMANG IYA KAN? Atau misalnya kita lebih suka ngurung diri di kamar buat nonton tv series atau main games online seharian, sibuk buka bersama di luar sambil reunian, atau bahkan some of you are ngebela-belain nabung buat kasih kado ke pacar tapi giliran ke keluarga sendiri cuma mampu ngasih kata selamat. So pathetic!

Dan seperti cerita di dalam video tersebut,
Balon yang satu per satu ditukar dengan begitu banyak keinginan.
Mereka memilih untuk melepaskannya lagi, lagi, dan lagi...
Tanpa menyadari bahwa masih banyak keinginan yang belum didapat

And sad to know bahwa ternyata keinginan lain yang belum kita dapat adalah...

Lepaskan satu balon jika kamu ingin berikan pendidikan terbaik untuk anak
Lepaskan satu balon jika kamu ingin ajak orangtua melakukan perjalanan rohani

Tanpa pernah kita sadari bahwa ada begitu banyak balon yang kita lepasin cuma buat haha-hihi bareng temen-temen atau kesenang-kesenangan lain yang sifatnya pribadi. Tanpa pernah kita berpikir sedetik aja, kalo sebenarnya balon itu bisa kita jaga buat kita terbangin ketika ada keinginan yang lebih penting. Terutama kalo menyangkut seseorang yang selalu menganggap kita istimewa, segalanya, separuh jiwanya. Orang tua.  Akhirnya apa, yang keluar dari mulut kita adalah kalimat-kalimat, "Coba aja kalo...", "Yah, andaikan...", dan "Ya ampun, harusnya tadi..." atau ekspresi-ekspresi kekecewaan lainnya seperti cemberut, nangis, dan lain-lain.
At the end, kita cuma bisa menyesal.

Well, the more I grow, the more I learn bahwa kita gak akan pernah tau berapa banyak sih balon yang kita punya dan harus kita pegang erat-erat biar gak kita lepasin gitu aja. Then mark my words: you sud start to ask your self, ada berapa sisa balon yang bisa aku tuker untuk bikin orangtuaku bahagia? Sepuluh? Lima? Dua? Atau Satu? Jangan sampai kita nyesel karena kita baru sadar kalo semua balon yang kita punya udah kita lepasin buat sesuatu yang ..................................

Papa selalu bilang,
“Bikin orang tua bahagia itu nggak harus nunggu sukses, nunggu tua, atau nunggu hal-hal lain. Lakukan secepatnya sebisa kamu, dengan hal-hal sederhana, sebelum semuanya terasa terlambat.”

Thats the point.
Karena kita gak akan pernah tau apa yang bakal terjadi besok.
Sampai kapan kita bisa melihat mereka.
Sampai kapan kita bisa berusaha untuk bikin mereka tersenyum.
Dan sampai kapan kita bakal sadar dan mulai untuk memprioritaskan mereka di dalam hidup kita. Karena itu yang udah mereka lakuin sejak kita lahir dan akan terus mereka lakuin for the rest of their live. I am one hundred percent sure, kalo semua orang tua di dunia bahkan akan menggenggam balonnya erat-erat biar gak lepas, supaya semua balonnya bisa ia tukar untuk kasih yang terbaik buat bikin anaknya bahagia. Walaupun artinya ada yang harus mereka korbankan, seperti hal-hal yang disebutin divideo itu; keinginan buat ngopi bareng temen, solo traveling buat refreshing, bahkan nabung buat urusan-urusan pribadi mereka.


That’s what I feel.

Makanya kakak bakal selalu berusaha buat bikin mama sama papa (dan naufal) bahagia,
malaikat-malaikatku yang tanpa sayap.
***

But wait!
Itu kalau videonya disangkutin sama hal yang sifatnya duniawi.

Sekarang,
anggaplah balon-balon itu adalah lima waktu sholat yang kita punya dalam sehari.
Terus, udah berapa balon yang kita lepaskan begitu saja hanya untuk menyelesaikan urusan-urusan duniawi yang sifatnya sementara?
Padahal kita udah tau dari awal, kalo sholat lima waktu tuh hadiahnya surga loh!*

Semoga Ramadhan kali ini bisa bikin kita jadi orang yang lebih baik lagi
Amin.

*nb: Pantes kan sholat lima waktu tuh susah, karena hadiahnya surga cuy. Coba kl gampang, hadiahnya kulkas kali atau kipas angin 😛



Minggu, 21 Agustus 2016

A Dreamer


Yes, I am.

Aberdeen, 14 Juli 2016
01:35
Its midnight and I miss you so bad.


Aku pernah bermimpi,

Untuk bisa menuliskan satu saja cerita tentang negeri orang lain,

Untuk bisa melantunkan nada-nada dari sebuah piano di tempat yang jauh sekali dari rumah,

Untuk bisa menampilkan dan menyaksikan sebuah film yang aku buat sendiri di belahan dunia yang lain,

and my parents believe that I can reach that stars with my knowledge, and I really do, Mom, Dad!


Mah, Pah, as you know, menjalani hidup di tiga tahun belakangan ini tuh nggak mudah. Terutama moment-moment dimana kakak cuma bisa nangis karena PTN-PTN itu masih aja bilang maaf bahkan di tahun kedua kakak mencoba. But you never leave me alone, that’s why I fight for. Sampai sebuah kesempatan besar itu tiba dan tanpa diduga ternyata bisa mengantarkan kakak hari ini ke sini, ke Aberdeen, Scotland, UK, bahkan di tahun kedua kakak kuliah di Undip. Its such a dream come true! And its still hard for me to believe!

Mah, Pah, ternyata kita bisa berada sejauh ini sekarang, beribu-ribu kali lipat dari jaraknya Bandung – Semarang. Biasanya kita cuma beda waktu adzan, tapi sekarang sampai beda jam tidur. Biasanya kita cuma beda tiga sampai lima derajat, sekarang kita malah beda musim. Biasanya kakak jam segini udah tidur, tapi sekarang nggak. Sayang, lusa kakak udah gak di Aberdeen lagi, puas-puasin ah hirup udara UK hehe karena kakak belum tau, kapan bisa balik lagi.


Mah, Pah, kemarin kakak presentasi disebuah konverensi internasional. Ini bener-bener pertamakalinya kakak ngomong bahasa inggris di depan orang banyak. Rasanya deg-degan banget. Tangan kakak sampai dingin. Kaki kakak selalu kakak goyang-goyangin karena gugup. And im breathing like im running. Tapi ternyata kakak bisa. Alhamdulillah, berkat doa mama dan papa, presentasi hari itu berjalan lancar. Sayang, mama sama papa gak disini untuk lihat kakak secara langsung. Dan tau nggak, setelahnya, banyak lho orang yang berjalan mendekat dan memberi selamat sama kakak. Katanya, “This is the good beginning.” Kakak seneng banget bisa dapet respon positif in my first outing to an international conference. Dan, oh, kakak selalu dikira lagi ambil S2 atau S3 hahaha kakak cuma bisa bilang amin. But, wait, am I looks that old? 

Mah, Pah, ternyata video dokumentasi yang kakak buat diputer di IIFET18th Biennial International Conference 2016. Tepat di hari yang sama, satu sesi setelah kakak presentasi. Beberapa jam sebelum kakak maju, Miss Meryl bilang kalau ada satu peserta yang nggak bisa hadir, jadi jatah waktunya akan dipakai untuk menayangkan video berdurasi 8 menit 48 detik yang kakak buat sampai gak tidur itu. Its beyond my expectation. Kakak melihat muka-muka antusias penonton ketika menyaksikan apa yang coba kakak suguhkan disetiap menitnya dalam video tersebut. Apa lagi ketika videonya selesai diputar sambil diiringi tepuk tangan, kakak bisa dengan jelas melihat bagaimana orang-orang menghargai karya kakak yang sebenernya nggak ada apa-apanya. Hhhhhh, gini ternyata rasanya jadi Hanung Brahmantyo. Terbayar sudah lelahnya begadang kakak waktu itu.

Mah, Pah, pagi ini kakak dapet satu kejutan lagi. Pada plenary session, tiba-tiba kakak mendengar nama kakak disebut. Iya, Zahrah Izzaturrahim disebut dari atas podium di sebuah ruangan besar seperti bioskop dengan puluhan orang yang datang. Ternyata kakak dapat award! It’s a “Highly Commended in the Rosemary Firth Competition for Presentations on the Economics of Gender in Fisheries. Selain karena menjadi satu-satunya peserta yang paling muda kemarin, katanya ini juga merupakan bentuk penghargaan dari IIFET atas usaha dan kemauan kakak. Kakak udah sangat bersyukur karena dikasih kesempatan untuk bisa datang ke sini, tapi Allah kasih kakak lebih dengan award ini. God never fails to please me, Alhamdulillah.


Mah, Pah, ternyata kakak nggak cuma ke Aberdeen aja. Pak Dedi ajak kakak mampir ke Amsterdam, AMSTERDAM, mah! Kota yang juga pernah mama kunjungi di tahun 2003. Dulu kakak sampai nangis karena mama pergi, kakak pengen ikut. Akhirnya, sekarang kakak bisa kesini dan melihat apa yang pernah mama lihat. Seru ya ternyata. Coba aja kita bisa pergi ke sini sama-sama. Jalan-jalan di tengah kota, makan ice cream, foto-foto, belanja, dan hunting pernak-pernik lucu untuk melengkapi art journal atau scrapbook kita! Eh iya, disini juga banyak makanan dan rempah-rempah indonesianya, pah. Jadi kalau ke sini, papa nggak usah khawatir soal makanan. Dan, dek, asal kamu tau, setiap kakak makan sesuatu di sini, setelah gigitan pertama, kakak selalu bilang, “Naufal, kamu pasti suka ini” dalam hati. Ternyata setiap sudut di kota ini selalu mengingatkan kakak sama kalian semua, so I feel that we never far apart.

Mah, Pah, satu lagi. Dulu kakak ogah-ogahan les piano. Sampai pernah minta berhenti karena udah bosen dan males baca-baca not balok setiap hari. Tapi mama pernah bilang, setiap kakak main piano klasik mama selalu merem, you always try to feel it with your heart, dan ngebayangin kalo itu dilantunkan pada konser internasional di negara lain. Dan itu kesampean, mah! Walaupun bukan di konser internasional bahkan bukan di acara apa pun. Jadi, dihari terakhir kakak di Amserdam, kakak terbangun pagi-pagi karena mendengar suara piano. Kakak kira kakak cuma salah denger. Ternyata nggak salah, Tante Ratih memang punya piano di rumah. Dan beberapa jam sebelum kakak pergi ke airport untuk pulang ke tanah air, kakak coba mainin lagu Canon in D dan Sonata No. 16 in C Major K 545-1(Allegro) di rumah Tante Ratih. Hahaha akhirnya kesampean juga main piano di luar negri. Mission accomplished! :D

Oh, iya…

Mah, Pah, mahasiswa-mahasiswa yang lagi kuliah di Aberdeen mendoakan kakak supaya bisa kuliah di sini or at least bisa balik lagi ke sini. Nggak cuma itu, orang-orang yang kakak temui di Belanda juga berulang kali bilang ke kakak kalau kakak harus balik lagi ke Belanda, supaya bisa ketemu mereka lagi. Apa lagi waktu ke Wageningen University, kakak dikira lagi lihat-lihat kampus karena mau kuliah di sana. Bahkan orang yang baru kakak kenal pun ikut berdoa supaya impian kakak jadi kenyataan. Semesta mendukung, mah, pah. Amin yaa. Semoga Allah belum tidur jam segini :-).
***
Mah, Pah, honestly, kakak pernah sedih banget waktu kakek malah seneng karena kakak nggak keterima di UGM. "Yaudahlah bagus. Kuliah mah di Bandung aja." katanya, dengan muka yang sumringah. Tapi belakangan kakak baru tahu, ternyata kakek cuma belum siap berada jauh dengan cucuk pertamanya ini. Kakek bilang sama kakak kalau kakek takut kakak jadi nakal, lupa sholat, nggak ngaji, dan melakukan hal-hal aneh. Makanya kakek pengen kakak ada di Bandung aja, sama kakek, biar dekat. Tapi ternyata kakak keterima di Undip. Dan kakek bener-bener was-was kakak kuliah di luar kota. Kakek juga sempat ragu sama jurusan yang kakak ambil. Nggak berhenti sampe situ, kakak juga pernah menahan air mata waktu kakek bilang, “Mama papa kamu pinter. Satunya S2, satunya lagi insinyur. Masa kamu nggak!”. Rasanya sedih banget, karena waktu itu posisinya kakak belum kuliah dimanapun, kakak masih dalam proses berjuang. Tapi memang nggak mudah menjadi anak kalian, because you two are soooo adorable. Then there’s no choice, kakak hanya harus membuktikan sesuatu sama kakek. Dan kemarin kakak seneng banget waktu tau kalau kakek sama nenek bangga karena cucuknya bakal presentasi di international conference di Eropa. Bahkan lucunya mereka sampai sengaja menyisihkan uang untuk jajan kakak di sini, katanya. Nenek juga sampai maksa untuk ikut anter ke bandara padahal kondisi badannya suka nggak fit kalau bepergian. Selain mama dan papa, kakek adalah satu-satunya orang yang kakak sms setiap kakak transit atau pas sampai di Aberdeen atau di Amsterdam. Karena kakak tau, kalau kakak balik ke Semarang pun, kakek suka ikutan khawatir nunggu kabar dari kakak, udah sampai atau belum. Dan sepulang dari perjalanan kemarin, terlihat dari raut wajahnya bahwa sudah tidak ada hal yang perlu ia khawatirkan lagi pada cucuknya. Kakak sudah besar, sudah bisa jadi contoh buat cucuk-cucuk kakek yang lain.

Mah, Pah, waktu lagi di Cianjur kakak cerita banyak hal sama ABG yang lagi galau pilih jurusan dan universitas. Pas makan siang, kakek bilang sama Alya dan Ica, “Tuh, lihat, kakak aja yang kuliah di Undip bisa pergi ke Eropa. Hebat. Kuliah mah dimana saja, yang penting harus sungguh-sungguh!” Kakek bangga, mah, sama kakak. Kakak bahkan pengen nangis waktu denger kakek ngomong gitu.

Perasaan nangis terus…..

Iya, emang cengeng.
***
Mah, Pah, sampai sekarang pun kakak masih nggak percaya kalau ada beberapa mimpi kakak yang udah kakak capai. Dari mulai mimpi-mimpi kecil di birthday wishes list sampai mimpi-mimpi yang ketika ditulis pun kakak nggak tau itu bisa jadi kenyataan atau nggak. Walaupun dulu juga rasanya nggak mungkin kakak bisa pergi ke luar negri, bahkan ke negara-negera yang dekat sekali pun. Eh, taunya pertama kali pergi langsung ke Eropa. Ternyata bener yaa, Allah tuh nggak pernah tidur, Allah selalu denger doa-doa kakak, bahkan untuk mimpi-mimpi yang kakak sendiri aja ragu bisa tercapai atau nggak.

Mah, Pah, sekarang kakak udah punya banyak mimpi-mimpi baru. Kali ini kakak yakin pada diri sendiri bahwa dalam beberapa tahun ke depan kerja keras kakak bakal bikin mimpi yang baru ini jadi kenyataan because i do believe that with all the hard work, there’s no wall between you and your dreams.

Mah, Pah, pada sebuah postingan berjudul Malaikat Tanpa Sayap kakak pernah bilang kalau, “...kakak bakal buktiin sama kalian, gak ada yang sia-sia episode dua”. Then here you go! Memang nggak akan pernah ada yang sia-sia, everything happened for a reason. Dan pengalaman-pengalaman pahit kemarin itu, ternyata bukan kegagalan, tapi Allah yang selalu punya renacana lain. Dan ini adalah rencana paling indah yang pernah kakak alami, so far. Then I'll remember, if Allah is making me wait, I have to be prepared to receive more than what I asked for.

Mah, Pah, kakak nggak tau,

am I make you proud?

Kakak melakukan ini semua untuk kakak, bukan untuk kalian (seperti yang selalu kalian bilang, raih mimpi-mimpimu untuk dirimu sendiri, bukan untuk mama dan papa, kami hanya akan mendukung). Tapi kalian adalah satu-satunya alasan kenapa kakak akan terus berusaha untuk meraih impian-impian besar kakak. Karena kakak tau, ada dua orang di dunia ini yang akan sangat bahagia ketika melihat kakak bahagia.

Mah, Pah, kakak bersyukur karena Allah telah menitipkan kakak sama orang tua seperti kalian.

Malaikat-malaikatku yang tanpa sayap.

Kakak sayang mama, mama, mama, dan papa :-).














P.S: Nggak ada yang salah sama mimpi. Ketika kita benar-benar bisa mewujudkannya, orang yang mencemooh bisa apa?

Kamis, 29 Januari 2015

Kalau Jodoh Nggak Kemana


Ada seekor Penguin jantan sedang terpaku menatap seekor Penguin betina, baginya sang betina memiliki pesona yang membuat hatinya bergetar, yang membuat jantungnya berdebar-debar, yang membuat hidupnya menjadi semakin bersemangat. Sang Penguin jantan jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya layaknya seorang manusia, kepada sang betina si pujaan hati. Dihari pertama mereka bertemu, sang betina hanya mencuri-curi pandang terhadap segala hal yang dilakukan sang jantan, ia masih menimbang-nimbang, apa kah bersamanya akan kuhabiskan seluruh sisa hidupku? Lalu sang betina berjalan menjauh sambil mengunyah ikan segar dalam mulutnya, namun dari balik tumpukan salju yang itu dia masih terus mengamati sang jantan.

Dari sekian banyak Pinguin yang melenggang dihadapan mata, hanya satu yang mampu memikat hati sang jantan. Dia. Dihari pertama mereka bertemu, sang jantan sudah bergumam dalam hati, aku akan menghabiskan sisa hidupku bersamanya, she is the only one in my life. Maka disetiap harinya, sang jantan selalu berusaha untuk membuat sang betina tertarik pada dirinya. Hingga hari itu tiba, hari dimana kegiatan bermigrasi para Penguin harus dilakukan, hari dimana mereka akan berpisah dan ntah akankah bertemu lagi atau tidak. Jalan mereka tidak beriringan, sang jantan melepas kepergian sang betina, namun ia selalu menunggu, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.

Dalam perjalanannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sang betina merasa ada sesuatu yang hilang. Raganya terasa hampa, hari-harinya semakin kosong. Ia kehilangan. Hari demi hari yang pernah ia lewati bersama sang jantan ternyata begitu membekas, membuat ia tidak bisa berhenti memikirkannya, membuat ia ingin kembali lagi ke sana, membuat ia merasakan apa yang pernah sang jantan rasakan. Cinta.

Setelah dipisahkan oleh jarak yang tidak diketahui oleh keduanya, mereka bertemu lagi. Dipinggir gundukan salju yang baru saja turun tadi pagi. Didepan lautan yang dilapisi es-es yang rapuh jika digunakan untuk berpijak. Hari itu mereka bertemu lagi, dibawah sinar matahari yang malu-malu muncul dibalik awan, dibawah langit yang seolah-olah seperti musim panas, cerah, terik, berbahagia, dan bersemangat. Hari itu mereka bertemu lagi, ketika semesta hanya ingin melihat keduanya saling melengkapi.

Ketika bertemu, sang jantan menengadahkan kepalanya ke belekang lalu diikuti oleh sang betina. Lalu keduanya mengepakkan sayapnya berkali-kali dengan penuh semangat. Penguin yang lain melirik sebentar, ada bahagia, gumam mereka. Lalu sang jantan bernyanyi sekencang-kencangnya. They looks like want to show to da world how happy they are when they found each other. A true love is never end, it's totally work for the Penguin.

-

Ketika Penguin jatuh cinta, ia dan pasangannya akan berjodoh seumur hidup. Jarak yang memisahkan keduanya dalam waktu yang relatif lama tidak mengurangi perasaan mereka terhadap sesama.
Ketika Penguin jatuh cinta, mereka akan saling menemukan satu sama lain. Pasti.

-

Untuk kamu, perempuan-perempuan yang kemarin menangis karena patah hati, sudahilah sedihmu mulai malam ini. Mungkin, mantan pacarmu itu pergi karena punya siklus bermigrasi juga seperti Penguin, mungkin makanan di lingkungannya kurang sehingga ia harus pindah ke tempat lain supaya bisa bertahan hidup. Bersamamu, ia selalu merasa ada yang kurang, kurang, kurang, hingga ia merasa ada sesuatu yang harus ia cari diluar sana. Biarkan dia pergi untuk mencari, hingga ia sadar bahwa ia hanya butuh jeda dalam cerita cinta kalian yang panjang. Berhenti untuk menyalahi diri sendiri atas kepergiannya, kamu nggak sepenuhnya salah dalam sebuah hubungan. Biarkan ia bermigrasi, hingga ia sadar bahwa nyatanya dia selalu mencoba mencari kekamuan dalam diri orang lain. Lalu dia akan kembali lagi kepadamu, karena ia tahu bahwa tidak akan pernah ada yang sepertimu. Karena kamu hanya satu. Satu.

Tapi, untuk kamu yang tidak menemukan ia kembali lagi padamu, mungkin ini waktunya kamu bermigrasi? Menjelajah hingga akhirnya kamu menemukan seseorang yang setiap harinya tidak pernah lelah berusaha membuatmu tertarik. Percayalah, kamu akan menemukan sebuah perjuangan pada diri yang lain. Perjuangan dari seseorang yang akan menjalani sisa hidupnya sama kamu, bukan dari orang yang meninggalkan kamu kemarin karena alasan-alasan yang mengada-ada.

Dan,
untuk aku yang selama ini terlalu dalam mencintai seseorang, sudahlah, biarkan kemarin menjadi sebuah cerita yang akan membumbui kenangan-kenanganmu. Biarkan dia menjadi bagian dari ceritamu yang paling kamu suka. Biarkan hatimu bahagia lagi, terbuka, lalu yang tepat akan datang mendekat. Seperti sepasang Penguin yang akan saling menemukan satu sama lain. Biarkan ia pergi untuk suatu hari kembali lagi bersamamu. Atau kalau tidak, biarkan dia menemukan kamu yang lain yang ia temui sebelum kamu, lalu kamu akan ditemukan dengan dia yang lain yang mungkin pernah kamu abaikan kemarin sore.

-

Percayalah, zah, dunia akan baik-baik saja ketika kamu memutuskan untuk berhenti membuang-buang waktumu dengan mencintai seseorang yang sudah kadaluarsa.

Ikhlaslah, memangnya kamu tidak lelah?

Kamis, 13 November 2014

Malaikat Tanpa Sayap

Selalu nangis tiap denger atau nyanyiin lagu Malaikat Juga Tahu-nya Dewi Lestari. Bukan. Bukan karena suara gue rebek banget sampe sedih dengernya, tapi karena menurut gue, setiap kata yang dipilih oleh sang penulis punya makna yang sebegitu dalamnya.

Awalnya memang nggak ngerti-ngerti banget sama lagu ini, karena lagu ini muncul kalo gak salah pas jaman smp, dimana gue juga nggak ngerti-ngerti banget sama yang namanya cinta. Ditambah video klipnya juga menceritakan patah hatinya seseorang yang diasble karena someone he lovesnya falling in love sama kakaknya sendiri. Kalo gak salah sih gitu.

Tapi mulai kesentuh semenjak lagu ini jadi soundtrack filmnya Malaikat Tanpa Sayap. Ini adalah salah satu dari setumpuk film Indonesia yang wajib ditonton. Highly recomended! Film ini mengantarkan gue--yang waktu itu masih kelas satu SMA atau kelas dua--kepada makna dari setiap kata yang Dee tulis di lagu tersebut dengan cakupan yang lebih luas.

That love is not always about him.

Karena menurut film itu, cinta adalah rela berkoban. Untuk siapa dan kepada siapa? Just watching that movie.

Well, mulai sesenggukan pas denger lagu itu tuh yaa setahun kemarin. Waktu harus selalu baca kata Maaf dari setiap universitas negri di Indonesia. Waktu gue gak tau lagi harus kaya gimana menyikapi kegagalan yang cukup membuat anak SMA yang baru lulus ini desperate. Waktu gue harus pasrah, sabar, dan ikhlas karena gak bisa langsung kuliah kaya temen-temen yang lain. Waktu gue nganggur. Waktu gue menghabiskan waktu setahun gue itu dengan bimbel setiap hari.

Waktu papa rela tiap pagi telat masuk kantor karena harus nganter anaknya bimbel, biar gak kesiangan. Gak lupa kasih uang, ngingetin makan, dan ngejemput juga kalau anaknya harus pulang lewat jam tujuh malam karena ada kepentingan lain. Padahal semenjak punya sim, gue bawa motor sendiri. Tapi papa selalu menyempatkan waktu buat jemput kalo gue pulang malam biar seenggaknya gue aman sampai rumah.

Waktu mama rela menyisihkan sepersekian jamnya yang sibuk buat nemenin gue les bahasa inggris sore-sore. Kakek pernah protes, kenapa anak segede gini masih dianter-anter les? Mama jawab, bahaya, Pak. Dia baru keluar kelas jam tujuh, belum dia sholat dan lain-lain. Paling baru bisa pulang dari tempat les jam delapanan. Di bandungnya memang masih rame, tapi jalanan deket rumah udah sepi. 

Pada waktu-waktu seperti itu, dimana gue malem-malem pulang les ngebonceng mama, atau bawa motor tepat dibelakang motor papa, lagunya Dee suka kebayang-bayang dan selalu bikin nangis. Lelahmu, jadi lelahku juga. Bahagiamu, bahagiaku pasti. Yang namanya mama dan papa will always doing anything for me. Huft, there's nothing can dirscribe how much i love you right now.

Seperti katanya Dee, ada cinta yang nyata setia hadir setiap hari. Tak tega biarkan kau sendiri, meski sering kali kau malah asyik sendiri.

Dan Alhamdulillah lelahnya mereka menemani gue setahun kemarin enggak sia-sia.

Ma, Pa, sekarang kita jauh ya.
Kakak sendirian. Sedih sih. Cuma kan Allah udah kasih dua pilihan terbaik sama kakak kemarin, dan kakak memutuskan untuk ada di sini sekarang. Walau jadi jauh sama kalian semua, insya allah kakak bakal buktiin sama kalian, gak ada yang sia-sia episode dua. Bahwa memang keputusan kakak ini bakal ngedeketin kakak sama cita-cita kakak.

Ma, Pa, sekarang anaknya udah besar. Udah bisa ditinggal buat hidup sendirian. Masak sendiri, nyuci baju, nyuci piring. Sekarang kakak juga udah bisa ganti galon sendiri, bersihin bak, nyuci motor. Belum lagi sukses begadang dan bangun pagi setiap hari bermodalkan alarm.

Ma, Pa, have u ever imagine that we can be separated as far as today? Bahwa akhirnya, setelah delapan belas tahun hidup satu atap, mama sama papa bakal ngelepas anaknya pergi sejauh ini. Bahwa akhirnya, gadis kecil yang dulu menggenggam erat telunjuk kalian saat berjalan sekarang sudah bisa menentukan sendiri apa yang akan dia jalani.

Ma, Pa, kakak kangeeeen banget sama kalian. Pengen rasanya denger suara kalian tiap hari. Tapi kakak takut nangis hahaha kalo kakak nangis, nanti mama sama papa di sana juga ikut sedih. Jarak udah cukup bikin kita sama-sama sedih dan ngerasa kehilangan, kakak gamau ada hal lain yang bikin kita makin sedih dan makin ngerasa kehilangan.

Ma, Pa, semangat yaa kerjanya. Jangan lupa makan dan istirahat biar sehat dan bahagia. Jangan galak-galak sama Naufal (padahal kk tau mama sama papa emang gak pernah galak). Kakak bersyukur karena Allah menitipkan kakak sama orang tua seperti kalian, malaikat-malaikatku yang tanpa sayap. Sampai ketemu tahun depan. I do love you unconditionally ♥♥♡♡. 

Sabtu, 01 Maret 2014

Harusnya Cinta

Harusnya cinta punya harga, supaya hanya yang mampu saja yang bisa merasakan.

Harusnya cinta punya syarat, supaya hanya yang doyan makan ati aja yang bisa merasakan.

Harusnya cinta punya mulut, supaya bisa bilang siapa saja yang boleh merasakan.

Harusnya cinta ini bukan buat kamu,

karena lebih baik aku berdiri sendiri daripada bertukar cinta bersama orang yang salah.

Harusnya ini bukan cinta.

Ini luka.

Perih.

Sabtu, 22 Februari 2014

Clarity

Waktu itu kamu yng putus asa. Aku di sana.

Kamu:  Gak tau zah, i'm hopeless
Aku: Ini sudah H-1. Masa baru hopeless sekarang. Telat. Sekarang waktunya istirahat biar besok lancar ujiannya
Kamu: Tapi.... Ah udahlah hopeless banget. Aku gpp deh nganggur setahun. Malu sih, cuma gpplah, ada kok temen smp aku juga yang gak akan kuliah tahun ini.

Beberapa jam sebelum ujian dimulai.

Aku: Heh! Semangat ya. Berdoa semoga kita dikasih hasil yang paling baik.
Kamu: Amin. Kamu juga ya :-)

Hari yang dinantipun tiba. Pengumuman.

Kamu: Zah, aku lolos. Kamu gimana?

Aku diam sebentar.

Aku: unfortunetely not 

Saat ini aku yang gagal.

Hari demi hari aku jalani. Sendirian. Ternyata kamu gak di sini. Sibuk. Ntah dengan dunia yang mana. Dulu, kamu yang bilang, malu kalau nganggur setahun. Sekarang aku yang ngaggur setahun. Terus kamu pergi beriringan. Kamu malu sama aku yang gagal?

Rasanya banyak yang hilang,
ini lebih menyakitkan dari sekian banyak hal yang pernah kamu ketahui.
Kamu nggak disini, ketika aku benar-benar terjatuh.

Cause you are the piece of me, i wish i didn't need!
if our love is tragedy why are you my remedy?
Uploaded on this web.

Rabu, 19 Februari 2014

Waktu Kamu Pergi

Aku melihat, pada sebuah kursi dibawah rindangnya pohon di tengah taman, kamu duduk. Bukan bersamaku.
Aku melihat, di sebuah cafe penyaji kopi terbaik yang terkenal di kota, kamu menyeruput habis minumanmu dalam gelas. Tapi bukan bersamaku.
Aku melihat, di depan danau hijau yang dipagari alang-alang panjang, kamu tersenyum. Lagi-lagi bukan karena aku.
Lalu aku melihat, di bawah taburan bintang malam dengan ribuan orang disekitar yang basah karena diguyur rintikan hujan, kamu bahagia. Dan itu bukan karena aku.

Harimu sudah tidak bersamaku lagi.
Kamu yang sekarang sudah bukan bagian dari aku lagi.
Kamu sudah benar-benar pergi.
Tapi aku?

Yang sulit bukan menerima kepergianmu saat itu,
tapi yang sulit adalah melihat kebersamaanmu bersama yang lain saat ini.

You said, "move on". Where do i go?
Uploaded on this web.